Infomalangcom – Di kota yang terkenal dengan julukan Kota Taman, Malang, sebuah simbol kerukunan bersejarah menempati peran krusial dalam menjaga harmoni antarumat beragama.
Klenteng Eng An Kiong, berdiri sejak lebih dari dua abad lalu, bukan sekadar tempat ibadah. Ia menjadi saksi bisu dan pelaku aktif toleransi yang nyata, terutama ketika perayaan Tahun Baru Imlek bertemu dengan bulan suci Ramadan.
Melalui serangkaian keputusan dan tradisi yang konsisten, klenteng ini menunjukkan empati dan menghormati kesucian waktu yang dijalani oleh umat Muslim.
Sejarah Klenteng Eng An Kiong sebagai Simbol Kerukunan
Klenteng Eng An Kiong berdiri di Jalan Ijen, Malang, sejak pertengahan abad ke-19. Sebagai tempat suci yang melayani tiga aliran kepercayaan besar Tionghoa—Taoisme, Buddhisme, dan Konghucu—ia menjadi pusat spiritual lintas aliran di wilayah dengan keberagaman agama yang kuat.
Klenteng ini telah menyaksikan berbagai momen penting kota Malang, dari masa kolonial hingga kini, dan terus berperan sebagai perembesan nilai-nilai moderasi.
Lokasinya yang strategis, tidak jauh dari masjid-masjid dan gereja, secara geografis melambangkan kedekatan komunitas.
Lebih dari 200 tahun berjalan, klenteng ini membuktikan bahwa keberagaman bisa menjadi aset, bukan sumber konflik, jika dirawat dengan kesadaran bersama.
Penyesuaian Agenda Perayaan Imlek demi Ramadan
Belakangan ini, pengurus Klenteng Eng An Kiong secara konsisten menyesuaikan seluruh rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek.
Ritual inti seperti pembakaran hokoben dan doa bersama tetap dilaksanakan, tetapi dijadwalkan agar tidak bertabrakan dengan waktu puasa dan salat tarawih umat Muslim.
Bazar budaya yang biasanya ramai dengan suka cita dan gemerlap lampai juga digelar lebih rendah profil. Penyesuaian ini bukan karena dorongan luar, tetapi kesadaran internal untuk menghormati kesiapan spiritual sesama warga Malang yang berpuasa.
Agenda yang disederhanakan tetap mempertahankan esensi keagamaan, sekaligus meminimalkan potensi gangguan terhadap ikhtiar ibadah di bulan Ramadan.
Kebijakan Khusus: Meniadakan Open House Cap Go Meh
Salah satu kebijakan paling signifikan adalah peniadaan tradisi open house Cap Go Meh. Dalam beberapa tahun terakhir, klenteng tidak lagi membagikan ribuan porsi lontong dan makanan traditional kepada umum.
Acara yang biasanya menjadi sorotan dan keramaian massal itu diubah menjadi perayaan yang lebih terkontrol dan internal.
Keputusan tegas ini diambil setelah musyawarah internal dan konsultasi dengan tokoh masyarakat. Tujuan utamanya adalah menghindari situasi di mana umat Muslim yang berpuasa terpapar aroma makanan atau suasana pesta yang bisa mengganggu konsentrasi ibadah.
Langkah ini meski mengurangi kehadiran publik, justru menguatkan rasa penghargaan terhadap perjalanan spiritual tetangga mereka.
Baca Juga:
Kementerian Pekerjaan Umum Siapkan Tol Malang Kepanjen, Proyek Segera Digarap
Tradisi Buka Puasa Lintas Iman yang Terus Digelar
Di sisi lain, klenteng ini aktif menjadi tuan rumah untuk tradisi yang justru membangun silaturahmi: buka puasa bersama lintas agama.
Setiap Ramadan, Ruang Terbuka di depannya menjadi salah satu lokasi kegiatan Safari Damai Ramadhan yang diselenggarakan oleh komunitas harmony Malang.
Umat Muslim, Katolik, Protestan, dan Hindu berkumpul di sana untuk berbuka puasa, berbagi makanan, dan bersilaturahmi dalam suasana damai.
Momen ini tidak hanya mengisi perut, tetapi juga mengisi hati dengan pemahaman. Pengurus klenteng senantiasa menyiapkan kursi dan minuman bagi tamu yang datang, menjadikan ruang tersebut titik kumpul yang hangat tanpa pandang latar belakang.
Penjaminan Ketersediaan Makanan Halal
Saat mengadakan kegiatan yang tetap terbuka untuk umum di luar masa Ramadan, seperti perayaan tertentu atau kunjungan wisata, pihak klenteng selalu memastikan tersedianya menu makanan halal.
Mereka bekerja sama dengan penyedia makanan yang memiliki sertifikasi halal atau memisahkan area penyajian dengan jelas.
Upaya ini penting untuk menjamin bahwa seluruh lapisan masyarakat, terutama umat Muslim, bisa hadir dan ikut serta tanpa keraguan atau rasa tidak nyaman.
Komitmen terhadap penyediaan makanan halal bukanlah hal baru, tetapi sekarang mendapat penekanan lebih sebagai bentuk tanggung jawab sosial.
Hal kecil ini menandakan bahwa inklusi bukan sekadar undangan verbal, tetapi terwujud dalam persiapan konkret.
Dampak dan Apresiasi dari Pihak Externa
Langkah-langkah nyata Klenteng Eng An Kiong telah mendapatkan pengakuan luas dari berbagai pihak. Aparat keamanan setempat, seperti Polri dan TNI, sering menyampaikan apresiasi atas peran klenteng dalam menjaga stabilitas sosial.
Tokoh masyarakat dari berbagai agama juga menyebutnya sebagai model moderasi yang harus diteladani. Dalam beberapa kesempatan, mereka menjadi contoh dalamdiskusi tentang kerukunan di tingkat kabupaten.
Apresiasi ini bukan datang dari ruang lingkup semata, tetapi dari pengamatan langsung terhadap konsistensi tindakan klenteng yang sudah berjalan puluhan tahun.
Sikap proaktif mereka terbukti mengurangi potensi persepsi negatif dan memperkuat iklim toleransi di Kota Malang.
Komitmen Jangka Panjang terhadap Moderasi Beragama
Di balik setiap keputusan dan kegiatan, klenteng ini memposisikan diri sebagai mitra permanen dalam menjaga harmoni sosial di Malang.
Komitmennya tidak bersifat reakif, tetapi sudah tertanam dalam visi pengurus generation ke generation. Mereka memahami bahwa toleransi bukan sekadar kata yang diucapkan saat perayaan atau dalam pidato, tetapi tindakan sehari-hari yang mengutamakan rasa empati terhadap perasaan sesama.
Dengan terus beradaptasi tanpa mengorbankan esensi keagamaan, Klenteng Eng An Kiong membuktikan bahwa keberagaman bisa diatur dengan bijak.
Peran mereka menjadi bukti hidup bahwa tempat suci dapat dan harus menjadi agen perdamaian, terutama di kota yang kaya dengan sejarah dan keanekaragaman seperti Malang.
Baca Juga: Antara Zuhud dan Ambisi Begini Pandangan Islam yang Perlu Dipahami











