Breaking

Belajar Agama Sejak Dini, Janata Lavanya Buktikan Keberanian Berdakwah di Depan Publik

Bima Yoga

5 August 2026

Belajar Agama Sejak Dini, Janata Lavanya Buktikan Keberanian Berdakwah di Depan Publik
Berdiri di atas panggung dan berbicara di hadapan ratusan pasang mata bukan perkara mudah, apalagi bagi seorang anak yang usianya masih belia.

infomalangcom – Berdiri di atas panggung dan berbicara di hadapan ratusan pasang mata bukan perkara mudah, apalagi bagi seorang anak yang usianya masih belia. Namun bagi Janata Lavanya Leticia Zulkarnain, atau yang akrab disapa Vanya, panggung dakwah justru menjadi ruang untuk berbagi kebaikan sekaligus petualangan yang ia nikmati sepenuh hati.

Vanya, dai cilik asal Pakis, Kabupaten Malang, kini dikenal luas sebagai juara di tingkat nasional. Aktivitas dakwahnya tidak hanya berhenti di panggung tausiyah dari satu masjid ke sekolah lain di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah, tetapi juga rutin menyapa masyarakat Malang lewat siaran UB TV maupun Radio RRI.

Di balik deretan piala yang menghiasi rak prestasinya, tersimpan kisah tentang kerja keras dan kolaborasi hangat bersama keluarga yang selalu mendampinginya dalam setiap langkah.

Berawal dari Lomba Daring di Tengah Pandemi

Perjalanan panjang Vanya di dunia dakwah ternyata tidak dimulai dari panggung besar, melainkan dari depan layar gawai di rumah. Momen pertamanya berani tampil terjadi saat ia masih duduk di kelas satu sekolah dasar, bertepatan dengan masa pandemi Covid-19 yang membuat berbagai kegiatan, termasuk lomba dakwah, harus dialihkan ke format daring.

“Mulai dari kelas 1 SD saat ada lomba da’i tingkat Malang Raya secara online, karena saat itu sedang ada pandemi Covid-19,” kenang Vanya menceritakan momen pertamanya berani tampil.

Keberanian yang ditunjukkan di usia belia itu ternyata membuahkan hasil yang manis. Memasuki kelas dua sekolah dasar, bakat gadis kelahiran 13 Agustus 2015 ini semakin terasah lewat keikutsertaannya di Festival Anak Muslim (FAM).

Baca Juga: Kebakaran Hutan Hambat Aktivitas Wisata, Sebagian Kawasan Bromo Ditutup

Dalam ajang tersebut, Vanya berhasil memborong sejumlah gelar juara secara berjenjang, mulai dari Juara 1 tingkat gugus, Juara 2 tingkat kecamatan dan kota, hingga akhirnya melaju meraih Juara 2 di tingkat provinsi. Sejak momentum itulah, langkahnya di dunia dakwah anak terus melaju hingga berhasil menembus berbagai ajang bergengsi di level nasional.

Di balik jadwal tausiyah yang padat serta deretan piala yang terus bertambah, Vanya tetap menjalankan perannya sebagai pelajar dengan disiplin yang terjaga. Ia membagi waktunya secara teratur antara kewajiban sekolah, mengaji, hingga kegiatan dakwah tanpa mengorbankan salah satu di antaranya.

“Setiap hari sekolah sampai pukul 4 sore, kemudian dilanjut mengaji TPQ di masjid dekat rumah. Setelah maghrib belajar dan mengerjakan tugas sekolah,” jelasnya merinci kesibukan sehari-hari.

Selain rutinitas harian tersebut, Vanya juga memanfaatkan waktu luangnya untuk memperluas jangkauan dakwah melalui siaran radio dan televisi lokal secara berkala setiap pekan.

“Kalau siaran di radio dan UB TV untuk ceramah, biasanya seminggu dua kali setiap sore, hari Rabu dan Jumat,” tambah Vanya.

Padatnya undangan dakwah yang diterima Vanya kerap membawa cerita tersendiri yang membekas dalam ingatannya. Salah satu momen yang paling ia kenang terjadi saat peringatan Isra Mikraj, ketika jadwal tausiyahnya begitu padat sehingga ia harus bergegas berpindah lokasi bersama sang ayah demi mengejar waktu tampil berikutnya.

Momen-momen semacam ini justru dimaknai Vanya sebagai bagian dari petualangan seru dalam berdakwah, bukan sebagai beban yang memberatkan langkahnya.

Meski usianya masih tergolong sangat muda, kematangan mental dan pemahaman Vanya tentang makna sebuah perjuangan patut menjadi teladan. Di penghujung perbincangan, ia menitipkan pesan penuh semangat bagi teman-teman sebayanya yang tengah merajut cita-cita.

“Teman-teman semua harus berjuang keras untuk meraih cita-cita, lakukan dengan sungguh-sungguh. Harus mengikuti nasihat dan arahan dari guru dan orang tua,” pesannya bijak.

“Jangan mudah menyerah dan jangan mudah cepat puas, karena kita bisa lebih hebat dari apa yang kita bayangkan,” tutup sang dai cilik memotivasi.

Kisah Vanya menjadi bukti nyata bahwa usia muda bukanlah penghalang untuk berkontribusi menebarkan nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat.

Kedisiplinan dalam mengatur waktu, dukungan penuh dari keluarga, serta konsistensi dalam menekuni dunia dakwah menjadi kunci yang membawanya meraih berbagai capaian membanggakan sejak usia dini, sekaligus menjadi inspirasi bagi anak-anak lain untuk berani menyampaikan kebaikan di depan publik.

Author Image

Author

Bima Yoga