Breaking

Puasa Bukan Hanya Ibadah, Ini Dampaknya untuk Kesehatan Fisik dan Metabolisme

Puasa Bukan Hanya Ibadah, Ini Dampaknya untuk Kesehatan Fisik dan Metabolisme
Puasa Bukan Hanya Ibadah, Ini Dampaknya untuk Kesehatan Fisik dan Metabolisme

InfomalangcomPuasa selama ini dikenal sebagai praktik ibadah yang sarat nilai spiritual dan pengendalian diri. Namun di luar dimensi religius tersebut, puasa juga memiliki dampak yang signifikan terhadap kesehatan fisik dan sistem metabolisme tubuh.

Berbagai kajian kesehatan serta laporan edukatif di media daerah menyoroti bahwa pembatasan asupan makanan dalam periode tertentu memberi kesempatan bagi organ tubuh untuk melakukan proses pemulihan alami.

Ketika tubuh tidak terus-menerus menerima asupan kalori, terjadi serangkaian adaptasi biologis yang berdampak pada keseimbangan energi, pengelolaan gula darah, hingga efisiensi pembakaran lemak.

Dalam perspektif ilmiah, puasa memiliki kemiripan dengan pola time-restricted eating yang banyak diteliti dalam beberapa tahun terakhir.

Pola ini menekankan pengaturan waktu makan untuk memberi jeda metabolik bagi tubuh. Saat jeda tersebut berlangsung, tubuh tidak hanya beristirahat dari aktivitas pencernaan, tetapi juga mengaktifkan mekanisme internal yang mendukung kesehatan sel dan jaringan.

Perubahan Sistem Energi dan Proses Metabolic Switching

Secara fisiologis, tubuh manusia menyimpan cadangan energi dalam bentuk glikogen yang tersimpan di hati dan otot.

Pada fase awal puasa, glikogen menjadi sumber energi utama untuk menjaga fungsi tubuh tetap berjalan normal. Setelah cadangan tersebut menipis, tubuh mulai beralih menggunakan lemak sebagai bahan bakar. Proses peralihan ini dikenal sebagai metabolic switching.

Metabolic switching berperan penting dalam membantu tubuh membakar lemak lebih efisien. Ketika tubuh terbiasa menggunakan lemak sebagai sumber energi, risiko penumpukan lemak berlebih dapat berkurang.

Inilah salah satu alasan mengapa puasa kerap dikaitkan dengan pengendalian berat badan yang lebih baik, selama asupan nutrisi saat sahur dan berbuka tetap seimbang.

Selain itu, puasa juga merangsang proses autofagi, yaitu mekanisme alami pembersihan sel yang rusak atau tidak berfungsi optimal.

Autofagi membantu tubuh melakukan regenerasi sel sehingga jaringan tetap sehat. Proses ini menjadi salah satu fokus penelitian di bidang biologi sel karena berkaitan dengan perlambatan penuaan serta penurunan risiko penyakit degeneratif.

Baca Juga : Antisipasi Perang Sarung dan Balap Liar, Polresta Malang Kota Intensifkan Patroli Selama Ramadhan 2026

Dampak Puasa terhadap Kesehatan Jantung dan Gula Darah

Pembatasan asupan kalori dalam durasi tertentu dapat memberi dampak positif bagi kesehatan jantung. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pola makan terkontrol selama puasa membantu menurunkan kadar kolesterol jahat dan trigliserida. Ketika kadar lemak darah lebih stabil, risiko gangguan kardiovaskular juga dapat ditekan.

Puasa juga berpengaruh pada sensitivitas insulin. Saat tubuh tidak terus-menerus menerima asupan gula, kadar insulin memiliki kesempatan untuk kembali seimbang.

Kondisi ini membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil dan mencegah lonjakan yang berlebihan. Bagi individu dengan risiko diabetes tipe dua, puasa yang dijalankan dengan pola makan sehat dapat menjadi momentum untuk memperbaiki kebiasaan konsumsi harian.

Namun demikian, manfaat tersebut sangat bergantung pada pola berbuka dan sahur. Konsumsi makanan tinggi gula sederhana secara berlebihan justru dapat memicu lonjakan gula darah yang mengurangi dampak positif puasa.

Oleh karena itu, pengaturan jenis dan porsi makanan menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan metabolisme.

Peran Pola Makan Seimbang dan Hidrasi Optimal

Agar manfaat puasa terhadap kesehatan fisik dan metabolisme dapat dirasakan secara maksimal, pola makan saat sahur dan berbuka perlu diperhatikan.

Sahur sebaiknya mengandung karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, serta serat. Kombinasi ini membantu pelepasan energi berlangsung lebih stabil sepanjang hari dan mencegah rasa lemas berlebihan.

Saat berbuka, dianjurkan memulai dengan porsi ringan sebelum melanjutkan ke makanan utama. Pendekatan bertahap memberi waktu bagi sistem pencernaan untuk kembali aktif setelah beristirahat.

Asupan cairan yang cukup juga sangat penting untuk menjaga keseimbangan elektrolit dan mencegah dehidrasi, terutama pada cuaca panas.

Aktivitas fisik ringan tetap dapat dilakukan selama puasa untuk menjaga kebugaran tubuh. Jalan santai atau peregangan membantu mempertahankan sirkulasi darah dan metabolisme tanpa menguras energi secara berlebihan.

Dengan kombinasi pola makan seimbang, hidrasi optimal, dan aktivitas teratur, puasa tidak hanya memperkuat dimensi spiritual, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap kesehatan fisik serta efisiensi metabolisme dalam jangka panjang.

Baca Juga : Sistem Cashless Bendungan Lahor Picu Keluhan, PJT I Pastikan Tinjau Ulang