Breaking

Puguh DPRD Jatim: Kasus Siswa Keroyok Guru Bukti Lemahnya Pendidikan Karakter

Puguh DPRD Jatim: Kasus Siswa Keroyok Guru Bukti Lemahnya Pendidikan Karakter
Puguh DPRD Jatim: Kasus Siswa Keroyok Guru Bukti Lemahnya Pendidikan Karakter

Kasus pengeroyokan guru oleh siswa yang terjadi di sejumlah daerah menjadi perhatian serius berbagai pihak. Anggota DPRD Jawa Timur, Puguh, menilai peristiwa tersebut sebagai alarm penting bagi dunia pendidikan.

Menurutnya, kejadian tersebut tidak hanya mencoreng nilai-nilai pendidikan, tetapi juga menunjukkan adanya krisis karakter yang perlu segera ditangani secara sistematis.

Puguh menegaskan bahwa sekolah seharusnya menjadi ruang aman bagi pendidik dan peserta didik. Ketika guru justru menjadi korban kekerasan, maka perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan, terutama dalam pembentukan karakter dan budi pekerti siswa.

Kasus Kekerasan terhadap Guru Jadi Sorotan Publik

Dalam beberapa waktu terakhir, publik dihebohkan oleh kasus siswa yang melakukan kekerasan secara berkelompok terhadap guru. Peristiwa ini menuai keprihatinan luas karena bertolak belakang dengan nilai dasar pendidikan yang menjunjung tinggi etika, sopan santun, dan rasa hormat kepada pendidik.

Puguh menilai bahwa fenomena tersebut tidak bisa dianggap sebagai persoalan individual semata. Ada indikasi kuat bahwa lingkungan sosial, pola asuh, serta lemahnya pendidikan karakter turut memengaruhi perilaku siswa.

Oleh karena itu, ia mendorong adanya langkah konkret dari pemerintah daerah dan institusi pendidikan untuk mencegah kejadian serupa terulang.

Puguh DPRD Jatim Tekankan Pentingnya Budi Pekerti

Menanggapi kasus tersebut, Puguh menekankan pentingnya penguatan pendidikan budi pekerti di sekolah. Ia menilai bahwa pendidikan saat ini terlalu berfokus pada capaian akademik, sementara pembentukan karakter kerap terpinggirkan.

Padahal, kecerdasan intelektual tanpa diimbangi akhlak yang baik dapat menimbulkan berbagai persoalan sosial. Menurut Puguh, nilai-nilai seperti saling menghormati, empati, tanggung jawab, dan disiplin harus kembali menjadi fondasi utama pendidikan.

Penguatan budi pekerti tidak hanya menjadi tugas guru agama atau guru PPKn, tetapi harus terintegrasi dalam seluruh mata pelajaran dan aktivitas sekolah.

Peran Sekolah dalam Membentuk Karakter Siswa

Sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk karakter siswa. Selain sebagai tempat transfer ilmu, sekolah juga merupakan ruang pembelajaran sosial bagi anak-anak. Puguh menilai bahwa budaya sekolah yang positif sangat berpengaruh terhadap perilaku siswa sehari-hari.

Ia mendorong sekolah untuk menciptakan lingkungan yang menanamkan nilai saling menghargai antara siswa dan guru. Aturan sekolah harus ditegakkan secara adil dan konsisten, disertai dengan pendekatan pembinaan, bukan sekadar hukuman. Dengan demikian, siswa dapat memahami konsekuensi dari setiap tindakan yang mereka lakukan.

Keterlibatan Orang Tua dan Lingkungan Sosial

Selain sekolah, Puguh menekankan pentingnya peran orang tua dan lingkungan sosial dalam membentuk karakter anak. Menurutnya, pendidikan budi pekerti tidak akan berjalan optimal jika hanya dibebankan kepada sekolah. Pola asuh di rumah memiliki pengaruh besar terhadap sikap dan perilaku siswa.

Ia mengajak orang tua untuk lebih aktif memantau pergaulan anak serta memberikan teladan yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Lingkungan masyarakat juga diharapkan mampu menjadi ruang yang kondusif bagi tumbuhnya nilai-nilai moral dan etika. Sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dinilai menjadi kunci utama dalam mencegah kekerasan di dunia pendidikan.

Evaluasi Kurikulum dan Sistem Pembinaan Siswa

Puguh juga mendorong adanya evaluasi terhadap kurikulum dan sistem pembinaan siswa. Menurutnya, penguatan pendidikan karakter harus diwujudkan secara nyata dalam kebijakan pendidikan, bukan hanya menjadi jargon. Kurikulum perlu memberikan ruang yang cukup bagi pembelajaran nilai dan pembinaan sikap.

Selain itu, ia menilai bahwa layanan bimbingan dan konseling di sekolah harus diperkuat. Guru BK memiliki peran penting dalam mendeteksi potensi masalah perilaku siswa sejak dini. Dengan pendekatan yang tepat, konflik dan tindakan kekerasan dapat dicegah sebelum berkembang menjadi masalah serius.

Perlindungan terhadap Guru Harus Diperkuat

Dalam kasus kekerasan terhadap guru, Puguh menegaskan bahwa negara harus hadir memberikan perlindungan. Guru merupakan pilar utama pendidikan yang memiliki peran besar dalam mencerdaskan generasi bangsa. Ketika guru merasa tidak aman, maka proses pembelajaran pun akan terganggu.

Ia mendorong pemerintah daerah untuk memastikan adanya mekanisme perlindungan hukum dan pendampingan bagi guru yang menjadi korban kekerasan. Langkah ini dinilai penting agar guru dapat menjalankan tugasnya dengan rasa aman dan penuh tanggung jawab.

Harapan DPRD Jatim terhadap Dunia Pendidikan

Puguh berharap kasus pengeroyokan guru dapat menjadi momentum perbaikan dunia pendidikan secara menyeluruh. Ia menegaskan bahwa penguatan budi pekerti harus menjadi prioritas bersama, bukan hanya reaksi sesaat atas sebuah kasus viral.

DPRD Jawa Timur, lanjutnya, siap mendorong kebijakan yang mendukung penguatan pendidikan karakter di sekolah. Dengan pendidikan yang seimbang antara ilmu pengetahuan dan nilai moral, diharapkan generasi muda dapat tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, beretika, dan berakhlak mulia.

Baca Juga : MIN 2 Kota Malang Jadi Laboratorium Pembelajaran Lapangan Mahasiswa UIN Maliki