Breaking

Bukber dan Budaya Konsumtif Ramadan, Tradisi atau Kompetisi Sosial Terselubung?

Ahnaf muafa

20 February 2026

Bukber dan Budaya Konsumtif Ramadan, Tradisi atau Kompetisi Sosial Terselubung?
Infomalangcom - Ramadan selalu menghadirkan suasana khas: waktu melambat, ritme makan berubah, dan undangan buka bersama berdatangan tanpa jeda.

Infomalangcom – Ramadan selalu menghadirkan suasana khas: waktu melambat, ritme makan berubah, dan undangan buka bersama berdatangan tanpa jeda.

Di Indonesia, bukber bukan sekadar agenda makan setelah azan magrib, melainkan fenomena sosial tahunan yang melibatkan emosi, relasi, dan tidak jarang, pengeluaran yang meningkat.

Pertanyaannya sederhana namun mengusik: apakah kita masih mengendalikan tradisi itu, atau justru tradisi itu yang mengendalikan kita?

Apa Itu Bukber dan Mengapa Selalu Ramai Saat Ramadan?

Buka bersama dalam konteks budaya Indonesia adalah aktivitas berbuka puasa secara kolektif, baik bersama keluarga, teman sekolah, rekan kerja, maupun komunitas.

Tradisi ini berkembang dari praktik iftar yang secara global dikenal sebagai momen makan bersama saat Ramadan. Dalam masyarakat Indonesia yang menjunjung silaturahmi, bukber menjadi sarana mempererat relasi sosial.

Sejumlah kajian tentang tradisi Ramadan di Indonesia menunjukkan bahwa bulan puasa sering menjadi ruang reproduksi kesalehan sosial dan solidaritas komunitas.

Artinya, kebersamaan bukan sekadar pelengkap, melainkan inti dari pengalaman Ramadan itu sendiri. Namun, praktik modern bukber sering kali berbeda dari bentuk awalnya yang sederhana dan berbasis kedekatan emosional.

Evolusi Bukber: Dari Sederhana ke Serba Estetik

Dulu, bukber lazim dilakukan di rumah atau masjid dengan menu rumahan dan suasana seadanya. Kini, banyak orang memilih kafe, hotel, atau restoran premium yang menawarkan paket khusus Ramadan.

Strategi pemasaran pun masif. Restoran memanfaatkan momentum ini dengan promosi tematik, diskon grup, dan visualisasi menu yang menggoda.

Media sosial seperti Instagram dan TikTok memperkuat pergeseran ini. Foto buffet panjang, dekorasi bernuansa Timur Tengah, dan pencahayaan estetik menjadi bagian dari pengalaman.

Bukber tidak lagi hanya soal berbuka, tetapi juga tentang bagaimana momen itu ditampilkan.

Tekanan Sosial dan FOMO dalam Undangan Bukber

Secara psikologis, manusia memiliki kebutuhan untuk diterima dalam kelompok. Dalam konteks Ramadan, undangan bukber sering terasa sulit ditolak.

Ada rasa tidak enak, takut dianggap menjaga jarak, atau khawatir tertinggal momen kebersamaan. Fenomena fear of missing out membuat sebagian orang menghadiri lebih banyak bukber daripada yang sebenarnya mereka inginkan atau butuhkan.

Bukber pun bisa berubah dari kebutuhan sosial menjadi kewajiban sosial. Ketika kehadiran menjadi simbol loyalitas, tradisi mulai terasa seperti tekanan.

Baca Juga: Fenomena War Takjil, Tradisi Sosial atau Konsumerisme Musiman?

Bukber dan Budaya Pamer di Era Digital

Era digital menghadirkan dimensi baru dalam praktik sosial. Foto makanan, outfit, dan lokasi unggahan story sering menjadi bagian dari ritual bukber.

Ini bukan berarti semua orang berniat pamer, tetapi pola perilaku menunjukkan adanya kebutuhan akan validasi sosial.

