Infomalangcom – Di tengah pesatnya modernisasi, menjaga memori kolektif sebuah kota menjadi tantangan besar, terutama di hadapan generasi muda yang lebih akrab dengan navigasi satelit daripada narasi sejarah.
Menyadari fenomena ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) meluncurkan inisiatif kreatif untuk melestarikan jati diri daerah.
Melalui rubrik digital bertajuk “Menolak Lupa”, Pemkot Malang secara masif memproduksi konten yang mengulas asal-usul nama wilayah atau toponimi di Bumi Arema.
Langkah ini bukan sekadar mengikuti tren media sosial, melainkan strategi jitu untuk memastikan bahwa sejarah lokal tetap relevan dan dapat diakses dengan mudah oleh Gen Z yang cenderung mulai berjarak dengan latar belakang sosiologis kota tempat tinggal mereka sendiri.
Transformasi Strategi Komunikasi Publik di Era Gen Z
Transformasi cara berkomunikasi menjadi pilar pertama dalam inovasi ini. Jika dahulu informasi mengenai sejarah penamaan perkampungan atau jalan di Malang hanya dapat ditemukan di gudang arsip atau literatur akademik yang berat, kini masyarakat cukup menggulir layar ponsel untuk mendapatkan pengetahuan tersebut.
Kepala Diskominfo Kota Malang, M. Nur Widianto, yang akrab disapa Wiwid, menjelaskan bahwa penguatan rubrikasi digital ini adalah bentuk konkret dalam menerjemahkan visi pimpinan daerah untuk menjaga ingatan kolektif warga.
Strategi ini secara spesifik menyasar Generasi Z yang memiliki karakteristik visual dan menyukai durasi konten yang singkat namun padat.
Dengan menyisipkan unsur grafis yang menarik, narasi yang segar, serta pemanfaatan platform populer, sejarah tidak lagi dianggap sebagai materi yang membosankan.
Edukasi ini penting agar masyarakat tidak hanya mengenal wilayahnya secara administratif melalui aplikasi peta digital, tetapi juga memiliki kedekatan emosional melalui pemahaman mendalam tentang nilai-nilai sejarah yang terkandung dalam penamaan suatu tempat.
Wiwid menekankan bahwa “Menolak Lupa” disiapkan sebagai medium untuk merawat memori bersama agar cerita panjang di balik nama wilayah tidak tergerus zaman.
Menghidupkan Sebutan Lokal di Atas Nama Administratif
Fokus kedua dari program ini adalah mengembalikan identitas sosial yang seringkali tertutup oleh nama administratif resmi.
Kota Malang memiliki keunikan di mana sebutan populer suatu kawasan justru jauh lebih melekat di hati warga ketimbang nama jalan yang tertera di papan penunjuk arah.
Salah satu contoh paling nyata adalah kawasan Kayutangan. Secara administratif, wilayah ini tercatat sebagai Jalan Basuki Rahmat, namun dalam interaksi sehari-hari, sebutan Kayutangan tetap hidup sebagai identitas pusat bisnis dan warisan budaya (heritage) Kota Malang.
Tidak hanya Kayutangan, rubrik digital ini juga mengangkat asal-usul kawasan Betek yang merujuk pada Jalan Mayjend Panjaitan, serta kawasan Tongan yang merujuk pada Jalan Ade Irma Suryani.
Melalui konten digital, Pemkot Malang mengurai latar belakang sosial mengapa nama-nama tersebut lahir dan bertahan hingga lintas generasi.
Sebutan-sebutan lokal ini lahir dari dinamika masyarakat masa lampau—mulai dari profesi penduduk, kondisi alam, hingga kejadian ikonik—yang semuanya merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas kota.
Dengan menghidupkan kembali cerita ini, pemerintah ingin menjembatani kesenjangan pengetahuan antara warga senior yang masih memegang memori tersebut dengan generasi muda yang baru mengenalnya.
Baca Juga:
Komitmen Pemkot Malang: Puluhan Ribu UMKM Telah Kantongi Sertifikat Halal
Membangun Ikatan Emosional dan Ruang Belajar Budaya
Fokus ketiga adalah pemanfaatan konten digital sebagai ruang belajar budaya yang inklusif bagi seluruh warga, termasuk mereka yang sedang merantau.
Banyak warga asli Malang yang kini menetap di luar daerah atau bahkan luar negeri tetap memantau perkembangan kampung halamannya melalui media sosial.
Rubrik “Menolak Lupa” menjadi pengobat rindu sekaligus penguat ikatan batin mereka dengan identitas Arema. Konten yang diangkat tidak melulu soal nama jalan protokol, tetapi juga masuk ke area pedukuhan dan kearifan lokal yang sangat spesifik.
Diskominfo Kota Malang berharap inisiatif ini dapat membangkitkan kebanggaan warga terhadap sejarah lokalnya. Dengan mengetahui bahwa nama wilayah mereka memiliki filosofi yang dalam, warga diharapkan lebih peduli terhadap pelestarian lingkungan dan budaya di sekitarnya.
“Yang kami angkat bukan sekadar nama resmi, tapi sebutan-sebutan lokal yang menjadi bagian dari identitas warga. Itu yang ingin kami hadirkan kembali sebagai ruang belajar budaya,” pungkas Wiwid.
Melalui integrasi antara sejarah dan teknologi, Pemkot Malang optimis dapat membangun masyarakat yang modern namun tetap berakar kuat pada nilai-nilai leluhur.
Kesimpulan: Menjaga Jati Diri di Ruang Digital
Upaya Pemkot Malang dalam mengedukasi sejarah melalui konten digital adalah langkah progresif yang patut diapresiasi. Di tengah banjir informasi global, keberadaan konten lokal yang edukatif seperti rubrik “Menolak Lupa” menjadi filter yang menjaga jati diri bangsa agar tidak luntur.
Pengetahuan mengenai toponimi bukan hanya soal masa lalu, melainkan soal bagaimana kita memahami proses terbentuknya sebuah komunitas sosial di masa kini.
Dengan konsistensi dalam memproduksi konten berkualitas, Kota Malang membuktikan bahwa birokrasi dapat beradaptasi dengan gaya komunikasi masa kini.
Masa depan pelestarian sejarah kini berada di ujung jari, dan melalui langkah ini, diharapkan memori sosial warga Malang akan tetap abadi dan terus diwariskan ke generasi-generasi selanjutnya.
Baca Juga:
Pemkot Malang Dorong Penghijauan Ulang Jalan Soekarno-Hatta Demi Kualitas Lingkungan














