Infomalangcom – Perjalanan Khanza Ramadhan Putra Abian bersama tim basket MAN 2 Kota Malang atau Magma di Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-South harus terhenti pada babak Big Eight.
Bertanding di GOR Ken Arok, Malang, Selasa (1/9), Magma harus mengakui keunggulan SMAN 3 Blitar dengan skor 39-26.
Meski gagal melanjutkan langkah ke Fantastic Four, perjuangan Abian dalam pertandingan tersebut memiliki cerita tersendiri.
Pemain Magma itu tetap memilih turun ke lapangan meski kondisi tubuhnya belum benar-benar pulih.
Sehari sebelum pertandingan, ia bahkan sempat mengalami demam tinggi hingga harus mendapatkan penanganan medis.
“Tengah malam sakitnya, tiba-tiba harus dibawa ke UGD dan diinfus sebentar. Semalam pun Bunda masih nyuapin aku makan, karena aku masih sakit,” ujar Abian.
Pengorbanan Bunda Menjadi Alasan Abian Tetap Bermain
Keputusan Abian untuk tetap memperkuat Magma bukan hanya berkaitan dengan pertandingan.
Ada sosok sang bunda, Rezty Ramadhani, yang menjadi salah satu alasan terbesarnya untuk tetap berusaha tampil.
Perjalanan Abian dalam olahraga basket juga bermula dari alasan yang sederhana.
Ketika masih duduk di kelas VI SD, ia mulai mengenal basket bukan karena memiliki cita-cita menjadi atlet, melainkan untuk membantu menjaga kondisi tubuhnya.
Saat itu, Abian memiliki riwayat asma yang cukup sering kambuh.
“Dulu mulai basket itu cuma biar sehat, biar asmanya enggak sering kambuh. Dulu Bunda keliling cari obat sampai ke luar kota, dari Malang ke Banjarmasin.
Dulu sering banget kambuh, tapi semenjak rutin basket, alhamdulillah asmanya berkurang banget,” kenangnya.
Seiring waktu, aktivitas yang awalnya dilakukan demi menjaga kesehatan tersebut berubah menjadi kecintaan terhadap basket.
Abian kemudian berkembang menjadi salah satu pemain yang ikut membawa nama MAN 2 Kota Malang dalam kompetisi DBL.
Perjalanan sebagai pemain Magma juga tidak mudah. Selain menjalani latihan dan pertandingan, para pemain harus tetap memenuhi kewajiban akademik serta berbagai aturan pendidikan di lingkungan madrasah.
Mereka juga memiliki tanggung jawab hafalan Al-Qur’an sebagai salah satu bagian dari tuntutan sekolah.
Kondisi tersebut membuat perjalanan para pemain Magma membutuhkan kemampuan untuk membagi waktu dan tenaga.
Bagi Abian, tantangan itu semakin berat ketika harus menghadapi pertandingan Big Eight dalam keadaan kurang sehat.
Biasanya, Abian berangkat menuju lokasi pertandingan bersama teman-temannya menggunakan kendaraan umum.
Namun, pada pertandingan melawan SMAN 3 Blitar, ia diantar langsung oleh sang bunda menuju GOR Ken Arok.
“Aku tetap mau main karena Bunda sudah sacrifice semua waktu yang dia punya buat aku.
Tadi pagi pun aku berangkat ke sini diantar langsung sama Bunda, kalau biasanya naik elf sama teman-teman,” kata Abian.
Rezty pun hadir langsung dari tribun untuk memberikan dukungan kepada putranya.
Sebagai seorang ibu, ia sebenarnya memahami kondisi Abian yang sedang demam dan belum sepenuhnya fit.
Bahkan, Rezty sudah menyiapkan surat izin sakit agar Abian tidak perlu memaksakan diri bermain.
“Sebenarnya hari ini dia lagi sakit, demam. Tadi dia sempat izin ke saya, ‘kalau Abang mainnya enggak maksimal enggak apa-apa ya,’ katanya.
Bahkan saya sudah siapkan surat izin sakit untuk DBL,” tutur Rezty.
Namun, Abian tetap memilih memberikan kemampuan terbaiknya bersama tim.
Keinginannya untuk bermain menjadi bentuk tanggung jawab kepada Magma sekaligus penghargaan terhadap dukungan sang bunda selama ini.
Menurut Rezty, perjuangan seluruh pemain MAN 2 Kota Malang layak mendapatkan apresiasi.
Mereka harus menjalani kompetisi olahraga sembari tetap menghadapi berbagai tuntutan pendidikan.
“Anak-anak basket MAN 2 Kota Malang ini memang luar biasa. Mereka sudah melewati batas kemampuannya di tengah tuntutan pelajaran dan cuaca yang lagi begini,” lanjutnya.
Sayangnya, perjuangan tersebut belum mampu membawa Magma menuju babak semifinal.
SMAN 3 Blitar tampil lebih efektif dan mengakhiri pertandingan dengan kemenangan 39-26.
Hasil tersebut sekaligus membuat perjalanan Magma di Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-South berakhir pada babak delapan besar.
Bagi Rezty, kekalahan tersebut tidak menghapus nilai perjuangan yang telah dilakukan Abian.
Ia melihat perjalanan putranya dari seorang anak yang berusaha menjaga kesehatan karena asma hingga akhirnya mampu menjadi bagian dari tim basket sekolah sebagai sebuah pencapaian yang patut dibanggakan.
Sementara itu, Abian memiliki pandangan yang sangat dalam terhadap sosok ibunya.
Ia menyadari bahwa banyak pengorbanan Rezty yang ikut mengantarkannya sampai pada titik tersebut.
“Enggak bisa diucapkan pakai kata-kata. Bunda itu perjuangan paling gede buat aku.
Makanya everyday I say thank you to my mom. Setiap mau pergi selalu bilang hati-hati, karena kita enggak pernah tahu apa yang bakal terjadi.
Mumpung Bunda masih ada, katakan semua hal yang baik,” ungkapnya.
Magma memang harus mengakhiri perjalanan di Big Eight. Namun, bagi Abian, musim ini bukan sekadar tentang kemenangan atau kekalahan.
Ada perjalanan panjang, perjuangan melawan keterbatasan fisik, dukungan keluarga, serta pengorbanan seorang ibu yang membuat pengalaman tersebut menjadi jauh lebih berarti.
Musim depan juga akan menjadi kesempatan terakhir bagi Abian untuk membela MAN 2 Kota Malang di ajang DBL.
Dengan pengalaman yang diperolehnya musim ini, Abian memiliki kesempatan untuk kembali dengan motivasi yang lebih besar.
Bukan hanya untuk memberikan penampilan terbaik bagi sekolah, tetapi juga untuk membalas dukungan dan pengorbanan sang bunda yang selalu berada di belakang perjuangannya.
baca juga : Ulang Tahun ke-16 Makin Berkesan, Steven Antar Smarihasta ke Big Eight














