Breaking

FIB UB Perkenalkan Humaniora Digital di Forum UNESCO Thailand

Ahnaf muafa

23 January 2026

FIB UB Perkenalkan Humaniora Digital di Forum UNESCO Thailand
Infomalangcom - Dunia akademik internasional baru saja menjadi saksi atas langkah progresif Universitas Brawijaya (UB) dalam mengintegrasikan kearifan lokal dengan teknologi modern.

Infomalangcom – Dunia akademik internasional baru saja menjadi saksi atas langkah progresif Universitas Brawijaya (UB) dalam mengintegrasikan kearifan lokal dengan teknologi modern.

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UB secara resmi memperkenalkan konsep humaniora digital (digital humanities) dalam ajang bergengsi UNESCO Cultural Technology and Social Innovation Lab Launching Ceremony.

Acara yang diselenggarakan di Assumption University of Thailand, Kampus Suvarnabhumi, pada 17 hingga 20 Januari 2026 ini, menjadi panggung strategis bagi UB untuk menunjukkan bahwa kajian budaya tidak lagi terbatas pada naskah kuno, melainkan telah bertransformasi menjadi inovasi digital yang mampu bersaing di kancah global.

Kehadiran perwakilan UB di forum ini mempertegas posisi kampus tersebut dalam ekosistem riset internasional yang mempertemukan seni, budaya, dan teknologi.

Kolaborasi Global Lintas Institusi Ternama Dunia

Partisipasi FIB UB dalam forum ini merupakan representasi akademik yang kuat dalam program unggulan UNESCO International Work Station.

Giat internasional ini merupakan kolaborasi strategis antara Assumption University of Thailand dan Peking University, yang bertujuan untuk menciptakan laboratorium inovasi sosial berbasis teknologi budaya.

Dr. Fitriana Puspita Dewi, dosen Program Studi Sastra Jepang FIB UB, hadir sebagai delegasi utama yang membawa misi diplomasi budaya berbasis digital.

Kehadirannya menempatkan Universitas Brawijaya sejajar dengan institusi pendidikan ternama dunia yang turut hadir dalam diskusi tersebut.

Beberapa universitas kelas dunia yang berpartisipasi antara lain National University of Singapore (NUS), Gyeongguk University dari Korea Selatan, Shanghai Academy of Social Sciences, University of Hong Kong, hingga Politecnico di Milano dari Italia.

Berada di tengah ekosistem global ini memungkinkan FIB UB untuk melakukan pertukaran ide mengenai bagaimana kajian budaya dapat beradaptasi dengan disrupsi teknologi.

Diskusi lintas negara tersebut menyoroti pentingnya inovasi sosial yang berakar pada identitas bangsa, namun disampaikan melalui medium digital yang inklusif dan aksesibel bagi masyarakat dunia.

Malang Sebagai Hub Industri Kreatif dan Media Art

Salah satu momen penting dalam forum ini adalah sorotan khusus dari Prof. Yong (Hardy) Xiang, Dekan Institute of Cultural Industries dari Peking University.

Dalam pemaparannya, ia secara spesifik menyebutkan potensi besar Kota Malang sebagai pusat pengembangan industri kreatif dan media art.

Menurutnya, ekosistem kreatif di Malang sangat selaras dengan kekuatan akademik yang dimiliki oleh Universitas Brawijaya, terutama FIB, dalam mengembangkan kajian lintas disiplin.

Sinergi antara praktisi seni di Malang dan riset akademis di UB dianggap sebagai modal kuat untuk melahirkan inovasi budaya yang adaptif terhadap dinamika global.

Potensi Malang sebagai “Silicon Valley” versi industri kreatif Indonesia ini menjadi relevan dengan upaya FIB UB dalam menduniakan budaya lokal.

Inovasi teknologi yang dikembangkan di kampus tidak hanya berhenti sebagai jurnal ilmiah, tetapi diproyeksikan menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi kreatif di daerah.

