infomalangcom – Berbicara kuliner khas Kota Malang, banyak orang mungkin lebih dulu teringat bakso atau rawon. Padahal, ada sajian mie legendaris yang tak kalah otentik, yaitu cwie mie.
Berbeda dari mie ayam khas Solo atau Wonogiri yang disiram kuah berbumbu, cwie mie Malang biasanya disajikan kering dengan taburan ayam rebus di atas mienya.
Berikut tiga rekomendasi cwie mie Malang yang wajib dicoba.
Cwie Mie Isor Uwit
Warung Cwie Mie Isor Uwit sudah berdiri sejak 1980, dirintis Pak Sai yang mulanya berjualan dari gerobak di depan Pasar Oro-oro Dowo.
Usahanya sempat berpindah lokasi, mulai dari depan Sekolah Frateran, Jalan Bromo, hingga akhirnya menetap di Jalan Guntur, Klojen, Kota Malang, dan kini dilanjutkan putrinya, Ririn.
Ciri khas Cwie Mie Isor Uwit terletak pada tekstur mienya yang lebih kecil dan tipis dibanding kebanyakan cwie mie lain di Malang. Semua bahan disiapkan sendiri untuk menjaga cita rasa otentiknya.
Warung ini menyajikan tiga varian menu: cwie mie biasa tanpa topping, cwie mie dengan topping bakso, serta cwie mie istimewa dengan tambahan hati ampela, menjadikan Isor Uwit pelopor menu cwie mie bertopping hati ampela di Malang.
Harga semangkuk cwie mie biasa dibanderol Rp12.000, sementara varian dengan tambahan bakso dan hati ampela dijual Rp17.000. Warung ini buka setiap hari pukul 10.00–21.00 WIB.
Dengan sejarah panjang sejak 1980 dan cita rasa yang konsisten dipertahankan lintas generasi, Cwie Mie Isor Uwit layak menjadi tujuan utama pencinta kuliner legendaris.
Baca Juga: Rekomendasi Kuliner Malam di Malang, Ada Sego Resek hingga Rawon Legendaris
Pangsit Cwie Mie Soemarto
Pangsit Cwie Mie Soemarto dikenal sebagai salah satu cwie mie legendaris di kawasan Simpang Balapan, Malang. Usaha ini telah berjalan sejak 1965 dan kini diteruskan oleh generasi ketiga.
Berawal dari sang kakek, Soemarto, usaha ini diteruskan oleh generasi kedua, kemudian dilanjutkan oleh Sutris hingga saat ini.
“Ini sudah generasi ketiga. Mungkin sejak 1965. Dulu kakek saya, Soemarto yang berjualan lalu diteruskan oleh bapak kemudian saya,” ujar Sutris, pemilik Pangsit Cwie Mie Soemarto.
Kuliner ini identik dengan gerobak hijau yang lama menempati kawasan Jalan Simpang Balapan Ijen, sebelum akhirnya berpindah ke Jalan Jakarta, Kota Malang.
Semangkuk cwie mie di sini disajikan dengan daging ayam cincang halus, kerupuk pangsit, sawi, dan taburan bawang goreng, dengan kuah disajikan terpisah.
Pengunjung dapat memilih menu kering atau berkuah, dengan tambahan topping seperti bakso, siomay, dan hati ampela.
Harganya terjangkau, mulai Rp9.000 hingga Rp10.000 tergantung topping. Bagi pemburu kuliner legendaris, siang hari menjadi waktu terbaik berkunjung, mengingat tempat ini kerap ramai saat jam makan siang.
Depot Pangsit Mie Bromo Pojok
Depot Pangsit Mie Bromo Pojok telah berdiri sejak tahun 1984. Nama “Bromo Pojok” berasal dari lokasi awal depot ini yang berada di sebuah pojokan perempatan Jalan Bromo, sebelum akhirnya pada awal 1990-an lokasi utamanya dipindahkan ke Jalan Patimura No. 53, Klojen, Kota Malang.
Salah satu keistimewaan depot ini adalah mie buatan sendiri tanpa bahan pengawet yang diproduksi setiap hari, sehingga teksturnya tetap kenyal, lembut, dan segar.
Selain menu utama pangsit mie, tersedia pula pilihan tambahan seperti siomay, bubur ayam, hingga es campur. Harga menu di sini ramah kantong, dengan seporsi pangsit mie dibanderol mulai Rp17.000 hingga Rp32.000 tergantung varian, bubur ayam mulai Rp13.000, dan es campur mulai Rp3.500.
Depot ini buka setiap hari pukul 09.00–18.00 WIB, dan kini telah memiliki beberapa cabang di Jalan Wilis, Jalan Sudanco Supriadi, Sawojajar, hingga Malang Town Square (Matos).
Perbandingan 3 Cwie Mie
Dari sisi sejarah, Pangsit Cwie Mie Soemarto tercatat paling tua, berdiri sejak 1965, disusul Cwie Mie Isor Uwit sejak 1980, dan Depot Pangsit Mie Bromo Pojok sejak 1984.
Dari segi topping, Isor Uwit dan Soemarto sama-sama menawarkan variasi bakso dan hati ampela, sementara Bromo Pojok menghadirkan pilihan lebih beragam termasuk siomay dan bubur ayam.
Soal harga, Soemarto tergolong paling terjangkau, diikuti Isor Uwit, sementara Bromo Pojok berada di kisaran menengah dengan porsi dan variasi menu lebih lengkap.
Bagi pemburu kuliner legendaris, Pangsit Cwie Mie Soemarto menjadi pilihan tepat karena sejarahnya paling panjang. Bagi pencinta topping lengkap, Depot Pangsit Mie Bromo Pojok layak dicoba karena variasi menunya beragam.
Sementara bagi wisatawan yang ingin mencicipi cita rasa otentik khas Malang dengan harga terjangkau, Cwie Mie Isor Uwit bisa menjadi pilihan yang pas.
Tips Memilih Cwie Mie Malang
Perhatikan karakter mie yang tipis dan teksturnya, karena hal ini menjadi pembeda utama cwie mie Malang dibanding mie ayam pada umumnya. Pilih topping sesuai selera, apakah lebih menyukai bakso, hati ampela, atau siomay.
Usahakan datang pada jam operasional yang tepat untuk menghindari kehabisan, mengingat beberapa tempat kerap ramai menjelang siang. Pertimbangkan pula lokasi tempat makan jika ingin sekaligus berkeliling menikmati suasana pusat Kota Malang.
Terakhir, ingat bahwa cwie mie khas Malang umumnya disajikan lebih kering dengan taburan ayam di atas mie, berbeda dari mie ayam pada umumnya yang disiram kuah berbumbu.
Baca Juga: Taman Jajan Al Fatih, Rekomendasi Tempat Kuliner yang Menarik di Malang













