Breaking

598 Hektare Lahan Semeru Terbakar, BPBD Jatim Ungkap Kondisinya

Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Semeru, Jawa Timur, terus menjadi perhatian setelah area terdampak dilaporkan meluas hingga sekitar 598 hektare. BPBD Jawa Timur mengungkap kondisi lapangan masih menghadapi sejumlah titik api serta medan yang menyulitkan proses penanganan.

infomalangcom – Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Semeru, Jawa Timur, terus menjadi perhatian setelah area terdampak dilaporkan meluas hingga sekitar 598 hektare. BPBD Jawa Timur mengungkap kondisi lapangan masih menghadapi sejumlah titik api serta medan yang menyulitkan proses penanganan.

Pemantauan rutin diperlukan untuk memastikan perubahan kondisi dapat segera direspons dan risiko penyebaran api tetap terkendali secara cepat.

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto mengatakan kebakaran hingga 31 Agustus 2026 telah mencapai sekitar 598 hektare. Titik api masih ditemukan di kawasan B29, Desa Argosari, serta Ranu Kembang, Desa Ranu Pani. Tim gabungan terus melakukan penanganan untuk mencegah api berkembang ke area lainnya.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla di kawasan Semeru membutuhkan strategi yang menyesuaikan kondisi geografis. Medan pegunungan, kemiringan lereng, dan pergerakan angin menjadi faktor yang perlu diperhitungkan oleh petugas ketika menjalankan operasi di lapangan.

Luas Kebakaran Semeru dan Tantangan Penanganan

Data perkembangan kebakaran menunjukkan peningkatan cukup besar dalam beberapa hari. Kilas Jatim melaporkan luas area terbakar mencapai 598 hektare pada 31 Agustus 2026. Sebelumnya, pada 28 Agustus, area yang terbakar tercatat sekitar 334 hektare.

Perubahan tersebut menjadi perhatian karena kebakaran berada di kawasan dengan kondisi medan yang tidak mudah dijangkau. Gatot Soebroto menjelaskan bahwa tebing yang sangat terjal dan angin cukup kencang menjadi tantangan dalam pengendalian api.

Kondisi itu dapat membuat api lebih cepat menyebar sehingga upaya pencegahan perlu dilakukan secara berlapis.

Tim gabungan kemudian membuat sekat bakar di sejumlah kawasan, termasuk Ayak-Ayak dan Hutan Po’o. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya membatasi pergerakan api agar tidak meluas. Penanganan juga diarahkan pada titik yang masih menunjukkan adanya kobaran atau potensi penyebaran.

Kebakaran turut berdampak terhadap aktivitas pendakian di kawasan Semeru. Pada 27 Agustus 2026, sekitar 170 pendaki yang berada di Ranu Kumbolo dievakuasi setelah kebakaran terjadi di blok Ranu Kembang.

Humas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Endrip Wahyutama Pranat, menyampaikan bahwa para pendaki berada dalam kondisi aman dan proses turun dilakukan dengan pendampingan pemandu.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa dampak kebakaran tidak hanya berkaitan dengan luas lahan yang terdampak. Keselamatan masyarakat dan wisatawan juga menjadi bagian penting dalam penanganan.

Pembatasan aktivitas di kawasan rawan diperlukan agar operasi pemadaman dapat berlangsung tanpa menambah risiko bagi petugas maupun pengunjung.

BPBD Perkuat Upaya Mencegah Api Meluas

Dalam penanganan kebakaran, pembuatan sekat bakar menjadi salah satu langkah yang dilakukan tim gabungan. Sekat tersebut berfungsi sebagai penghalang untuk membantu mengurangi peluang api bergerak menuju kawasan lain.

Titik api di B29 dan Ranu Kembang juga menjadi perhatian karena lokasinya berada dalam kawasan pegunungan. Pemantauan terhadap kondisi api diperlukan untuk menentukan langkah berikutnya, terutama ketika cuaca dan arah angin berubah.

Sampai laporan tersebut diterbitkan, informasi mengenai kebakaran menunjukkan bahwa petugas masih menghadapi titik api. Karena itu, perkembangan luas area terdampak perlu terus diperbarui berdasarkan pemantauan lapangan agar masyarakat mendapatkan informasi yang akurat.

Masyarakat juga perlu mengikuti informasi resmi mengenai kondisi kawasan Semeru, khususnya terkait akses pendakian dan aktivitas wisata. Informasi dari BPBD Jawa Timur serta pengelola kawasan dapat menjadi rujukan sebelum melakukan perjalanan.

Kebakaran seluas sekitar 598 hektare menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla di kawasan pegunungan membutuhkan koordinasi banyak pihak. BPBD, pengelola taman nasional, petugas lapangan, serta unsur terkait harus bergerak berdasarkan kondisi terkini.

Dengan medan yang terjal dan cuaca yang dapat berubah, pengendalian api membutuhkan pemantauan berkelanjutan. Fokus utama bukan hanya menghentikan kobaran yang terlihat, tetapi juga mencegah penyebaran menuju kawasan lain dan menjaga keselamatan orang yang berada di sekitar lokasi.

Hingga akhir Agustus 2026, kondisi karhutla Semeru masih memerlukan perhatian. Data luas terdampak, keberadaan titik api, dan langkah pembuatan sekat bakar menjadi indikator bahwa proses penanganan belum selesai.

Perkembangan berikutnya tetap bergantung pada kondisi lapangan dan efektivitas upaya pengendalian yang dilakukan tim gabungan.

Baca juga: Mulai Hari Ini, Pelajar di Kota Malang Bisa Naik Angkot Gratis