Dukungan akademik terhadap industri media art diharapkan dapat membuka peluang kerja baru dan meningkatkan posisi tawar Indonesia dalam diplomasi budaya internasional melalui platform-platform digital yang canggih.

Baca Juga:

UIN Maliki Malang Tambah 11 Guru Besar, Soroti Peran Keteladanan Akademik

Batikpedia: Implementasi Nyata Humaniora Digital

Kontribusi Dr. Fitriana Puspita Dewi dalam forum UNESCO ini tidak terlepas dari keberhasilannya dalam mengembangkan platform batikpedia.cloud.

Platform ini merupakan contoh nyata dari implementasi digital humanities yang tengah dikembangkan secara intensif oleh FIB UB.

Batikpedia berfungsi sebagai “rumah virtual” bagi studi batik Jawa Timur yang mencakup basis data komprehensif, galeri virtual yang memukau, hingga aplikasi mobile yang memudahkan pengguna untuk mempelajari motif dan filosofi batik secara interaktif.

Inovasi ini mendapat apresiasi tinggi dari para delegasi internasional karena dianggap mampu melestarikan warisan budaya tak benda melalui sentuhan teknologi mutakhir.

Batikpedia bukan sekadar katalog digital, melainkan alat inovasi sosial yang menghubungkan perajin batik lokal dengan audiens global.

Melalui platform ini, FIB UB membuka peluang kolaborasi internasional yang lebih luas, terutama dalam pengembangan proyek humaniora digital yang berbasis pada kearifan lokal.

Hal ini membuktikan bahwa teknologi dapat menjadi pelindung sekaligus pengembang kebudayaan jika dikelola dengan visi akademik yang tepat.

Kepercayaan Internasional dan Jabatan Strategis

Kapasitas intelektual akademisi FIB UB mendapat pengakuan tertinggi dalam forum tersebut. Dr. Fitriana Puspita Dewi secara resmi ditunjuk sebagai Advisory Expert pada Cultural Technology and Social Innovation Lab.

Tidak hanya itu, ia juga didapuk sebagai Supervisor Program Doktor untuk bidang Cultural Technology and Social Innovation hingga tahun 2029.

Penunjukan ini merupakan cerminan kepercayaan komunitas akademik internasional terhadap kualitas riset dan visi pengembangan budaya yang diusung oleh Universitas Brawijaya.

Langkah strategis ini memperkuat hubungan segitiga antara Universitas Brawijaya, Assumption University of Thailand, dan Peking University.

Dengan posisi tawar yang semakin kuat, FIB UB kini meneguhkan posisinya sebagai pusat pengembangan humaniora yang adaptif dan responsif terhadap kemajuan teknologi.

Keterlibatan aktif ini memberikan kontribusi nyata dalam upaya peningkatan reputasi internasional UB sebagai universitas berkelas dunia (World Class University).

Menatap Masa Depan Budaya Digital

Partisipasi FIB UB di forum UNESCO Thailand adalah bukti bahwa ilmu humaniora memiliki peran vital dalam masa depan teknologi.

Melalui pengembangan humaniora digital, budaya tidak lagi dipandang sebagai masa lalu yang statis, melainkan sebagai aset masa depan yang dinamis.

Keberhasilan memperkenalkan Batikpedia dan meraih posisi ahli di tingkat internasional menjadi tonggak sejarah baru bagi perjalanan akademik Universitas Brawijaya di panggung dunia.

Harapannya, langkah ini dapat memicu munculnya inovasi-inovasi digital lainnya dari tanah air yang berakar pada kearifan lokal.

Masa depan pelestarian budaya kini berada di tangan para akademisi yang berani memadukan tradisi dengan inovasi. Mari kita dukung terus karya-karya anak bangsa agar identitas budaya Indonesia tetap lestari dan semakin bersinar di tengah percaturan teknologi global.

Baca Juga:

Program Siap Waras, Inisiatif Mahasiswa UB Ajak Warga Kelola Stres

Author Image

Author

Ahnaf muafa