Breaking

Karhutla 2026, Unri dan Unsri Terapkan Kuliah Daring untuk Jaga Kesehatan

Karhutla 2026 kembali memengaruhi aktivitas masyarakat di Sumatera. Kondisi kualitas udara yang memburuk membuat Universitas Riau (Unri) dan Universitas Sriwijaya (Unsri) menyesuaikan kegiatan perkuliahan dengan menerapkan pembelajaran daring sebagai langkah perlindungan bagi sivitas akademika.

infomalangcom – Karhutla 2026 kembali memengaruhi aktivitas masyarakat di Sumatera. Kondisi kualitas udara yang memburuk membuat Universitas Riau (Unri) dan Universitas Sriwijaya (Unsri) menyesuaikan kegiatan perkuliahan dengan menerapkan pembelajaran daring sebagai langkah perlindungan bagi sivitas akademika.

Universitas Riau mengambil langkah penyesuaian setelah kondisi kualitas udara di Kota Pekanbaru terdampak kabut asap. Berdasarkan Surat Edaran Rektor Universitas Riau Nomor 9/UN19/KP/2026, kegiatan perkuliahan mahasiswa dialihkan ke sistem daring selama 26 hingga 28 Agustus 2026.

Kebijakan tersebut menjadi bentuk penyesuaian kegiatan akademik terhadap situasi lingkungan yang sedang dihadapi. Media Center Riau melaporkan perubahan itu sebagai dampak karhutla yang memengaruhi kualitas udara di wilayah Pekanbaru.

Selain mahasiswa, penyesuaian juga menyentuh aktivitas tenaga kependidikan. Selama periode kebijakan, pengaturan kerja minimal 50 persen dilakukan secara luring. Kegiatan akademik dapat kembali berlangsung seperti biasa apabila kondisi udara membaik dan kabut asap berkurang.

Langkah Unri menunjukkan bahwa pembelajaran daring dapat digunakan sebagai pilihan sementara ketika kondisi lingkungan berpotensi mengganggu aktivitas tatap muka.

Dengan perkuliahan tetap berlangsung secara online, kegiatan akademik dapat berjalan tanpa mengharuskan mahasiswa berada di ruang kampus sepanjang kebijakan diterapkan.

Unsri Ikut Menyesuaikan Kegiatan Akademik

Universitas Sriwijaya juga mengambil kebijakan serupa ketika kualitas udara di Sumatera Selatan memburuk akibat dampak karhutla. Perkuliahan dialihkan secara daring sebagai bentuk penyesuaian terhadap kondisi lingkungan sekaligus perhatian terhadap kesehatan mahasiswa.

Kebijakan Unsri dituangkan dalam Surat Edaran Rektor Unsri Nomor 0016/UN9.R/SE.RI.DAK/2026 tentang Pelaksanaan Kegiatan Akademik Sehubungan dengan Kondisi Kualitas Udara di Sumatera Selatan. Surat tersebut ditandatangani Rektor Unsri Prof. Dr. Taufik Marwa pada 26 Agustus 2026.

Penerapan kuliah daring di dua perguruan tinggi tersebut memperlihatkan bahwa gangguan kualitas udara dapat berdampak langsung terhadap kegiatan pendidikan. Penyesuaian tidak hanya berkaitan dengan metode pembelajaran, tetapi juga menjadi bagian dari pengelolaan risiko ketika kondisi lingkungan berubah.

Dampak Kualitas Udara terhadap Kesehatan

Perhatian terhadap kesehatan menjadi alasan penting dalam kebijakan tersebut. Paparan asap dan partikel udara dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama ketika kualitas udara memburuk.

Karena itu, pembatasan aktivitas luar ruang menjadi salah satu bentuk kehati-hatian yang dapat diterapkan ketika kondisi tidak mendukung.

Di Riau, Dinas Kesehatan Provinsi Riau yang dikutip ANTARA mencatat 1.960 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut dalam satu pekan di sejumlah wilayah.

Angka tersebut menjadi konteks kesehatan di tengah kondisi kabut asap, tetapi data itu tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa seluruh kasus secara langsung disebabkan oleh karhutla tanpa penjelasan medis dan epidemiologis lebih lanjut.

Penyesuaian perkuliahan juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk tetap mengikuti kegiatan akademik dari lokasi yang dianggap lebih aman. Dosen dan pengelola pendidikan dapat memanfaatkan platform pembelajaran digital untuk menjaga keberlangsungan materi, komunikasi, serta penugasan selama kebijakan berlaku.

Karhutla 2026 dan Respons Perguruan Tinggi

Langkah Unri dan Unsri menunjukkan bahwa dampak karhutla dapat meluas hingga sektor pendidikan. Ketika kualitas udara menurun, institusi pendidikan perlu mempertimbangkan keselamatan warga kampus bersama keberlanjutan proses belajar.

Pembelajaran daring bukan solusi untuk mengatasi sumber karhutla, tetapi dapat menjadi langkah adaptasi sementara terhadap dampak lingkungan. Penanganan akar masalah tetap membutuhkan pengendalian kebakaran, pemantauan kualitas udara, pencegahan, serta koordinasi antarlembaga.

Universitas Sriwijaya juga memiliki keterlibatan dalam agenda kesiapsiagaan karhutla nasional 2026. Hal tersebut memberikan konteks bahwa perguruan tinggi dapat berperan dalam isu kebencanaan, baik melalui kegiatan akademik maupun dukungan terhadap kesiapsiagaan.

Bagi mahasiswa, informasi resmi kampus menjadi rujukan utama selama kondisi kualitas udara belum stabil. Masyarakat juga perlu mengikuti informasi dari pemerintah dan lembaga terkait sebelum menentukan aktivitas di luar rumah.

Keputusan Unri dan Unsri pada akhirnya memperlihatkan pentingnya fleksibilitas pendidikan saat menghadapi gangguan lingkungan. Dengan pembelajaran daring, proses akademik tetap dapat berjalan sambil mengurangi kebutuhan aktivitas tatap muka ketika kualitas udara memburuk.

Kebijakan semacam ini perlu dievaluasi berdasarkan kondisi lapangan agar perlindungan kesehatan dan keberlanjutan pendidikan dapat berjalan seimbang secara terukur.

Baca juga: ISPA Kaltim Naik hingga 20 Persen, Warga Diminta Siagakan Masker