Infomalangcom – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak lagi terbatas pada industri teknologi.
Di bulan Ramadan, teknologi berbasis AI mulai masuk ke ruang ibadah, edukasi agama, hingga kebiasaan sosial umat Muslim.
Pertanyaannya bukan lagi apakah AI hadir, melainkan sejauh mana ia membantu atau justru menggeser makna spiritual Ramadan itu sendiri.
AI dan Transformasi Praktik Ramadan Modern
Transformasi digital dalam praktik keagamaan semakin terlihat nyata. Sejumlah kajian seperti “Artificial Intelligence and Legal Certainty in Determining Ramadan and Syawal” yang dimuat di jurnal UIN Gusdur menyoroti bagaimana AI dapat digunakan untuk membantu perhitungan astronomi dalam menentukan awal Ramadan dan Syawal secara lebih presisi.
Di tingkat individu, aplikasi berbasis AI kini menyediakan pengingat sahur dan berbuka yang menyesuaikan lokasi pengguna secara otomatis.
Platform seperti Muslim Pro bahkan memperkenalkan bot AI Islami untuk menjawab pertanyaan keagamaan menjelang Ramadan, sebagaimana dilaporkan oleh Jawapos Radar Situbondo.
Aplikasi ngaji.ai juga hadir dengan fitur berbasis AI untuk membantu pengguna menjaga konsistensi membaca Al-Qur’an selama Ramadan, dilaporkan oleh Silampari TV dan Medcom.id.
Ini menunjukkan bahwa AI bukan sekadar konsep, melainkan telah menjadi bagian dari pengalaman ibadah sehari-hari.
Selain itu, algoritma media sosial berperan besar dalam distribusi konten dakwah Ramadan. Ceramah, kutipan ayat, hingga pengingat ibadah kini dikurasi berdasarkan preferensi pengguna. Transformasi ini nyata dan terukur, bukan sekadar asumsi.
AI dalam Membantu Ibadah: Efisiensi atau Ketergantungan?
Kemudahan yang ditawarkan AI menghadirkan efisiensi. Fitur pengingat otomatis membantu menjaga jadwal ibadah tetap teratur.
Aplikasi pembaca Al-Qur’an dengan tafsir instan memungkinkan pemahaman cepat terhadap ayat tertentu.
Namun, sejumlah penelitian seperti “Kontribusi AI pada Studi Al Quran di Era Digital” dari IAI Tabah menekankan bahwa penggunaan AI dalam studi keislaman perlu diimbangi dengan literasi kritis.
Kemudahan akses berpotensi menciptakan ketergantungan pada jawaban instan.
Ringkasan ceramah berbasis AI juga memudahkan konsumsi konten religius dalam waktu singkat. Tetapi, pengalaman mendengarkan ceramah secara utuh memiliki dimensi reflektif yang tidak selalu tergantikan oleh ringkasan otomatis.
Di sinilah muncul pertanyaan penting: apakah AI memperdalam praktik ibadah atau hanya mempercepat konsumsi informasi agama tanpa proses internalisasi yang mendalam.
Baca Juga: Warung Saat Ramadan, Antara Toleransi, Hak Usaha, dan Etika Sosial
Teknologi dan Tradisi: Apakah Nilai Ramadan Bergeser?
Ramadan identik dengan interaksi sosial, kebersamaan, dan tradisi komunitas. Kini, sebagian aktivitas seperti ngabuburit bergeser menjadi konsumsi konten digital.
Dakwah singkat dan kultum AI-generated mulai bermunculan. Kajian “Tradition Meets Technology: AI di NU & Muhammadiyah” dalam Indonesian Contemporary Journal membahas bagaimana organisasi Islam merespons integrasi teknologi tanpa mengabaikan nilai humanis.
Ini menunjukkan adanya upaya menyeimbangkan inovasi dan tradisi. Namun, komersialisasi Ramadan berbasis algoritma juga meningkat.
Platform digital memanfaatkan data perilaku pengguna untuk menargetkan iklan produk Ramadan. Fenomena ini memunculkan diskusi tentang apakah nilai spiritual bergeser menjadi momentum ekonomi digital.
Etika Penggunaan AI dalam Konteks Keagamaan
Penggunaan AI dalam konteks agama menuntut kehati-hatian. Validitas sumber menjadi isu utama. Sistem AI bekerja berdasarkan data yang tersedia, sehingga potensi bias dan kesalahan interpretasi tetap ada.
Penelitian di Springer berjudul “Muslim Students’ Acceptance of AI in Islamic Education” menunjukkan bahwa penerimaan AI dalam pendidikan Islam dipengaruhi oleh tingkat kepercayaan terhadap akurasi dan otoritas informasi.
Otoritas ulama tetap memegang peran sentral. Jawaban mesin tidak memiliki tanggung jawab moral seperti manusia.
Karena itu, pengguna perlu memverifikasi informasi dan tidak menjadikan AI sebagai satu-satunya rujukan keagamaan.
Tanggung jawab literasi digital menjadi kunci agar teknologi tidak menimbulkan misinformasi atau simplifikasi berlebihan terhadap ajaran agama.
Dampak Psikologis dan Spiritualitas
Secara psikologis, AI menawarkan rasa terstruktur dan terarah. Jadwal ibadah personal berbasis data dapat meningkatkan konsistensi. Namun, Ramadan juga merupakan momen refleksi dan kontemplasi.
Di era serba instan, jawaban cepat sering kali menggantikan proses perenungan mendalam. Tantangan terbesar adalah menjaga kekhusyukan di tengah notifikasi dan distraksi digital.
AI dapat menjadi alat bantu, tetapi kualitas spiritual tetap bergantung pada kesadaran individu. Teknologi tidak dapat menggantikan niat, empati, dan pengalaman batin yang menjadi inti Ramadan.
Masa Depan Ramadan di Era Kecerdasan Buatan
Integrasi AI dalam masjid dan komunitas bukan hal mustahil. Sistem pengelolaan donasi digital, jadwal kajian otomatis, hingga personalisasi rekomendasi ibadah berbasis data dapat berkembang lebih jauh.
Laporan tentang integrasi AI dalam pendidikan Islam menunjukkan tren peningkatan penggunaan teknologi untuk pembelajaran agama.
Ini menandakan masa depan Ramadan akan semakin terhubung dengan sistem digital. Namun, batasan perlu dijaga. AI seharusnya menjadi alat yang memperkuat praktik spiritual, bukan menggantikannya.
Ramadan di era AI bukan tentang memilih antara teknologi atau tradisi, melainkan bagaimana keduanya dapat berjalan selaras tanpa mengorbankan esensi ibadah yang bersifat manusiawi dan reflektif.
Baca Juga: Ngabuburit di Era Digital, Dari Masjid ke Media Sosial











