Breaking

Minat Baca di Indonesia Terus Menurun? Ini Langkah yang Bisa Dilakukan

Minat Baca di Indonesia Terus Menurun Ini Langkah yang Bisa Dilakukan
Minat Baca di Indonesia Terus Menurun Ini Langkah yang Bisa Dilakukan

Infomalangcom – Minat baca merupakan salah satu indikator penting dalam pembangunan sumber daya manusia. Kebiasaan membaca yang kuat membantu meningkatkan kemampuan berpikir kritis, literasi, dan wawasan.

Namun, di Indonesia, minat baca masih menjadi perhatian serius karena data menunjukkan bahwa perilaku membaca belum tumbuh kuat di masyarakat.

Kondisi Minat Baca di Indonesia: Angka dan Fakta

Beberapa survei dan laporan resmi maupun akademik menggambarkan kondisi literasi dan minat baca di Indonesia:

1. Tingkat Kegemaran Membaca Meningkat, Namun Masih Perlu Diperkuat
Menurut laporan yang mengutip hasil pengukuran nasional oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat terus meningkat dari tahun ke tahun.
TGM Indonesia naik dari 55,74 pada tahun 2020 menjadi 72,44 pada tahun 2024.

Sementara Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) juga meningkat dari 61,55 pada tahun 2020 menjadi 73,52 pada 2024. Jumlah unit perpustakaan di Indonesia tercatat mencapai lebih dari 219.000 pada 2024, meskipun sebarannya belum merata di seluruh wilayah.

2. Tingkat Literasi Dasar Sangat Tinggi
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa persentase penduduk Indonesia di atas 15 tahun yang melek huruf mencapai sekitar 96,07%, menunjukkan kemampuan dasar membaca telah hampir universal di masyarakat.

3. Ranking Indonesia di Survei Internasional Masih Bawah
Data dari UNESCO Institute for Statistics dan lembaga internasional menunjukkan bahwa meskipun kemampuan dasar membaca tinggi, praktik membaca yang intens dan minat baca secara budaya termasuk rendah dibanding banyak negara lain.

Ada laporan yang menyebut Indonesia berada di posisi sekitar 60 dari 61 negara terkait literasi berdasarkan survei yang dikaitkan oleh penelitian lain.

Penjelasan ini menunjukkan dua hal: kemampuan membaca dasar rata-rata penduduk sebenarnya tinggi, tetapi perilaku membaca buku dan bacaan panjang masih belum menjadi kebiasaan yang kuat secara budaya.

Penyebab Rendahnya Minat Baca

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi rendahnya minat baca di masyarakat, antara lain:

1. Perubahan Pola Konsumsi Informasi
Masyarakat kini lebih mudah mengakses informasi dalam bentuk audiovisual, seperti video pendek dan media sosial, yang kadang menggantikan aktivitas membaca teks panjang.

2. Akses Bacaan yang Tidak Merata
Meskipun jumlah perpustakaan cukup banyak, distribusinya tidak merata di seluruh Indonesia. Sebagian besar perpustakaan masih terkonsentrasi di Pulau Jawa dan kota besar, sementara daerah terluar dan terpencil memiliki fasilitas bacaan terbatas.

3. Kendala Pendidikan dan Kebiasaan Sejak Dini
Kebiasaan baca di keluarga dan sekolah masih bervariasi. Anak yang tidak dibiasakan membaca sejak dini cenderung memiliki minat baca yang lebih rendah ketika dewasa.

Dampak Rendahnya Minat Baca

Rendahnya minat baca berdampak luas bagi perkembangan masyarakat dan bangsa, antara lain:

  • Prestasi Akademik: Siswa yang kurang membaca cenderung memiliki pemahaman materi yang kurang mendalam.
  • Kemampuan Berpikir Kritis: Kurang membaca membuat keterampilan berpikir analitis dan evaluatif tidak terasah.
  • Literasi Informasi: Rendahnya literasi membaca membuat masyarakat lebih rentan terhadap misinformasi dan hoaks.

Langkah-Langkah Mengatasi Penurunan Minat Baca

Agar minat baca meningkat dan menjadi bagian dari budaya masyarakat, berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan:

1. Peran Keluarga dan Pendidikan Dini
Membiasakan anak membaca sejak usia dini di rumah sangat krusial. Orang tua bisa menyediakan buku cerita dan melibatkan anak dalam diskusi bacaan ringan sehari-hari.

2. Integrasi Literasi di Sekolah
Sekolah dapat menerapkan program membaca harian (misalnya 15 menit sebelum pelajaran dimulai) dan menyediakan perpustakaan sekolah yang menarik dengan bahan bacaan sesuai usia siswa.

3. Perpustakaan yang Lebih Aksesibel dan Inovatif
Perpustakaan di tingkat desa dan kota perlu diperkuat dengan koleksi buku terbaru, ruang nyaman, dan program literasi interaktif. Pemanfaatan teknologi digital seperti perpustakaan online dapat memperluas jangkauan bacaan di daerah terpencil.

4. Kolaborasi Pemerintah dan Komunitas
Program pemerintah seperti Gerakan Literasi Nasional harus terus didukung oleh komunitas masyarakat, pegiat literasi, dan sektor swasta agar lebih berkelanjutan dan berdampak luas.

5. Kampanye Literasi di Media dan Online
Terobosan kampanye bacaan melalui media sosial, video edukatif, dan komunitas online dapat menarik minat generasi muda yang cenderung terhubung secara digital.

Kesimpulan

Data resmi menunjukkan bahwa minat baca di Indonesia memang masih menghadapi tantangan, terutama dalam menjadikan membaca sebagai kebiasaan budaya yang kuat. Walaupun tingkat melek huruf dan akses perpustakaan meningkat, praktik membaca intens masih belum merata. Untuk itu, strategi bersama antara keluarga, sekolah, perpustakaan, pemerintah, dan komunitas perlu bekerja secara terintegrasi untuk meningkatkan budaya membaca di masyarakat.

Meningkatnya minat baca bukan hanya soal statistik, tetapi juga investasi jangka panjang bagi perkembangan sumber daya manusia, kualitas pendidikan, dan pembangunan bangsa yang lebih kuat.

Baca Juga : BEM Malang Raya Menilai Maraknya Tempat Hiburan Malam Ancam Identitas Kota Pendidikan