Pilihan tempat bisa menjadi simbol status. Bukber di hotel berbintang tentu memunculkan kesan berbeda dibandingkan di rumah sederhana.

Dalam kerangka psikologi sosial, ini berkaitan dengan pembentukan identitas kelompok dan citra diri di hadapan publik.

Dampak Finansial: Silaturahmi yang Menguras Dompet?

Ramadan identik dengan peningkatan konsumsi. Beberapa analisis media menyoroti bagaimana bulan puasa dan menjelang Idulfitri sering diikuti lonjakan belanja.

Bukber berkontribusi pada tren ini, terutama ketika biaya per orang cukup tinggi. Fenomena patungan mahal demi gengsi bukan hal asing.

Tunjangan hari raya sering menjadi pemicu konsumsi musiman. Di sisi lain, literasi keuangan mengingatkan pentingnya pengendalian diri agar pengeluaran tidak melebihi kemampuan.

Silaturahmi yang baik seharusnya tidak menimbulkan beban finansial berkepanjangan.

Perspektif Psikologi Sosial

Kebutuhan akan afiliasi dan validasi sosial adalah dorongan dasar manusia. Bukber memperkuat rasa kebersamaan dan identitas kelompok.

Kita merasa menjadi bagian dari “kami”. Namun, dinamika ini juga dapat menciptakan eksklusivitas, terutama ketika ada batas ekonomi atau sosial yang tidak semua orang mampu penuhi.

Tradisi bisa menjadi alat pemersatu, tetapi juga berpotensi memperlebar jarak jika dijalankan tanpa sensitivitas.

Pandangan Nilai Keagamaan

Esensi Ramadan adalah refleksi, pengendalian diri, dan kesederhanaan. Prinsip tidak berlebihan dalam konsumsi menjadi nilai penting dalam ajaran Islam.

Ketika bukber lebih menonjolkan kemewahan daripada kebersamaan, muncul pertanyaan tentang keselarasan praktik dengan nilai.

Moderasi menjadi kunci. Tradisi tidak harus dihapus, tetapi perlu ditata agar tetap sejalan dengan semangat spiritual Ramadan.

Bukber sebagai Tradisi Positif

Tidak adil jika melihat bukber hanya dari sisi konsumtif. Banyak relasi lama membaik karena pertemuan di bulan puasa. Reuni lintas generasi terjadi, konflik lama mencair, dan ruang dialog terbuka.

Dalam banyak kasus, bukber menjadi jembatan rekonsiliasi yang mungkin sulit terwujud di bulan lain.

Bukber: Tradisi Sosial atau Kompetisi Simbolik?

Di satu sisi, bukber adalah bentuk silaturahmi modern yang relevan dengan gaya hidup urban. Di sisi lain, ia bisa menjadi ajang representasi status melalui pilihan tempat dan tampilan digital.

Dua sisi ini tidak harus saling meniadakan, tetapi perlu disadari secara kritis. Posisi intelektual yang seimbang melihat bahwa bukber adalah ruang sosial yang netral. Nilainya ditentukan oleh niat dan cara kita menjalaninya.

Refleksi: Menjalani Bukber Secara Sehat dan Proporsional

Mengelola tradisi berarti kembali pada prioritas. Pilih undangan yang benar-benar bermakna, kendalikan pengeluaran sesuai kemampuan, dan luruskan niat pada silaturahmi.

Jika tradisi membuat kita tertekan atau boros berlebihan, mungkin sudah waktunya mengevaluasi. Pada akhirnya, tradisi seharusnya menjadi alat, bukan penguasa.

Pertanyaan besarnya tetap sama: apakah kita masih mengendalikan bukber sebagai sarana kebersamaan, atau justru mengikuti arusnya tanpa sadar?

Baca Juga: Rekomendasi Bukber di Kota Malang, Warung Taburai Praz Teguh Siap Manjakan Lidah

Author Image

Author

Ahnaf muafa