MALANG – Ketika sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) datang membawa rencana mengecat rumah-rumah di kampungnya pada 2016, Soni Parin tidak langsung mengiyakan. Ia mengajukan satu syarat sebelum Kampung Warna-Warni Jodipan dicat.
“Kalau sampean siap tiga RT silakan, tapi kalau hanya satu RT saya menolak,” kata Parin, Ketua RW 02 Kelurahan Jodipan, mengulang jawabannya kepada para mahasiswa saat ditemui di kediamannya, Kamis (5/11/2026).
Rumah-rumah di sisi sungai itu terbagi dalam RT 6, 7, dan 9. Saat itu Parin tinggal di RT 9. Menurut dia, bila hanya satu RT yang dicat, warga RT lain bisa cemburu.
Tiga RT dan Satu Kesepakatan
Mahasiswa menyanggupi syarat itu dan mencari sponsor. Menurut Parin, PT Inti Daya Guna Aneka Warna (INDANA), produsen cat di Malang, menyediakan cat sekaligus tenaga pengecat. Mahasiswa mengoordinasi, sementara warga ikut membantu, antara lain menyiapkan minuman. Titik-titik tinggi yang sulit dijangkau dicat personel Kopasgat TNI AU dengan tali gelantung. Parin mengatakan PT Indana yang meminta bantuan itu.
Pendekatan ke warga berlangsung lewat pertemuan yang dipimpin pengurus RW. Menurut Parin, hanya satu-dua orang yang sempat keberatan karena belum memahami tujuannya, dan setelah dijelaskan mereka menerima. Parin sendiri menilai tawaran itu menguntungkan karena kampungnya dibenahi tanpa biaya dari warga.
Soal warna, rancangan dibuat mahasiswa, tetapi selera warga berbeda-beda. Parin punya pegangan sederhana.
“Seleramu apa, yang penting tidak sama dengan sampingmu,” ujarnya.
Wisata yang Tidak Direncanakan
Pengecatan berlangsung beberapa bulan pada 2016. Kampung itu diresmikan Wali Kota Malang saat itu, Moch. Anton, pada 4 September 2016. Menurut Parin, Pemerintah Kota Malang mendukung, antara lain mengganti pagar bambu di tepi kampung dengan pagar besi.
Parin mengatakan mahasiswa tidak pernah menjanjikan kampung itu menjadi tempat wisata. Tujuan awalnya membenahi dan mempercantik lingkungan kampung. Setelah dicat dan diberitakan, pengunjung berdatangan, bukan hanya dari Malang dan Jawa Timur, tetapi juga dari Sumatera dan Kalimantan. Pada masa awal itu, kata Parin, pengunjung bisa lebih dari 1.000 orang dalam sehari, hal yang menurut dia di luar dugaan.
Dari Karcis Rp2.000
Keramaian itu membawa urusan baru, yaitu sampah. Saat itu belum ada tempat sampah maupun petugas kebersihan di kampung. Warga lalu sepakat memungut karcis Rp2.000 untuk membayar tenaga kebersihan.
Sampai sekarang pengelolaan sampah mengandalkan uang loket. Setiap gang punya tong sampah. Selepas magrib petugas kampung mengumpulkannya ke atas, dan paginya petugas kebersihan kota mengangkutnya ke tempat pembuangan sementara. Menurut Parin, petugas sampah kampung dibayar sekitar Rp1,2 juta per bulan.
Tarif tiket kini Rp5.000 untuk wisatawan lokal dan Rp10.000 untuk wisatawan mancanegara. Empat pintu masuk dijaga warga secara bergiliran dengan sistem persentase. Kalau sepi, penjaga tetap mendapat minimal Rp30.000 per hari.
Kas yang Kembali ke Warga
Menurut Parin, uang loket dikelola supaya warga merasa ikut memiliki kampungnya. Iuran warga untuk keamanan, sampah, dan kematian sudah dihapus. Kas menanggung biaya pemakaman dan tahlilan, ditambah santunan Rp500.000. Warga yang dirawat inap mendapat bantuan Rp300.000.
Menjelang Idulfitri dan tahun baru, kampung membagikan sembako. Pada bulan Asyura, 30 anak yatim, lansia, dan janda masing-masing menerima Rp100.000. Saat Iduladha, kas dipakai membeli sapi kurban senilai sekitar Rp30 juta. Pada ulang tahun ke-10 kampung tahun ini, setiap KK dari 111 KK menerima Rp1 juta, atau sekitar Rp111 juta seluruhnya (hitungan redaksi).
Pengeluaran terbesar adalah pengecatan ulang setahun sekali, sekitar Rp70–80 juta. Menurut Parin, dana itu berasal dari uang loket, dan PT Indana memberi potongan harga cat 50 persen.
Pengunjung yang Berganti
Parin ingat masa paling ramai terjadi pada 2019. Data Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang mencatat 205.434 kunjungan ke Kampung Warna-Warni Jodipan pada tahun itu. Saat pandemi COVID-19, kampung sempat ditutup. Setelah dibuka kembali, kata Parin, pemasukan loket kadang tidak cukup untuk membayar penjaga, tetapi kas tetap dipakai untuk membebaskan iuran warga.
Erly Naning, warga yang tinggal di kawasan itu sejak 1959, mengatakan masa awal setelah dicat kampung terasa lebih ramai, sempat sepi saat pandemi, dan kini masih cukup banyak pengunjung. Menurut dia, cat di kampung mulai rusak karena hujan.
Sekarang, kata Parin, pengunjung rata-rata 100–150 orang per hari dan bisa mencapai 300 orang saat akhir pekan. Masa ramai biasanya Juli sampai September, lalu menurun mulai Oktober. Dari pengamatannya, sekitar 90 persen pengunjung adalah wisatawan mancanegara. Data Disporapar mencatat 45.187 wisatawan mancanegara dari 68.284 kunjungan pada 2024, atau sekitar 66 persen (hitungan redaksi).
Parin tidak yakin kunjungan bisa kembali seperti sebelum pandemi. Menurut dia, kampung tematik di Malang kini makin banyak sehingga pengunjung terbagi.
Tambahan, Bukan Tumpuan
Bagi warga, hasil wisata hanya tambahan. Mereka tetap bekerja sebagai tukang becak, kuli bangunan, sopir, penjual nasi, dan pengumpul barang bekas, kata Parin. Penjaga loket pun warga sendiri.
“Pengurus tiket tidak perlu sarjana, yang penting jujur dan mau kerja,” ujarnya.
Kalender kampung ikut berjalan. Menurut Parin, ada tiga acara tahunan: ulang tahun kampung setiap 4 September dengan pentas dan tarian anak-anak, malam tahun baru dengan tarian dan kembang api di dekat jembatan kaca, serta Nyadran Kali, tradisi bersih-bersih sungai bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) sekitar bulan Juli.
Sepuluh tahun setelah mengajukan syarat tiga RT itu, Parin masih mengurus hal-hal yang sama: cat yang diperbarui setahun sekali, loket yang dijaga bergiliran, dan kas yang kembali ke warga. Di ulang tahun ke-10, ketiga RT yang dulu ia minta dicat bersama itu sama-sama menerima Rp1 juta untuk setiap KK.
Baca Juga: Jodipan dan Abah Anton, Kisah Kampung di Bantaran Sungai Brantas
Editor: Handoyo Tejo Wasito

Human Interest
Nasional
Nasional
News
Pendidikan
News