Infomalangcom – Bagi Calvin Marcello, basket awalnya bukanlah olahraga yang direncanakan untuk ditekuni.
Semuanya bermula dari keinginan sederhana untuk mengisi waktu luang ketika pandemi Covid-19.
Namun, siapa sangka keputusan tersebut justru mengantarkannya menjadi juara sekaligus meraih gelar MVP pada musim debutnya.
Tiga tahun setelah pertama kali mengenal basket, siswa kelas 10 SMA Kolese Santo Yusup Malang (Kosayu) itu berhasil menutup debutnya di AZA 3X3 Competition 2026 East Java-South dengan pencapaian istimewa.
Calvin membantu Kosayu keluar sebagai juara sektor putra sekaligus dinobatkan sebagai Most Valuable Player (MVP).
Gelar tersebut semakin lengkap setelah Kosayu mengalahkan Charis National Academy Malang di partai final yang berlangsung di GOR Ken Arok, Jumat (4/9).
Kosayu tampil dominan dan mengamankan kemenangan 12-6.
Dalam pertandingan tersebut, Calvin menjadi salah satu pemain paling produktif dengan torehan empat poin.
Jevan Christian mencetak tiga poin, begitu pula Michael Lois.
Sementara Nico Oktavio menambahkan dua poin untuk Kosayu.
Namun, kisah Calvin sampai berada di panggung juara ternyata dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana.
Dari Coba-Coba Saat Pandemi hingga Jadi MVP
Saat masa libur setelah lulus SD menuju SMP, pandemi membuat berbagai aktivitas menjadi terbatas.
Calvin kemudian mencoba bermain basket sekadar untuk menghabiskan waktu.
Bahkan ketika pertama kali memegang bola basket, ia mengaku belum memahami fundamental permainan.
“Dulu tuh pertama kali start basket aku bahkan gak tahu fundamental basket.
Cuma buat mengisi waktu kosong pas Covid-19.
Dulu aku sebenarnya nggak mau basket karena malas membayangkan latihannya harus setiap hari.
Tapi akhirnya ‘dipaksa’ sama Mama dan keterusan sampai sekarang,” kenang Calvin.
Keputusan yang awalnya dilakukan tanpa banyak ekspektasi tersebut perlahan berubah menjadi sesuatu yang ia sukai.
Calvin mulai serius berlatih dan bergabung dengan klub lokal.
Di sana, ia mendapatkan bimbingan dari pelatihnya, Prasetya Citra Sukoco.
Kemampuan Calvin pun berkembang secara bertahap hingga akhirnya mendapatkan kesempatan memperkuat Kosayu.
Perjalanannya juga dipengaruhi oleh kecintaannya terhadap basket profesional.
Calvin kerap menyaksikan pertandingan NBA melalui berbagai cuplikan.
Salah satu pemain yang menarik perhatiannya adalah Jordan Poole, pemain New Orleans Pelicans.
Dari sana, Calvin menemukan inspirasi dalam mengembangkan gaya bermainnya sendiri.
Kesempatan tampil di AZA 3X3 Competition menjadi pengalaman berbeda bagi Calvin.
Kosayu bahkan tidak memiliki waktu panjang untuk mempersiapkan skuad khusus 3X3.
Persiapan mereka berlangsung kurang dari satu bulan.
Meski singkat, situasi tersebut justru menjadi kesempatan bagi Calvin untuk mengembangkan kemampuan individualnya.
Format 3X3 menuntut pemain untuk lebih aktif dalam berbagai situasi.
Ruang bermain yang lebih terbatas membuat setiap pemain harus mampu mengambil keputusan dengan cepat, baik ketika menyerang maupun bertahan.
Kepercayaan yang diberikan kepada Calvin akhirnya terbayar.
Ia ikut mengantarkan Kosayu meraih kemenangan di partai final sekaligus mengangkat trofi juara.
Tidak berhenti di sana, namanya kemudian diumumkan sebagai MVP sektor putra.
Penghargaan tersebut justru menjadi kejutan bagi Calvin.
Ia sama sekali tidak memperkirakan bakal membawa pulang gelar individu.
Sejak awal, pikirannya justru tertuju kepada sang kapten, Jevan Christian.
Sebagai pemain yang lebih senior sekaligus kapten tim, Calvin merasa Jevan lebih layak mendapatkan penghargaan tersebut.
“Sama sekali gak expect bakal MVP. Dari awal aku mikirnya senior sekaligus kapten timku, Kak Jevan, yang lebih pantas dan deserve dapat MVP.
Pas tahu aku yang terpilih, jujur agak gak enak karena dia kan senior kelas 12. Tapi yang pasti aku sangat bersyukur,” ungkap Calvin.
Gelar juara dan MVP pada musim pertamanya tentu menjadi modal berharga.
Namun, Calvin tidak ingin berhenti pada pencapaian tersebut.
Justru, keberhasilan ini membuatnya memiliki motivasi lebih besar untuk berkembang.
Ia ingin terus meningkatkan kemampuan dan memberikan kontribusi yang lebih besar untuk Kosayu.
Target berikutnya pun sudah dipasang.
Calvin ingin bekerja lebih keras agar bisa mendapatkan kesempatan masuk skuad utama lima lawan lima pada musim DBL berikutnya.
“Pastinya ini jadi motivasi besar buat try hard lagi tahun depan.
Target selanjutnya ingin be better buat sekolah, bikin bangga Kosayu, dan bekerja keras supaya bisa masuk skuad utama DBL tahun depan,” tutup Calvin.
Perjalanan Calvin menjadi pengingat bahwa sebuah keputusan kecil terkadang bisa membuka jalan menuju pengalaman besar.
Basket yang awalnya hanya menjadi pengisi waktu luang saat pandemi kini berubah menjadi bagian penting dalam perjalanan Calvin.
Trofi juara dan gelar MVP menjadi awal dari perjalanan yang masih panjang.
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 sendiri akan berlangsung di 31 kota yang tersebar di 22 provinsi Indonesia.
Para student-athlete terbaik dari setiap kota juga akan dipantau melalui program DBL Camp untuk mendapatkan kesempatan menjadi bagian dari DBL Indonesia All-Star.
Musim ini turut menghadirkan AZA 3X3 Competition dan AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan tema “100% Indonesia”.
Keseruan pertandingan dapat disaksikan melalui kanal YouTube DBL Play, sementara laga final juga tersedia di YouTube Good Day ID.
Baca juga: Lima Tim Dance Terbaik East Java-South Siap Berebut Gelar Juara












