Breaking

Ronde Titoni 1948, Jejak Kuliner Legendaris yang Tetap Bertahan di Kota Malang

Ronde Titoni 1948, Jejak Kuliner Legendaris yang Tetap Bertahan di Kota Malang
Ronde Titoni menjadi salah satu kuliner lama Kota Malang yang memiliki perjalanan usaha panjang.

Infomalangcom – Ronde Titoni menjadi salah satu kuliner lama Kota Malang yang memiliki perjalanan usaha panjang.

Keberadaannya memperlihatkan bagaimana makanan tradisional dapat tetap dikenal ketika pilihan kuliner terus berkembang.

Sejarah Ronde Titoni yang Dimulai Sejak 1948

Ronde Titoni mulai dikenal sejak 1948. Pemerintah Kota Malang mencatat usaha tersebut dirintis Abdul Hadi dengan berjualan secara keliling di sekitar Pasar Besar dan Kidul Dalem.

Pada malam hari, dagangannya biasa berada di depan toko arloji Titoni. Dari tempat itulah nama Ronde Titoni kemudian dikenal oleh pelanggan.

Perjalanan tersebut menjadi bagian penting dari identitas usaha. Cerita perjalanan usaha ini ikut membentuk identitasnya.

Informasi pemerintah daerah juga menunjukkan bahwa usaha ini kemudian diteruskan oleh keluarga.

Perjalanan Ronde Titoni dari Dagangan Keliling hingga Kedai Tetap

Setelah bertahun-tahun berjualan dengan cara dipikul, Ronde Titoni berkembang menjadi kedai.

Pemerintah Kota Malang mencatat pada 1988 usaha tersebut mulai menetap di Jalan Zainul Arifin Nomor 17.

Pengelolaannya kemudian diteruskan oleh Sugeng, anak Abdul Hadi, bersama anggota keluarga lainnya.

Perubahan menjadi kedai menunjukkan kemampuan usaha menyesuaikan diri tanpa meninggalkan identitas.

Keberadaan cabang yang dikelola anak dan cucu pendiri juga memperlihatkan bahwa regenerasi menjadi bagian dari perjalanan Ronde Titoni.

Ronde dan Angsle, Sajian yang Menjadi Ciri Khas

Menu utama Ronde Titoni adalah ronde, yang tersedia dalam pilihan basah dan kering. Pada ronde basah, bulatan tepung beras disajikan bersama kuah jahe.

Sementara itu, ronde kering menyajikan isi dan kuah secara terpisah, dengan bulatan ronde dilapisi bubuk kacang.

Angsle juga menjadi menu yang dikenal di kedai tersebut.

Disporapar Kota Malang menggambarkan angsle Titoni sebagai sajian berisi kacang hijau, potongan roti tawar, agar-agar mutiara, dan pethulo yang disiram kuah santan dengan rasa gurih manis.

Pilihan lainnya mencakup kacang kuah, roti goreng, dan cakwe.

Cita Rasa Ronde Titoni di Tengah Kuliner Malang

Karakter Ronde Titoni terletak pada sajian hangat yang sesuai dinikmati ketika malam. ANTARA mencatat kuah jahenya memiliki perpaduan rasa manis dan pedas.

Pada ronde basah, bola tepung beras berisi gula merah berpadu dengan kuah jahe dan taburan kacang tanah sangrai.

Kombinasi tersebut memberikan rasa khas. Ronde tidak hanya berfungsi sebagai makanan penghangat, melainkan juga menjadi pilihan kuliner malam yang menghubungkan pengunjung dengan tradisi makan yang telah lama berkembang di Malang.

baca juga : Depot Kayutangan, Pilihan Kuliner yang Cocok untuk Menikmati Cita Rasa Khas Malang

Ronde Titoni sebagai Bagian dari Kuliner Legendaris Kota Malang

Usia usaha menjadi salah satu alasan Ronde Titoni dikenal sebagai kuliner legendaris.

ANTARA pernah memasukkannya dalam daftar tempat makan legendaris Kota Malang berdasarkan buku kuliner terbitan 2010.

Sementara itu, penelitian mengenai gastronomi jajanan legendaris di Kota Malang menempatkan Ronde Titoni sebagai salah satu objek yang memiliki nilai sejarah dan budaya.

Nilai tersebut membuat Ronde Titoni lebih dari sekadar makanan. Sejarah, lokasi, keluarga pengelola, dan pengalaman pelanggan membentuk cerita yang memperkaya identitas kuliner kota.

Bertahan Lintas Generasi di Tengah Perubahan Zaman

Mempertahankan usaha sejak 1948 tentu berlangsung di tengah perubahan kebiasaan konsumsi dan perkembangan kuliner.

IDN Times mencatat pemilik Ronde Titoni memilih mempertahankan usahanya dengan pendekatan yang sesuai karakter bisnisnya, meskipun promosi kuliner semakin banyak memanfaatkan teknologi.

Regenerasi keluarga juga menjadi kekuatan penting. Ketika anak dan cucu pendiri terlibat dalam pengelolaan, pengetahuan mengenai usaha dapat diteruskan.

Keberlanjutan semacam ini membantu menjaga identitas kuliner sekaligus memberi ruang beradaptasi dengan zaman.

Lokasi dan Menu yang Perlu Diketahui Pengunjung

Ronde Titoni berada di Jalan Zainul Arifin Nomor 17, Kota Malang. Sumber Pemerintah Kota Malang mencatat kedai menyediakan ronde basah, ronde kering, angsle, kacang kuah, roti goreng, dan cakwe.

Informasi jam buka dapat berubah mengikuti kondisi pengelolaan, sehingga calon pengunjung sebaiknya memeriksa informasi terbaru sebelum datang.

Kedai ini menawarkan pengalaman menikmati makanan tradisional dalam suasana usaha yang telah lama menjadi bagian dari kawasan tersebut.

Bagi pencinta kuliner sejarah, keberadaan lokasi tetap memberikan konteks tambahan ketika mencicipi hidangan.

Nilai Budaya dan Potensi Ronde Titoni sebagai Wisata Kuliner

Ronde Titoni memperlihatkan bahwa kuliner dapat menjadi bagian dari identitas kota.

Makanan yang diwariskan melalui keluarga membawa cerita tentang perjalanan usaha dan kebiasaan masyarakat menikmati hidangan hangat.

Keberadaannya juga menunjukkan pentingnya regenerasi dalam pelestarian kuliner lokal.

Ketika generasi baru ikut mengelola dan mengenalkan kembali makanan tradisional, warisan tersebut mempunyai peluang untuk terus dikenal.

Ronde Titoni 1948 akhirnya bukan sekadar tempat menikmati ronde, tetapi juga bagian dari perjalanan kuliner Kota Malang yang masih dapat ditemui hingga sekarang.

baca juga : Sego Babat Cak Fauzi, Sajian Gurih yang Menarik untuk Dicoba Pecinta Kuliner Malang

Author Image

Author

rizal habibi