Breaking

Legenda Arema Kuncoro Tutup Usia di Stadion Gajayana, Sepak Bola Malang Berduka

Legenda Arema Kuncoro Tutup Usia di Stadion Gajayana, Sepak Bola Malang Berduka
Legenda Arema Kuncoro Tutup Usia di Stadion Gajayana, Sepak Bola Malang Berduka

Infomalangcom – Dunia sepak bola Malang dan Indonesia tengah berduka atas wafatnya Kuncoro, legenda arema fc sekaligus Asisten Pelatih tim berjuluk Singo Edan. Kabar duka ini datang secara mengejutkan di tengah peringatan satu abad Stadion Gajayana, stadion bersejarah yang memiliki keterikatan emosional kuat dengan perjalanan hidup almarhum sebagai pesepak bola profesional.

Kepergian Kuncoro tidak hanya menjadi kehilangan bagi keluarga besar Arema FC, tetapi juga mengguncang komunitas sepak bola Malang yang selama ini mengenalnya sebagai figur sentral. Sosoknya dikenal luas sebagai pemain yang tumbuh dari kultur sepak bola lokal, sekaligus panutan bagi generasi muda yang bermimpi meniti karier di lapangan hijau.

Berpulang di Momen Bersejarah Stadion Gajayana

Peringatan 100 Tahun Stadion Gajayana sejatinya dirancang sebagai perayaan penuh kegembiraan dan nostalgia. Berbagai agenda digelar, termasuk Laga Charity yang mempertemukan para legenda sepak bola Malang lintas generasi. Namun suasana tersebut mendadak berubah menjadi haru ketika Kuncoro meninggal dunia akibat serangan jantung di sisi lapangan stadion.

Stadion Gajayana memiliki makna simbolik dalam perjalanan Kuncoro. Di stadion inilah ia memulai langkah sebagai pemain profesional, menempa mental bertanding, hingga akhirnya dikenal sebagai salah satu ikon sepak bola Malang. Momentum peringatan satu abad stadion tersebut pun menjadi ironi tersendiri ketika berubah menjadi hari berkabung bagi insan sepak bola.

Pada Minggu, 18 Januari 2026, Kuncoro terlihat mengikuti laga persahabatan tersebut dengan penuh semangat. Ia tampil pada babak pertama bersama sejumlah mantan pemain legendaris, seperti Siswantoro, Hermawan, Doni Suherman, dan nama-nama lain yang pernah mewarnai kejayaan sepak bola Malang. Kehadirannya menjadi magnet tersendiri bagi penonton yang memadati stadion.

Penampilan Terakhir Sang Legenda

Di atas lapangan, Kuncoro masih memperlihatkan sentuhan bola khasnya. Gaya bermain sederhana, efektif, dan penuh determinasi kembali menghidupkan memori kejayaan Arema di masa lalu. Banyak penonton larut dalam nostalgia, tanpa menyadari bahwa momen tersebut menjadi penampilan terakhir Kuncoro di hadapan publik Malang.

Sejumlah rekan setim dan penonton yang hadir mengaku terkesan melihat kondisi Kuncoro yang tampak bugar dan penuh semangat. Tidak terlihat tanda-tanda gangguan kesehatan serius sebelum insiden terjadi. Hal inilah yang membuat peristiwa tersebut begitu mengejutkan dan meninggalkan duka mendalam bagi semua pihak yang menyaksikannya langsung.

Usai menyelesaikan babak pertama, Kuncoro menuju bangku cadangan untuk beristirahat. Beberapa saat kemudian, ia tiba-tiba terjatuh dan tidak sadarkan diri. Kepanikan langsung menyelimuti area lapangan, sementara pertandingan dihentikan demi memberikan ruang bagi tim medis melakukan penanganan darurat.

Upaya Medis dan Kabar Duka

Tim medis segera mengevakuasi Kuncoro menggunakan ambulans menuju Rumah Sakit Saiful Anwar Kota Malang. Seluruh pihak berharap legenda Arema tersebut dapat diselamatkan. Namun takdir berkata lain. Kuncoro dinyatakan meninggal dunia, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan, dan seluruh pecinta sepak bola.

General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, menyampaikan rasa kehilangan yang sangat mendalam. Menurutnya, Stadion Gajayana bukan sekadar tempat pertandingan, melainkan saksi perjalanan hidup Kuncoro sejak awal meniti karier profesional hingga akhir hayatnya.

Warisan dan Dedikasi untuk Arema

Yusrinal mengenang Kuncoro sebagai sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk sepak bola Malang. Dari pemain, hingga berperan sebagai asisten pelatih, almarhum dikenal memiliki loyalitas tinggi, kedisiplinan, serta kepedulian terhadap regenerasi pemain muda. Nilai-nilai tersebut menjadi warisan berharga bagi Arema FC.

Selain dikenal di lapangan, Kuncoro juga dihormati karena perannya dalam membangun karakter pemain muda Arema. Ia kerap menanamkan nilai disiplin, kerja keras, dan rasa memiliki terhadap klub. Kontribusinya tidak hanya tercatat dalam catatan pertandingan, tetapi juga dalam proses pembentukan budaya tim yang berakar pada semangat Malangan.

Kepergian Kuncoro meninggalkan kekosongan yang sulit tergantikan. Sosoknya yang humoris, tegas, dan menjunjung kebersamaan akan terus dikenang oleh Aremania dan insan sepak bola nasional. Stadion Gajayana, yang menjadi saksi awal mimpinya, kini juga menjadi tempat perpisahan terakhir sang legenda.

Baca Juga : Arema FC Ambil Keputusan Awal, Yann Motta Tak Dipertahankan