Abstrak
infomalangcom – Peradaban global saat ini menghadapi paradoks teknologi antara efisiensi otomatisasi Industri 4.0 dan visi kemanusiaan Society 5.0.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis urgensi estetika humanisme sebagai instrumen penguatan literasi kemanusiaan (human literacy) di tengah disrupsi digital. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan paradigma humaniora digital.
Data dikumpulkan melalui studi dokumentasi regulasi (SE Menkominfo No. 9 Tahun 2023), studi kasus faktual pada sektor kurir e-commerce, dan tinjauan pustaka.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) masa depan tidak lagi bertumpu pada hard skills teknis yang rentan kedaluwarsa, melainkan pada kecerdasan etis-estetis (high-touch).
Studi kasus kurir e-commerce mengungkap adanya dehumanisasi algoritmis di mana pekerja direduksi menjadi unit data tanpa pertimbangan aspek kemanusiaan.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi nilai humaniora ke dalam rekayasa teknologi dan kebijakan (algor-ethics) merupakan prasyarat mutlak untuk mewujudkan ekosistem digital yang adil dan inklusif.
Kata Kunci: Society 5.0, Estetika Humanisme, Literasi Kemanusiaan, Algor-ethics, Gig Economy.
Abstract
Global civilization is currently facing a technological paradox between the efficiency of Industry 4.0 automation and the humanitarian vision of Society 5.0.
This study aims to analyze the urgency of humanistic aesthetics as an instrument for strengthening human literacy amidst digital disruption.
The research method used is descriptive qualitative with a digital humanities paradigm. Data were collected through regulatory documentation studies (SE Menkominfo No. 9 of 2023), factual case studies in the e-commerce courier sector, and literature reviews.
The results show that the readiness of future Human Resources (HR) no longer relies on technical hard skills that are prone to expiration, but on ethical-aesthetic intelligence (high-touch).
The case study of e-commerce couriers reveals algorithmic dehumanization where workers are reduced to data units without consideration of humanitarian aspects.
This study concludes that the integration of humanities values into technological engineering and policy (algor-ethics) is an absolute prerequisite for realizing a fair and inclusive digital ecosystem.
Keywords: Society 5.0, Humanistic Aesthetics, Human Literacy, Algor-ethics, Gig Economy.
1. Pendahuluan
Lanskap ketenagakerjaan global kontemporer ditandai oleh penetrasi masif Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence), Big Data, dan otomatisasi tingkat tinggi.
Fenomena ini memicu gelombang restrukturisasi dan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di berbagai sektor, terutama karena adopsi AI generatif yang mampu mengambil alih tugas kognitif manusia secara instan [1].
Namun, lompatan teknologi ini memicu paradoks sosial-moral, seperti krisis kesehatan mental, alienasi sosial, dan penurunan empati siber yang mewujud dalam maraknya cyberbullying.
Transisi menuju Society 5.0 menuntut perubahan paradigma dari orientasi mesin (machine-centric) menuju orientasi manusia (human-centric). Dalam konteks ini, kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) tidak lagi memadai jika hanya diukur dari kecakapan digital standar.
Terdapat kebutuhan mendesak untuk mengintegrasikan Estetika Humanisme dan Literasi Kemanusiaan (Human Literacy) sebagai kompas etis dalam menjaga martabat manusia agar tidak tereduksi oleh algoritma.
Artikel ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana estetika humanisme berperan dalam menavigasi tantangan Industri 4.0 dan memperkuat kesiapan SDM di era Society 5.0.
2. Metodologi Penelitian
Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis kritis berparadigma humaniora digital (digital humanities).
Fokus utama penelitian adalah mengeksplorasi cara subjek manusia mempertahankan eksistensi dan martabatnya di tengah gempuran otomatisasi.
Data dihimpun melalui tiga teknik pengumpulan data sekunder:
- Studi Dokumentasi Regulasi: Analisis terhadap Surat Edaran (SE) Menkominfo Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial.
- Studi Kasus Faktual: Analisis kondisi kerja sektor gig economy di Indonesia (2024–2026) berdasarkan laporan media dan serikat pekerja.
- Studi Pustaka: Penelaahan teori agensi manusia (human agency) dan sistem komputasi algoritma dari sumber literatur bereputasi.
