InfoMalang – Suasana meriah mengundang Kampung Biru Arema, Kelurahan Kidul Dalem, Kecamatan Klojen, pada Sabtu (27/7) ketika puncak acara Festival Kali Brantas 4 resmi digelar. Acara tahunan ini diadakan sebagai bentuk perayaan sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian Sungai Brantas yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Jawa Timur. Dengan rangkaian kegiatan yang melibatkan banyak pihak, festival ini melibatkan unsur budaya, gotong royong, dan edukasi lingkungan sehingga berhasil menarik perhatian warga dan wisatawan.
Festival yang berlangsung selama tiga hari, mulai 25 hingga 27 Juli, diawali di Titik Nol Sumber Brantas Arboretum Kota Batu, yang merupakan hulu Sungai Brantas. Dari hulu, kegiatan berlanjut hingga ke Kota Malang sebagai salah satu wilayah hilir sungai. Rangkaian acara ini menggambarkan keterhubungan antara hulu dan hilir sekaligus, mengingatkan bahwa menjaga kebersihan sungai adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah atau komunitas tertentu.
Baca Juga: Kejar Target 2026, Rehabilitasi Ruas Jalan Gondanglegi–Balekambang Sepanjang 30,4 Km Dikebut
Bersih-Bersih Sungai sebagai Simbol Kesadaran
Pada pagi hari puncak acara, masyarakat Kidul Dalem bersama berbagai komunitas melakukan kegiatan rijik-rijik, yakni membersihkan bantaran dan aliran Sungai Brantas. Kegiatan ini bukan sekedar rutinitas, namun simbol komitmen warga dalam menjaga ekosistem sungai. Menurut panitia, rijik-rijik diikuti oleh puluhan warga, pegiat lingkungan, hingga komunitas peduli sungai. Dengan semangat gotong royong, mereka mengumpulkan sampah, membersihkan area sekitar, dan mengajak pengunjung untuk ikut berpartisipasi.
“Membersihkan sungai bukan hanya untuk keindahan, tetapi juga untuk menjaga keberlangsungan hidup. Brantas adalah sumber air, sumber kehidupan, dan identitas masyarakat Malang,” ujar Ki Demang Isa Wahyudi, Ketua Forum Komunikasi Kelompok Sadar Wisata (Forkom Pokdarwis) Kota Malang.
Festival Panggung Budaya Meriahkan
Setelah kegiatan bersih-bersih selesai, pengunjung disuguhkan berbagai pertunjukan seni yang menjadi daya tarik utama festival ini. Salah satunya adalah nyanyian Arema Kali Brantas yang dibawakan oleh kelompok angklung bambu anak-anak Kidul Dalem. Pertunjukan ini mendapat sambutan hangat dari penonton karena menghadirkan nuansa lokal yang kental dan pesan edukasi tentang pentingnya menjaga sungai.
Tak hanya itu, sejumlah perwakilan kampung tematik lain turut serta memeriahkan acara. Di antaranya Kampung Lampion, Kampung Putih, Kampung Tridi, dan Kampung Budaya Polowijen yang menampilkan berbagai tarian tradisional dan lagu daerah. Bantengan Arema, salah satu atraksi budaya khas Malang, juga ikut tampil memukau pengunjung dengan gerakannya yang energik dan sarat makna filosofi.
Edukasi melalui Kerajinan dan Ritual
Tak henti-hentinya pada hiburan, Festival Kali Brantas 4 juga menghadirkan edukasi kreatif. Perwakilan Kampung Gerabah Penanggungan dan Kampung Keramik Dinoyo menampilkan demo pembuatan kerajinan tangan. Pengunjung bisa melihat langsung proses pembentukan gerabah dan keramik, bahkan mencoba membuatnya sendiri.
Sebagai penutup, dilaksanakan nyadran atau doa bersama sebagai bentuk rasa syukur atas keberkahan sungai. Acara ini kemudian ditutup dengan ruwatan wayang topeng Ronggeng Tangis Kali Brantas , sebuah ritual tradisional yang diyakini dapat membersihkan lingkungan dan batin manusia dari energi negatif.
“Melalui budaya, ritual, dan gotong royong, masyarakat diajak menyadari bahwa menjaga sungai berarti menjaga kehidupan, hasrat, dan jati diri,” ujar Irmawan Yutanto , Ketua Pokdarwis Kampung Biru Arema.
Menggaungkan Pesan Lingkungan
Festival ini digelar dalam rangka memperingati Hari Sungai Nasional yang jatuh setiap 27 Juli. Momen tersebut dimanfaatkan untuk menggaungkan pesan penting tentang pelestarian sungai. Sungai Brantas, yang panjangnya mencapai lebih dari 300 kilometer, mengalir ke berbagai kota di Jawa Timur dan menjadi sumber kehidupan jutaan orang. Oleh karena itu, menjaga kebersihannya adalah kewajiban bersama.
Menurut Ki Demang, melalui festival ini gagal ingin mengubah cara memandang masyarakat terhadap sungai. “Sungai bukan beban atau tempat pembuangan sampah, tapi berkah yang harus dijaga. Dengan menjaga sungai, kita menjaga kehidupan,” tegasnya.
Harapan untuk Masa Depan
Keberhasilan Festival Kali Brantas 4 memberikan harapan baru bagi upaya pelestarian lingkungan berbasis masyarakat. Dengan melibatkan warga, komunitas seni, hingga pelaku usaha, festival ini membuktikan bahwa kolaborasi bisa menjadi kunci dalam menciptakan perubahan positif.
Diharapkan, kegiatan seperti ini tidak hanya menjadi acara seremonial, tetapi mampu menumbuhkan kesadaran kolektif untuk terus menjaga kelestarian Sungai Brantas. Sebab, sungai yang bersih bukan hanya untuk hari ini, melainkan juga warisan berharga bagi generasi mendatang.
Melalui rangkaian budaya, edukasi, dan aksi nyata, Festival Kali Brantas 4 mengajarkan bahwa menjaga sungai sama artinya dengan menjaga kehidupan. Semoga pesan ini terus mengalir, sebagaimana air Brantas yang tak pernah berhenti memberikan kehidupan bagi masyarakat Jawa Timur.












