Infomalang.com – Proyek drainase Kepanjen Malang yang diharapkan menjadi solusi permanen untuk mengatasi genangan air di ibu kota kabupaten, kini justru memicu keluhan luas karena pengerjaannya yang belum kunjung usai.
Meskipun telah melewati target waktu yang direncanakan, tumpukan material dan galian tanah yang dibiarkan terbuka masih menghiasi sejumlah ruas jalan protokol.
Hal ini menyebabkan 1 kendala besar bagi mobilitas harian masyarakat, di mana akses menuju pertokoan dan pemukiman menjadi terhambat secara signifikan.
Warga kini mendesak pemerintah daerah dan kontraktor pelaksana untuk segera menyelesaikan sisa pekerjaan tersebut guna memulihkan fungsi jalan dan meminimalisir risiko kecelakaan bagi pengguna jalan yang melintas.
Dampak Fisik dan Hambatan Mobilitas Ekonomi
Belum rampungnya pengerjaan infrastruktur di jantung pusat pemerintahan Kabupaten Malang ini memberikan dampak yang sangat terasa pada sektor ekonomi lokal.
Banyak pedagang kaki lima dan pemilik ruko di sepanjang jalur proyek drainase Kepanjen Malang melaporkan penurunan omzet harian yang cukup drastis.
Hal ini disebabkan oleh tumpukan tanah galian yang menutup akses pintu masuk toko, sehingga calon pembeli merasa enggan untuk mampir.
Selain itu, debu yang beterbangan saat cuaca panas serta lumpur yang licin saat hujan turun semakin memperburuk kenyamanan publik di area terdampak.
Hambatan mobilitas tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha, tetapi juga oleh para komuter yang melintasi Kepanjen setiap hari.
Penyempitan badan jalan akibat material bangunan yang memakan sebagian jalur kendaraan sering kali memicu kemacetan panjang, terutama pada jam keberangkatan dan kepulangan kerja.
Kondisi ini menuntut konsentrasi ekstra dari para pengendara motor, mengingat lubang galian yang tidak tertutup dengan sempurna dapat menjadi jebakan berbahaya yang mengancam keselamatan jiwa.
Analisis Keterlambatan dan Keluhan Publik
Masyarakat Kepanjen mulai mempertanyakan profesionalisme pelaksana di balik keterlambatan proyek drainase Kepanjen Malang ini.
Berdasarkan pengamatan warga di lapangan, aktivitas pengerjaan sering kali tampak lengang dan tidak menunjukkan progres yang masif pada hari-hari tertentu.
Hal ini menciptakan persepsi negatif mengenai komitmen pihak pengembang dalam memenuhi deadline yang telah disepakati bersama Dinas Pekerjaan Umum setempat.
Ketidakjelasan informasi mengenai kapan proyek ini akan benar-benar selesai membuat warga merasa dibiarkan dalam ketidakpastian.
Selain masalah waktu, teknis pengerjaan juga mendapat sorotan tajam. Beberapa warga melaporkan bahwa sisa-sisa galian sering kali menumpuk terlalu lama tanpa diangkut, yang akhirnya menyumbat saluran air sementara dan justru memicu genangan baru saat hujan lebat.
Transparansi dan akuntabilitas (Trustworthiness) kontraktor kini tengah diuji di mata publik, mengingat dana yang digunakan untuk proyek ini merupakan uang rakyat yang seharusnya memberikan manfaat instan, bukan beban tambahan bagi masyarakat.
Baca Juga:
Proyek Drainase Suhat Disorot Warga, Fungsi Dipertanyakan Sebelum Digunakan
Risiko Keselamatan di Kawasan Titik Galian
Salah satu aspek yang paling mengkhawatirkan dari belum tuntasnya proyek drainase Kepanjen Malang adalah minimnya tanda peringatan atau barikade pengaman di sekitar lokasi galian yang dalam.
Tanpa penerangan jalan yang memadai di malam hari, area proyek tersebut menjadi sangat rawan bagi pengendara yang tidak terbiasa dengan medan jalan di Kepanjen.
Kasus kendaraan yang terperosok atau ban yang pecah akibat hantaman material tajam mulai terdengar di kalangan komunitas lokal, yang menandakan perlunya evaluasi standar keamanan kerja di lokasi proyek.
Pihak berwenang dan jajaran kepolisian sektor Kepanjen terus berupaya mengatur arus lalu lintas, namun solusi jangka pendek tersebut dianggap tidak cukup tanpa adanya penyelesaian fisik bangunan drainase itu sendiri.
Keamanan pejalan kaki, terutama pelajar yang sering melintas di jalur tersebut, juga menjadi prioritas yang harus diperhatikan.
Pemerintah daerah didorong untuk melakukan pengawasan ketat dan memberikan sanksi administratif jika ditemukan unsur kesengajaan atau kelalaian dalam progres pembangunan ini.
Harapan Warga untuk Percepatan Pembangunan
Warga Kepanjen sangat berharap agar pemerintah Kabupaten Malang segera turun tangan melakukan mediasi dan tekanan kepada pihak pelaksana proyek.
Percepatan pengerjaan menjadi harga mati agar denyut nadi ekonomi di kawasan tersebut kembali normal. Masyarakat merindukan kondisi jalan yang bersih, tertata, dan berfungsi sebagaimana mestinya tanpa adanya gangguan material konstruksi yang mangkrak.
Sinergi antara pengawasan dinas dan keterbukaan kontraktor adalah kunci utama untuk meredam kekecewaan publik.
Selain percepatan, masyarakat juga menuntut adanya pembersihan menyeluruh sisa-sisa proyek setelah pekerjaan selesai nantinya.
Sering kali, proyek infrastruktur meninggalkan aspal yang rusak atau trotoar yang tidak kembali rata seperti semula.
Oleh karena itu, pengawalan terhadap proyek drainase Kepanjen Malang harus dilakukan hingga tahap finishing dan pembersihan area secara total, demi menjamin kualitas infrastruktur jangka panjang yang berkelanjutan.
Kesimpulan: Menuju Tata Kota Kepanjen yang Lebih Baik
Pembangunan drainase memang sebuah keharusan demi mencegah banjir di masa depan, namun proses pencapaiannya tidak boleh mengabaikan hak-hak dasar warga atas akses jalan yang aman dan nyaman.
Masalah yang timbul pada proyek drainase Kepanjen Malang ini harus menjadi pelajaran berharga bagi proyek-proyek infrastruktur selanjutnya di Malang Raya.
Perencanaan yang matang dan eksekusi yang disiplin adalah fondasi utama dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah.
Pada akhirnya, kesabaran warga Kepanjen memiliki batasnya. Mereka menunggu pembuktian nyata dari para pemangku kepentingan untuk segera menuntaskan pekerjaan rumah yang tersisa.
Dengan selesainya proyek ini dengan standar kualitas yang baik, Kepanjen diharapkan mampu tampil sebagai pusat pemerintahan yang modern, bebas banjir, dan ramah bagi mobilitas ekonomi seluruh warganya tanpa ada kendala infrastruktur yang terbengkalai.
Baca Juga:
Angin Kencang Picu Insiden Fatal, 1 Pohon Besar Roboh di Juwok Dampit













