UPDATE MALANG RAYA Kabar terbaru, agenda, layanan publik, dan informasi penting untuk warga Pantau Update
THE AUTHORITY OF MALANG RAYA
7 November 2026Malang Raya
Kirim Info Warga
Tonton live: Diskusi Publik 10 Tahun Kampung Warna-Warni Jodipan, Selasa 10 November 2026 pukul 13.00 WIB
7 November 2026Malang Raya

Catatan 10: Catatan Faizal Alfa, Nilai Dasar

Bagikan

242 kali dibaca

Satu kesempatan Saya ngobrol dengan seorang pelaku usaha di bidang makanan. Beliau membuka sebuah kafe ala ala hidden gem di Kota Wisata Batu. Tempatnya bener-bener nyelempit, sembunyi diantara jalur dalam perkampungan. Memang, mobil bisa masuk dan papasan, namun jika tidak benar-benar yakin dengan lokasi yang dituju, kemungkinan besar akan ragu-ragu.

Di tahap awal, Saya bertanya, apa keunggulan dari kafe yang dibuka? Tentu saja jawaban yang keluar adalah : makanannya enak. Sekilas tidak masalah dan tidak ada yang salah dari jawaban yang diberikan, kemudian dari situlah diskusi dimulai, bahwa makanan yang enak, bukanlah nilai tambah yang dapat ditawarkan. Makanan yang enak, bagi sebuah usaha di bidang F&B adalah sebuah nilai dasar yang perlu dipastikan sedari awal.

“Kalau makanannya tidak enak, mending enggak usah jual makanan.”

Karena yang bikin usaha kuliner nggak cuman survive namun sustain, adalah repeat customer, yakni para pelanggan yang beli lagi dan beli terus.

Terdengar sepele tapi dampaknya gede, bahwa di usaha apapun, pastikan nilai dasar dari usaha tersebut sudah ditentukan dan dipastikan beres.

Kalau kuliner -> makanannya enak
Kalau toko -> barang lengkap dan murah
Kalau konsultan -> punya metodologi

Karena nilai dasar ini adalah basic promise, janji dasar yang perlu dikawal sedari awal. Kalau meleset, walhasil usahanya akan jalan hit and run. Ada pembeli tapi ya kudu nyari pembeli baru terus dan terus, karena pembeli yang sudah pernah merasakan, kapok dan ogah diajak kembali beli.

Kondisi ini diperparah dengan trend perilaku FOMO, alias fear of missing out, perilaku ikut ikutan, yang lagi hype, trending dan viral, nggak mau ketinggalan. Ada Saya temui, sebuah brand makanan, yang belum terlalu kuat basis produknya sebagai dasar di jenis makanan tersebut, namun terburu-buru digoreng animo dan popularitasnya, menggandeng selebgram digass publikasinya, dapat banyak perhatian, rame suasananya, tapi malah jadi malapetaka. Kok bisa? Karena saat diberi aliran serbuan pengunjung, lemah stoknya, masih amburadul preparenya, masih belum konsisten produknya, masih kikuk pelayanannya, dan kurang memadai tempatnya.

Maunya viral karena prestasi, eh malah jadinya bonyok kena serangan massa yang kecewa.

Fenomena viral, trending, hype, itu ibarat pisau bermata dua, karena seperti sebuah proses yang harusnya organik dengan bermetamorfosa, dipaksa dan dipacu lebih awal, lebih cepat, segera jadi segera terkenal.

Percayalah, jika tahu kalkulasi antara tumbuh organik dengan tumbuh menukik karena digas popularitas, kalau tujuannya adalah sustainability dan continuity, maka tumbuh organik akan lebih menggairahkan. Meski kalau terlalu lamban, ya kasian juga, akan disambar dan digilas pemain dengan kapital besar yang selalu pantau pandang peluang.

Beresin dulu nilai dasar dari produk, agar aliran pengunjung yang dibawa mendapatkan kepuasan dan terpenuhi harapan, jangan gegabah trendang trending, viral brutal, tapi kemudian jadi beban, karena makin banyak yang datang, makin jeblok rating dan ulasan, maunya dapat pujian, ternyata malah panen komplainan.

Apa cukup dengan mengandalkan nilai dasar? Tentu tidak, nilai tambah akan memberikan keunggulan yang menguntungkan. Bagaimana menemukan dan menentukan nilai tambah?

Kita bahas di tulisan berikutnya.

Yang belum membaca Catatan sebelumnya boleh nggih dari Catatan 1: Catatan Faizal Alfa, Branding

Bagikan
Arek Malang wajib follow

The Authority of Malang Raya

Mau tahu info akurat, mendalam, dan komprehensif di sekitar Malang? Langsung pantau infomalang.

Tag teman tongkronganmu yang paling sering ketinggalan info.