14 kali dibaca
MALANG – Kampung Warna-Warni Jodipan (KWJ) di Kota Malang kini lebih banyak dikunjungi wisatawan mancanegara dibanding wisatawan lokal. Kondisi ini berbeda dengan masa awal kampung wisata di tepi Sungai Brantas itu terbentuk pada 2016.
Koordinator KWJ, Agus Kodar, memperkirakan sebagian besar pengunjung saat ini berasal dari luar negeri. “Kampung Warna-Warni ini sekarang 90 persen dikunjungi oleh orang asing,” kata Agus saat ditemui di KWJ, Jalan Ir H Juanda Nomor 9, Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing, Sabtu (31/10/2026).
Dalam Laporan Kinerja (LAKIP) Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang, KWJ disebut sebagai destinasi favorit wisatawan mancanegara selama dua tahun berturut-turut. LAKIP 2023 mencatat 32.063 wisatawan mancanegara berkunjung ke KWJ. Sementara itu, LAKIP 2024 mencatat 45.187 wisatawan yang berkunjung ke destinasi tersebut, tanpa merinci asal wisatawannya.
Untuk periode terbaru, pengelola KWJ menyebut ada sekitar 8.300 kunjungan sepanjang Oktober 2026, atau rata-rata sekitar 268 kunjungan per hari. Angka ini berasal dari keterangan pengelola, bukan data resmi dinas, sehingga belum dapat dibandingkan langsung dengan catatan tahunan Disporapar.
Menurut Agus, perubahan komposisi pengunjung mulai terasa setelah pandemi Covid-19. Saat pandemi, kawasan wisata tersebut sempat ditutup selama satu tahun.
“Dari tahun awal itu memang banyak yang lokal, tapi semenjak Corona kita banyak dari orang asingnya,” ujarnya. Sejak itu, kata Agus, jumlah wisatawan lokal berkurang, sementara wisatawan mancanegara terus berdatangan.
Perubahan ini juga dirasakan pelaku usaha di kampung tersebut. Lova, salah satu pelaku UMKM di KWJ, mengatakan wisatawan mancanegara memiliki selera yang berbeda dengan wisatawan lokal.
“Kalau turis itu paling banyak mungkin teh, teh tanpa gula. Terus, pisang goreng,” katanya. Menurut Lova, wisatawan lokal cenderung membeli lebih banyak jenis jajanan.
Erly Naning, warga yang tinggal di Jodipan sejak 1959, menilai kampung itu paling ramai pada masa awal terbentuk. Saat ini, menurut dia, pengunjung masih cukup banyak, termasuk mahasiswa yang kerap berkegiatan di sana.
KWJ bermula dari gagasan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang mengajak warga mengecat permukiman di tepi Sungai Brantas. Ke depan, Agus berharap jumlah kunjungan dapat terus terjaga dengan stabil.
Penulis: Fuad Baswarudin
Editor: Handoyo Tejo Wasito
Malang Daily
Malang Daily
Malang Daily
Malang Daily
Malang Daily
Malang Daily