Proses analisis data meliputi reduksi data, penyajian data secara sistematis melalui deskripsi naratif, serta penarikan kesimpulan teoretis untuk menghasilkan kerangka berpikir kritis yang solutif bagi pengembangan SDM.
3. Hasil dan Pembahasan
3.1 Dekonstruksi Kompetensi: Dari Hard Skills ke Human Literacy
Dalam struktur organisasi konvensional, hard skills teknis dianggap sebagai penentu utama daya saing. Namun, di era Industri 4.0, kompetensi teknis mengalami penyusutan masa pakai (skill expiration) yang drastis.
Ketika mesin dapat mengeksekusi tugas administratif dan kalkulasi matematis dengan tingkat kesalahan nol, manusia yang hanya mengandalkan keahlian mekanis akan terpinggirkan dari siklus produksi.
Konsep Human Literacy yang dirumuskan oleh Joseph E. Aoun (2017) dalam Robot-Proof menekankan bahwa literasi kemanusiaan membekali manusia untuk melakukan apa yang tidak bisa dilakukan mesin: berempati, bercerita, dan menggunakan kecerdasan emosional untuk memecahkan masalah kompleks [2].
Kesiapan SDM di era Society 5.0 terletak pada kapasitas penilaian moral (moral judgment), penalaran etis, dan intuisi estetis. Kemampuan humaniora yang tidak terstruktur seperti kreativitas seni dan kepemimpinan transformatif menjadi aset premium yang tidak dapat diduplikasi oleh AI.
3.2 Dehumanisasi Algoritmis: Studi Kasus Kurir E-Commerce
Estetika humanisme bukan sekadar apresiasi seni, melainkan metodologi untuk mengindra keunikan eksistensi kehidupan dan membangun jembatan emosional antar-individu.
Tanpa nilai ini, peradaban digital hanya akan menghasilkan surplus data namun bangkrut secara empati.
Fenomena kurir logistik di Indonesia menjadi bukti nyata dehumanisasi siber. Sistem aplikasi e-commerce mengalkulasi rute dan performa berdasarkan metrik digital murni tanpa mempertimbangkan realitas fisik pekerja seperti cuaca ekstrem, kemacetan, atau kondisi kesehatan [3].
Pekerja direduksi menjadi “titik koordinat digital” yang harus patuh pada ritme mesin. Kegagalan memenuhi kuota akibat kendala manusiawi berujung pada pemotongan pendapatan atau pemutusan kemitraan tanpa proses klarifikasi yang adil.
Hal ini selaras dengan peringatan Cosenza (2024) bahwa teknologi berisiko mereduksi manusia menjadi sekadar “subjek data” dalam sistem algoritmis [4].
Baca Juga: Pendidikan Berkualitas sebagai Pondasi Membangun Generasi Indonesia Emas
3.3 Konstruksi Algor-ethics: Analisis Kebijakan Nasional
Sebagai langkah mitigasi, Pemerintah Indonesia merilis SE Menkominfo Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial.
Regulasi ini merupakan manifestasi konkret dari Algor-ethics (etika algoritma), yang menyuntikkan jiwa humaniora ke dalam arsitektur teknis AI. Sembilan prinsip etika utama yang diusung meliputi inklusivitas, kemanusiaan, keamanan, dan akuntabilitas [5].
Kebijakan ini menegaskan bahwa inovasi teknologi tidak bersifat bebas nilai (value-free) dan harus selalu diarahkan untuk meningkatkan martabat manusia.
4. Kesimpulan
Transisi menuju Society 5.0 tidak akan membuahkan kesejahteraan jika hanya memuja kecanggihan high-tech sambil mengabaikan high-touch.
Dehumanisasi siber yang melanda sektor gig economy menunjukkan bahwa otomatisasi tanpa etika hanya akan melahirkan eksploitasi gaya baru.
Integrasi estetika humanisme ke dalam pendidikan dan tata kelola organisasi sangat krusial untuk mencetak SDM yang tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga memiliki ketajaman etis dan kepekaan sosial.
Kehadiran regulasi seperti SE Menkominfo No. 9/2023 merupakan langkah awal yang baik, namun efektivitasnya bergantung pada kesiapan manusia sebagai agensi perubahan untuk memastikan teknologi melayani kemanusiaan, bukan sebaliknya.
Oleh: Siti Khodijah
Mahasiswa Universitas Siber Asia














