Infomalangcom – Film Esok Tanpa Ibu yang di Bintangi Aktris Dian Sastrowardoyo resmi merilis official trailer dan poster yang menghadirkan kisah keluarga penuh emosi, hangat, dan reflektif. Film produksi BASE Entertainment bersama Beacon Film dan Refinery Media ini akan mulai tayang di bioskop Indonesia pada 22 Januari 2026, setelah sebelumnya menjalani penayangan perdana di Jakarta ASEAN Film Festival 2020 (JAFF20).
Kehadiran trailer dan poster resmi ini sekaligus memberi gambaran kuat mengenai arah cerita yang diusung film tersebut, yakni tentang kehilangan, kerinduan, dan upaya manusia mempertahankan ikatan emosional di tengah perkembangan teknologi. Dengan memadukan drama keluarga dan isu kecerdasan buatan, Esok Tanpa Ibu menawarkan perspektif reflektif tentang bagaimana teknologi modern dapat bersinggungan dengan relasi paling intim dalam kehidupan, yaitu hubungan antara orang tua dan anak.
Kisah Kehangatan Keluarga yang Teruji Kehilangan
Trailer Esok Tanpa Ibu memperlihatkan dinamika keluarga kecil yang berpusat pada Cimot, remaja bernama Rama yang diperankan Ali Fikry. Ia digambarkan memiliki hubungan sangat dekat dengan sang Ibu yang diperankan Dian Sastrowardoyo. Seluruh kegelisahan, cerita, hingga keceriaan hidup Rama selalu dibagikan kepada Ibunya, sementara relasinya dengan sang Ayah, yang diperankan Ringgo Agus Rahman, justru terasa canggung dan penuh jarak.
Kedekatan Rama dengan sang Ibu menjadi fondasi emosional utama dalam cerita. Sosok Ibu digambarkan sebagai tempat aman bagi Rama untuk merasa dimengerti dan diterima, terutama di masa remaja yang penuh pergolakan batin. Sementara itu, hubungan dengan sang Ayah cenderung minim komunikasi emosional, menciptakan jarak yang perlahan membentuk konflik laten dalam keluarga kecil tersebut sejak awal cerita.
Kehangatan itu berubah drastis ketika sang Ibu mengalami koma. Kehilangan sosok tempat bersandar membuat Rama terpuruk secara emosional. Hubungan yang sebelumnya rapuh antara Rama dan Ayahnya semakin diuji, memunculkan konflik komunikasi dan perasaan saling tidak dipahami di antara keduanya.
Teknologi AI sebagai Jembatan Emosi
Dimensi emosional film semakin kuat ketika teknologi kecerdasan buatan diperkenalkan sebagai bagian dari cerita. Ibu yang tengah koma kini dapat kembali berinteraksi dengan Rama dan Ayahnya melalui wujud AI. Kehadiran teknologi ini menjadi pertanyaan besar dalam film, apakah kehadiran buatan mampu menggantikan kasih sayang seorang Ibu secara utuh.
Penggunaan lagu Jernih dari Kunto Aji serta Raih Tanahmu dari hara & Nosstres dalam trailer turut memperkuat nuansa haru dan reflektif. Musik menjadi pengiring perjalanan batin karakter dalam menghadapi kehilangan, harapan, dan kerinduan yang tak terucap.
Visual Poster Sarat Makna
Official poster Esok Tanpa Ibu menampilkan Dian Sastrowardoyo, Ali Fikry, dan Ringgo Agus Rahman berbaring di taman bunga putih. Bingkai visual menyerupai layar gawai menjadi simbol batas tipis antara kasih sayang manusiawi dan teknologi yang mencoba mensubstitusi kehadiran emosional seorang Ibu.
Pemilihan visual taman bunga putih dalam poster juga merepresentasikan kesucian, ketenangan, sekaligus ruang ingatan yang membekas dalam memori keluarga tersebut. Elemen bingkai menyerupai layar digital mempertegas tema utama film tentang pertemuan antara dunia manusia dan teknologi, sekaligus menegaskan dilema emosional yang dihadapi para karakter ketika kehadiran buatan mencoba mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh sosok Ibu.
Film ini disutradarai oleh Ho Wi-ding dari Malaysia, dengan naskah yang ditulis Gina S. Noer, Diva Apresya, dan Melarissa Sjarief. Proyek ini menjadi kolaborasi internasional yang didukung oleh Singapore Film Commission serta Infocomm Media Development Authority.
Perspektif Dian Sastrowardoyo, Pemeran lain dan Produser
Produser Shanty Harmayn mengungkapkan film ini lahir dari proses panjang yang berangkat dari pengalaman personal para penulis. Diskusi mengenai keluarga dan pengaruh teknologi terhadap relasi manusia terus berkembang hingga menjadi karya yang relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.
Dian Sastrowardoyo menyampaikan kehormatannya memerankan sosok Ibu yang mewakili banyak perempuan dalam kehidupan nyata. Menurutnya, peran seorang Ibu tidak dapat sepenuhnya digantikan, bahkan oleh teknologi secanggih apa pun. Sementara Ali Fikry menjelaskan bahwa karakter Rama menggunakan AI sebagai mekanisme bertahan menghadapi kesedihan mendalam akibat kehilangan.
Ringgo Agus Rahman menambahkan bahwa film ini juga menyoroti proses seorang Ayah dalam menghadapi kehilangan pasangan hidup dan memperbaiki komunikasi dengan anak remajanya. Film Esok Tanpa Ibu dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 22 Januari 2026 dan juga dibintangi Aisha Nurra Datau serta Bima Sena.
Baca Juga :












