Breaking

Kurang Tidur Saat Ramadan, Dampaknya pada Otak dan Imunitas

Ahnaf muafa

20 February 2026

Kurang Tidur Saat Ramadan, Dampaknya pada Otak dan Imunitas
Infomalangcom - Ramadan sering identik dengan perubahan ritme hidup. Umat Muslim bangun lebih awal untuk sahur, melaksanakan tarawih pada malam hari, sementara aktivitas kerja atau sekolah tetap berjalan seperti biasa.

Infomalangcom – Ramadan sering identik dengan perubahan ritme hidup. Umat Muslim bangun lebih awal untuk sahur, melaksanakan tarawih pada malam hari, sementara aktivitas kerja atau sekolah tetap berjalan seperti biasa.

Tanpa disadari, waktu tidur menjadi lebih pendek atau terpecah. Banyak orang beranggapan bahwa kekurangan tidur bisa diganti di akhir pekan atau setelah Ramadan selesai.

Padahal, kurang tidur bukan sekadar menyebabkan rasa kantuk, melainkan berdampak langsung pada fungsi otak dan sistem imunitas.

Perubahan Pola Tidur Selama Ramadan

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa puasa Ramadan dapat mengubah ritme sirkadian, yaitu jam biologis tubuh yang mengatur siklus tidur dan bangun.

Studi yang dipublikasikan di ScienceDirect menemukan bahwa selama Ramadan terjadi penurunan durasi tidur dan peningkatan gangguan tidur serta kantuk di siang hari.

Temuan serupa juga dilaporkan dalam penelitian pada mahasiswa yang menunjukkan kualitas tidur memburuk dan gangguan tidur meningkat selama Ramadan.

Tidur yang terpecah karena sahur memengaruhi sleep cycle, terutama fase tidur dalam yang berperan penting dalam pemulihan tubuh.

Review klinis mengenai efek puasa Ramadan terhadap arsitektur tidur menjelaskan bahwa perubahan jadwal tidur dapat memengaruhi distribusi fase tidur, termasuk tidur REM dan non-REM.

Ketika siklus ini terganggu secara berulang, tubuh tidak mendapatkan pemulihan optimal meskipun secara total jam tidur terlihat cukup.

Dampak Kurang Tidur pada Otak

Kurang tidur berdampak langsung pada fungsi kognitif. Secara umum, penurunan durasi dan kualitas tidur berhubungan dengan menurunnya konsentrasi dan fokus.

Individu yang kurang tidur cenderung mengalami kesulitan berpikir jernih dan memiliki waktu reaksi lebih lambat. Dalam konteks pelajar atau pekerja, hal ini dapat menurunkan produktivitas dan performa.

Tidur juga berperan penting dalam konsolidasi memori. Proses ini terjadi saat otak memperkuat dan menyimpan informasi yang dipelajari sepanjang hari.

Ketika waktu tidur berkurang atau siklus tidur terganggu, proses tersebut tidak berjalan optimal. Artikel kesehatan yang dimuat ANTARA menjelaskan bahwa kurang tidur dapat memengaruhi fungsi mental, termasuk daya ingat dan pengendalian emosi.

Laporan di Kompas juga menyoroti bahwa gangguan tidur berdampak pada proses metabolisme di otak yang berkaitan dengan fungsi kognitif.

Selain itu, kurang tidur sering dikaitkan dengan perubahan suasana hati. Individu yang mengalami defisit tidur lebih mudah merasa sensitif, mudah marah, dan mengalami peningkatan stres.

Hubungan antara tidur dan regulasi emosi telah banyak dibahas dalam literatur ilmiah, menunjukkan bahwa kualitas tidur berperan penting dalam stabilitas psikologis.

Baca Juga: Kenapa Ramadan Harusnya Bikin Lebih Tenang, Bukan Lebih Sensitif?

Dampak Kurang Tidur pada Sistem Imunitas

Selain memengaruhi otak, kurang tidur juga berdampak pada sistem kekebalan tubuh. Tidur berperan dalam produksi sitokin dan antibodi, yaitu komponen penting dalam respons imun.

Penelitian yang dipublikasikan di PubMed Central menunjukkan bahwa gangguan tidur selama Ramadan dapat memengaruhi respons imun, termasuk perubahan pada kadar imunoglobulin tertentu.

Kurang tidur dalam jangka pendek maupun panjang dapat menurunkan efektivitas sistem imun dalam melawan infeksi.

Beberapa laporan kesehatan menyebutkan bahwa individu yang tidur kurang dari enam jam per malam lebih rentan mengalami infeksi ringan seperti flu.

Selain itu, proses pemulihan tubuh setelah sakit juga dapat berlangsung lebih lambat ketika kualitas tidur tidak optimal.

Kurang tidur juga dikaitkan dengan peningkatan respons inflamasi dalam tubuh. Respons peradangan yang berlebihan dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan tertentu.

Dengan kata lain, tidur bukan sekadar waktu istirahat pasif, melainkan proses biologis aktif yang menjaga keseimbangan sistem imun.

Faktor Tambahan yang Memperparah Kondisi

Pola hidup selama Ramadan turut berperan dalam memperburuk dampak kurang tidur. Asupan cairan yang kurang dapat memperburuk rasa lelah dan menurunkan konsentrasi.

Pola makan tidak seimbang saat buka dan sahur juga dapat memengaruhi kualitas tidur, terutama jika mengonsumsi makanan berat dalam jumlah besar menjelang waktu tidur.

Konsumsi kafein berlebihan pada malam hari serta penggunaan gadget sebelum tidur dapat mengganggu produksi melatonin, hormon yang mengatur rasa kantuk.

Paparan cahaya biru dari layar perangkat elektronik diketahui dapat menunda waktu tidur dan mengurangi kualitasnya.

Dengan demikian, dampak kurang tidur selama Ramadan tidak semata-mata disebabkan oleh puasa, tetapi juga dipengaruhi oleh kebiasaan dan pola hidup yang menyertainya.

Siapa yang Paling Rentan?

Beberapa kelompok lebih rentan terhadap dampak kurang tidur. Pelajar dan mahasiswa yang tetap menjalani aktivitas akademik berisiko mengalami penurunan konsentrasi dan performa belajar.

Pekerja dengan jadwal shift atau lembur menghadapi tantangan tambahan dalam menjaga konsistensi tidur. Orang dengan riwayat gangguan tidur sebelumnya juga lebih mudah mengalami perburukan kondisi selama Ramadan.

Individu dengan penyakit kronis yang memerlukan daya tahan tubuh optimal perlu lebih memperhatikan kualitas istirahat agar sistem imun tetap terjaga.

Baca Juga: Dehidrasi Terselubung, Tanda-Tanda yang Sering Diabaikan

Author Image

Author

Ahnaf muafa