Infomalangcom – Bulan suci Ramadhan selalu membawa perubahan dinamika sosial dan ekonomi, termasuk dalam implementasi program strategis nasional.
Di awal tahun 2026 ini, Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah responsif untuk memastikan keberlanjutan intervensi gizi di tengah masyarakat.
Fokus utama terletak pada wilayah Jawa Timur, khususnya Kota dan Kabupaten Malang, di mana program MBG selama Ramadhan 2026 mengalami transformasi teknis yang signifikan guna menghormati kekhusyukan ibadah puasa sekaligus menjaga standar kesehatan masyarakat.
Transformasi Skema Penyaluran di Satuan Pelayanan (SPPG) Malang
Memasuki periode puasa, operasional Satuan Pelayanan Pemakanan Bergizi (SPPG) di Malang Raya tidak berhenti, melainkan bertransformasi. Berdasarkan kebijakan terbaru, jadwal penyaluran bagi siswa sekolah umum diatur secara presisi.
Pasca libur awal puasa, kegiatan distribusi kembali efektif pada Senin, 23 Februari 2026. Perubahan jam operasional dapur umum kini lebih fleksibel untuk mengakomodasi kebutuhan penerima manfaat yang berbeda-beda.
Bagi siswa sekolah umum, paket makanan tetap didistribusikan pada siang hari, namun dengan instruksi penyimpanan yang jelas agar dapat dikonsumsi saat berbuka.
Sementara itu, untuk lingkungan Pondok Pesantren di wilayah Kabupaten Malang, skema “omprengan” tetap dipertahankan dengan pergeseran waktu masak.
Proses pengolahan bahan pangan dimulai pada siang hari sehingga makanan dalam kondisi segar dan hangat tepat saat adzan maghrib berkumandang.
Langkah ini diambil untuk memastikan santri tetap mendapatkan asupan protein dan mikro-nutrien esensial setelah seharian berpuasa.
Prioritas Kelompok 3B: Intervensi Tanpa Jeda
Meskipun terdapat penyesuaian jadwal bagi pelajar, layanan untuk kelompok prioritas 3B (Balita, Ibu Hamil, dan Ibu Menyusui) dilaporkan tetap berjalan tanpa jeda.
Hal ini dikarenakan kelompok tersebut masuk dalam kategori rentan stunting yang memerlukan pemenuhan gizi harian secara kontinu.
Di beberapa titik di Kota Malang, distribusi bagi ibu hamil dan balita dilakukan melalui posko-posko komunitas atau diantar langsung ke rumah oleh petugas lapangan, memastikan bahwa asupan gizi untuk seribu hari pertama kehidupan (HPK) tidak terganggu oleh dinamika bulan Ramadhan.
Baca Juga : Monitoring MBG di Malang, Menko Pangan Sidak SPPG
Inovasi Menu Kering: Solusi Higienitas dan Daya Tahan
Tantangan utama MBG selama Ramadhan 2026 adalah risiko kerusakan makanan (basi) akibat jeda waktu antara distribusi dan waktu konsumsi. Mengantisipasi hal ini, ahli gizi di tiap unit layanan Malang telah merancang “Menu Kering Siap Santap”.
Inovasi ini mengeliminasi penggunaan santan, kuah encer, atau bahan-bahan yang memiliki kadar air tinggi yang mudah terfermentasi oleh bakteri dalam suhu ruang.
Struktur paket makanan kini beralih ke komponen yang lebih stabil secara mikrobiologis. Protein utama yang biasanya berupa gulai atau semur kini digantikan dengan olahan kering seperti telur rebus utuh, abon sapi berkualitas tinggi, atau protein nabati yang diproses garing.
Karbohidrat tetap terjaga dengan nasi tekstur pulen kering atau substitusi roti gandum untuk variasi. Unsur vitamin pun mengalami penyesuaian; jika sebelumnya buah potong sering menjadi pilihan, kini digantikan dengan buah utuh seperti apel Malang, jeruk, atau pisang yang secara alami terlindungi oleh kulitnya.
Integrasi Ekonomi Lokal dan Stabilitas Harga
Keberlangsungan program MBG di Malang juga memiliki kaitan erat dengan penguatan ekonomi lokal. Produksi menu kering ini tetap memberdayakan UMKM katering di sekitar SPPG.
Kerja sama ini memastikan bahwa perputaran uang tetap berada di tingkat lokal meskipun pola menu berubah.
Di sisi lain, Pemerintah daerah terus melakukan pengawasan ketat terhadap Harga Eceran Tertinggi (HET) dan Harga Acuan Penjualan (HAP).
Hal ini dilakukan agar pengadaan bahan pangan untuk program MBG tidak memicu inflasi di pasar tradisional Malang yang biasanya cenderung bergejolak selama Ramadhan.
Edukasi Gizi dan Pengemasan Ramah Lingkungan
Selain isi menu, aspek pengemasan juga mendapat perhatian khusus. Penggunaan tas kain atau tote bag kini lebih diintensifkan dibandingkan kemasan sekali pakai. Hal ini memudahkan para siswa untuk membawa pulang paket makanan dengan aman tanpa risiko tumpah.
Di setiap kemasan, disertakan stiker edukasi mengenai cara penyimpanan yang benar dan pentingnya mengonsumsi kurma sebagai sumber energi instan saat berbuka, yang kini juga menjadi komponen tambahan dalam paket Ramadhan.
Untuk informasi lebih mendalam mengenai kebijakan pangan nasional dan update distribusi gizi, masyarakat dapat merujuk pada kanal resmi Badan Gizi Nasional atau memantau siaran perkembangan terkini melalui Kanal YouTube Sekretariat Presiden yang rutin memberikan laporan progres program strategis pemerintah di daerah.
Baca Juga : Data Terbaru: 3.561 Orang di Kabupaten Malang Belum Mendapat MBG













