Breaking

Tingkat Deflasi di Kota Malang Bulan Agustus Masih Rendah, Harga Tomat Jadi Pemicu

InfoMalangTingkat Deflasi di Kota Malang bulan Agustus tercatat sebesar 0,07 persen. Angka tersebut terbilang kecil, namun cukup mencerminkan dinamika ekonomi daerah, khususnya pada sektor kebutuhan pangan. Faktor utama penyebab deflasi kali ini adalah turunnya harga komoditas hortikultura, terutama tomat yang sempat naik tajam pascalibur panjang Juli lalu.

Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, Umar Sjaifudin, penurunan harga ini erat kaitannya dengan momen panen raya. Produksi tomat yang melimpah menekan harga hingga kembali ke kisaran Rp 6.000 per kilogram dari sebelumnya Rp 10.000–Rp 12.000 per kilogram.

Harga Tomat Turun Drastis

Tingkat Deflasi di Kota Malang bulan Agustus salah satunya dipicu oleh harga tomat yang anjlok. Setelah sempat melonjak, harga kini kembali normal. Penurunan hampir 50 persen membuat pasar kembali tenang, meski di sisi lain, petani merasakan imbasnya dengan turunnya pendapatan.

Selain tomat, beberapa komoditas hortikultura lain juga mengalami penurunan harga. Cabai rawit dan sayuran tertentu lebih mudah ditemukan dengan harga lebih terjangkau. Kondisi ini membantu menurunkan tekanan inflasi pangan.

Baca Juga:Pedagang Pasar Besar Desak Respons Cepat Pemkot Malang atas Somasi Retribusi

Komoditas yang Masih Alami Inflasi

Meski Tingkat Deflasi di Kota Malang bulan Agustus tercatat rendah, beberapa komoditas lain justru memberikan andil inflasi. BPS mencatat, harga beras, emas perhiasan, daging ayam ras, pepaya, hingga biaya pendidikan di perguruan tinggi mengalami kenaikan.

Kenaikan tersebut menahan deflasi agar tidak lebih dalam. Artinya, meskipun ada surplus pasokan di sektor hortikultura, kebutuhan pokok lainnya tetap memberi tekanan inflasi. Dengan begitu, keseimbangan harga di Kota Malang masih bisa dipertahankan.

Dampak Bagi Ekonomi Lokal

Tingkat Deflasi di Kota Malang bulan Agustus dipandang wajar oleh BPS. Kondisi ini menunjukkan bahwa inflasi tetap terkendali. Dari sisi positif, masyarakat bisa menikmati harga pangan lebih murah, terutama untuk kebutuhan sehari-hari.

Namun, di sisi lain, petani hortikultura harus menghadapi turunnya harga jual. Jika tren deflasi terjadi terus-menerus, risiko bagi produsen cukup besar. Mereka bisa menahan produksi atau bahkan mengurangi investasi, yang pada akhirnya dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi lokal.

Suara Pedagang Pasar

Tingkat Deflasi di Kota Malang bulan Agustus juga dirasakan langsung oleh pedagang. Riani, pedagang di Pasar Samaan, menyebut penjualan tomat dan sayuran lain kini jauh lebih murah. Meski demikian, penurunan harga tidak serta-merta meningkatkan daya beli masyarakat.

Menurut Riani, warga masih berhati-hati dalam berbelanja karena kondisi ekonomi belum sepenuhnya pulih. Ia bahkan menyebut omzet tokonya turun sekitar 20 persen dibanding bulan lalu. Hal ini memperlihatkan bahwa deflasi tidak selalu berbanding lurus dengan tingginya konsumsi.

Risiko Jika Deflasi Berlanjut

Tingkat Deflasi di Kota Malang bulan Agustus memang tergolong rendah, namun tetap perlu diwaspadai. Jika penurunan harga terus terjadi secara berulang setiap bulan, perekonomian bisa menghadapi tantangan serius.

Produsen bisa enggan memproduksi dalam jumlah besar karena khawatir harga terus jatuh. Selain itu, investasi di sektor pangan bisa melemah. Jika hal ini berlanjut, perlambatan ekonomi daerah tidak bisa dihindari.

Peran Panen Raya

Tingkat Deflasi di Kota Malang bulan Agustus juga memperlihatkan betapa besarnya pengaruh panen raya terhadap pergerakan harga. Saat panen tiba, pasokan melimpah sehingga harga otomatis turun. Namun, kondisi ini sering membuat petani mengalami kerugian karena biaya produksi tidak sebanding dengan hasil penjualan.

Fenomena ini menunjukkan perlunya keseimbangan antara kebijakan pengendalian harga dan perlindungan terhadap petani. Pemerintah daerah dapat mengambil langkah untuk menstabilkan harga dengan menjaga rantai distribusi agar lebih efisien.

Deflasi dan Daya Beli

Tingkat Deflasi di Kota Malang bulan Agustus tidak langsung memperbaiki daya beli masyarakat. Harga memang turun, tetapi konsumsi masyarakat tetap terbatas. Banyak warga memilih berbelanja seperlunya saja, karena faktor kewaspadaan terhadap kondisi ekonomi.

Hal ini membuktikan bahwa indikator deflasi tidak bisa dilihat hanya dari angka semata, melainkan juga dari perilaku masyarakat dalam berbelanja dan mengelola pengeluaran.

Inflasi Terkendali, Deflasi Mengintai

Tingkat Deflasi di Kota Malang bulan Agustus adalah bagian dari dinamika ekonomi yang sehat. Selama inflasi masih bisa dikendalikan, kondisi pasar relatif stabil. Namun, keberlanjutan tren deflasi harus tetap diwaspadai agar tidak menekan produsen dan sektor pertanian.

Dengan keseimbangan harga pangan, biaya pendidikan, serta kebutuhan lainnya, Kota Malang masih berada dalam jalur aman.

Kesadaran Ekonomi Masyarakat

Tingkat Deflasi di Kota Malang bulan Agustus juga menjadi refleksi kesadaran ekonomi warga. Mereka kini lebih selektif dalam mengatur belanja rumah tangga. Sikap ini bisa membantu menjaga stabilitas, tetapi juga menandakan bahwa daya konsumsi masih tertahan.

Kebijakan ekonomi ke depan perlu memperhatikan keseimbangan ini. Deflasi memang memberikan keuntungan jangka pendek bagi konsumen, namun keberlanjutan produktivitas petani dan pedagang tetap harus dijaga.

Baca Juga:Kebijakan Baru Pemkab Malang, Mobil Dinas Tidak Boleh Dipakai Sementara