Breaking

Mengungkap Keunikan Candi Borobudur sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO

Muhamad Dzaki

23 February 2026

Mengungkap Keunikan Candi Borobudur sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO
Mengungkap Keunikan Candi Borobudur sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO

Infomalangcom – Candi Borobudur merupakan mahakarya arsitektur Buddha terbesar di dunia yang terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Situs ini diakui sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991 dengan nomor referensi 592.

Pengakuan tersebut menegaskan nilai universal luar biasa yang dimiliki Candi Borobudur dari sisi sejarah, seni, arsitektur, dan spiritualitas.

Hingga kini, Candi Borobudur menjadi destinasi wisata budaya unggulan Indonesia sekaligus pusat perayaan Waisak nasional.

Sejarah Pembangunan dan Penemuan Kembali

Candi Borobudur diperkirakan dibangun pada abad ke-8 hingga ke-9 Masehi, tepatnya sekitar tahun 780–840 M, pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra yang berkuasa di Jawa Tengah.

Candi ini didirikan sebagai tempat ibadah sekaligus pusat pembelajaran ajaran Buddha Mahayana. Bukti arkeologis menunjukkan bahwa pembangunan dilakukan secara bertahap dengan perencanaan arsitektur yang matang dan teknologi konstruksi yang maju untuk zamannya.

Seiring berjalannya waktu, Candi Borobudur sempat ditinggalkan dan tertutup material vulkanik akibat aktivitas Gunung Merapi serta perubahan pusat kekuasaan di Jawa.

Pada tahun 1814, situs ini ditemukan kembali oleh tim yang dipimpin Sir Thomas Stamford Raffles saat pemerintahan Inggris di Jawa.

Proses pemugaran besar dilakukan pada abad ke-20, terutama proyek restorasi internasional yang berlangsung pada 1973–1983 dengan dukungan UNESCO untuk memperkuat struktur dan sistem drainase candi.

Baca Juga : 6 Hotel Bintang Lima di Bali yang Cocok untuk Staycation Mewah dan Nyaman

Keunikan Arsitektur dan Relief

Keunikan utama Candi Borobudur terletak pada bentuknya yang menyerupai mandala raksasa. Struktur bangunan terdiri atas sembilan tingkat, yakni enam teras berbentuk persegi dan tiga pelataran melingkar di bagian atas, dengan satu stupa utama sebagai puncak. Tinggi candi sekitar 35 meter setelah restorasi modern.

Candi ini memiliki 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha. Relief tersebut menggambarkan ajaran Buddha, kisah Lalitavistara tentang kehidupan Siddhartha Gautama, serta gambaran kehidupan sosial masyarakat Jawa kuno.

Jika direntangkan, panjang relief mencapai kurang lebih 5 kilometer, menjadikannya salah satu rangkaian relief terpanjang di dunia.

Teknik konstruksi Candi Borobudur juga sangat mengagumkan. Bangunan ini tersusun dari sekitar dua juta balok batu andesit tanpa menggunakan semen.

Sistem penguncian antar batu dibuat presisi sehingga struktur tetap kokoh meski berada di kawasan rawan gempa dan aktivitas vulkanik.

Makna Filosofis dalam Struktur Candi

Candi Borobudur dirancang berdasarkan kosmologi Buddha yang membagi alam semesta menjadi tiga tingkatan, yaitu Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu.

Bagian dasar melambangkan dunia hasrat atau kehidupan manusia yang masih terikat nafsu. Bagian tengah mencerminkan dunia bentuk, tempat manusia mulai melepaskan diri dari keterikatan. Sementara itu, bagian atas melambangkan dunia tanpa bentuk yang menggambarkan kesempurnaan spiritual.

Perjalanan menaiki candi dari dasar hingga puncak melambangkan proses menuju pencerahan atau Nirwana. Setiap relief menyampaikan pesan moral, ajaran kebajikan, serta nilai kehidupan yang relevan hingga saat ini.

Stupa-stupa berlubang di pelataran atas berisi arca Buddha dalam posisi dharmachakra mudra yang melambangkan pemutaran roda dharma.

Nilai filosofis ini memperkuat posisi Candi Borobudur bukan hanya sebagai objek wisata, melainkan juga sebagai pusat spiritual dan refleksi budaya yang memiliki makna mendalam bagi umat Buddha dan masyarakat luas.

Status Warisan Dunia dan Upaya Pelestarian

UNESCO menetapkan Candi Borobudur sebagai Warisan Dunia berdasarkan kriteria budaya yang menilai keunggulan arsitektur dan makna simboliknya.

Penetapan ini mendorong berbagai upaya pelestarian berkelanjutan oleh pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi serta Balai Konservasi Borobudur.

Pengelolaan kawasan wisata juga dilakukan bersama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko. Dalam beberapa tahun terakhir, pembatasan jumlah wisatawan yang naik ke struktur utama diterapkan guna menjaga kelestarian batu andesit dari keausan.

Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi konservasi jangka panjang agar Candi Borobudur tetap terjaga bagi generasi mendatang.

Selain konservasi fisik, edukasi publik mengenai pentingnya menjaga warisan budaya juga terus digencarkan. Program penelitian, digitalisasi relief, dan pemantauan kondisi struktur dilakukan secara berkala untuk memastikan stabilitas bangunan.

Informasi dan Daya Tarik Wisata

Sebagai destinasi prioritas nasional, Candi Borobudur menawarkan pengalaman wisata sejarah dan budaya yang lengkap. Pengunjung dapat menikmati panorama perbukitan Menoreh dan Gunung Merapi yang mengelilingi kawasan candi.

Waktu terbaik berkunjung adalah pagi hari untuk menikmati suasana yang lebih sejuk dan pencahayaan alami yang indah.

Fasilitas penunjang seperti museum, pusat informasi, dan area edukasi tersedia untuk memberikan pemahaman komprehensif mengenai sejarah serta makna Candi Borobudur.

Perayaan Waisak yang digelar setiap tahun juga menjadi daya tarik spiritual dan budaya yang menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara.

Baca Juga : Fakta Menarik Benteng Alam Terlarang di Pulau Sempu Malang

Author Image