Infomalangcom – Rencana pembenahan drainase di Kabupaten Malang menjadi salah satu perhatian pemerintah daerah untuk mengurangi genangan saat hujan.
Langkah ini terutama diarahkan pada kawasan yang memiliki persoalan aliran air, termasuk Cepokomulyo, Kecamatan Kepanjen.
Pemkab Malang Rencanakan Drainase Baru
Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga (DPUBM) Kabupaten Malang menyiapkan langkah lanjutan untuk menangani drainase di kawasan Cepokomulyo.
Rencana tersebut berupa normalisasi dengan memperdalam saluran air setelah sebelumnya dilakukan pembukaan drainase di sisi barat jalan. Informasi ini disampaikan Radar Malang pada Januari 2026.
Normalisasi tersebut berkaitan dengan rehabilitasi Jalan Kepanjen-Pagak. Penanganan drainase menjadi bagian penting karena kawasan tersebut disebut mengalami genangan ketika hujan turun.
Pemerintah daerah masih mematangkan rencana sehingga pembangunan tidak dapat disebut sudah seluruhnya berjalan.
Kawasan Kepanjen Jadi Perhatian
Kepanjen menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam persoalan drainase. Pada kawasan Cepokomulyo, DPUBM sebelumnya membuka bagian atas saluran yang tertutup beton.
Sepuluh lubang dibuat sepanjang sekitar 100 meter jalan yang telah ditinggikan sebagai langkah awal untuk membantu aliran air.
Persoalan kapasitas drainase juga mendapat perhatian dari kajian akademik. Penelitian mengenai peningkatan kinerja saluran drainase di kawasan rawan banjir Kota Kepanjen menemukan 18 saluran eksisting yang tidak mampu menampung debit berdasarkan analisis penelitian tersebut.
Temuan itu menunjukkan bahwa evaluasi kapasitas saluran penting dilakukan sebelum menentukan bentuk penanganan.
Normalisasi Drainase untuk Kurangi Genangan
Normalisasi drainase bertujuan meningkatkan kemampuan saluran dalam mengalirkan air.
Berdasarkan pemberitaan Radar Malang, pemerintah daerah mempertimbangkan penggunaan U-Ditch dengan kapasitas lebih besar untuk saluran di kawasan Cepokomulyo.
Rencana yang diberitakan mencakup peningkatan kedalaman saluran dari sekitar 40 sentimeter menjadi 60 hingga 70 sentimeter dengan lebar sekitar satu meter.
Namun, detail tersebut merupakan bagian dari rencana yang masih melalui pendataan dan identifikasi kebutuhan.
Karena itu, informasi mengenai dimensi dan pelaksanaan perlu dipahami sebagai rancangan, bukan hasil pembangunan yang sudah selesai.
Pendekatan tersebut penting agar informasi publik mengenai proyek infrastruktur tetap akurat.
Keterkaitan Drainase dengan Infrastruktur Jalan
Penanganan drainase tidak dapat dipisahkan dari pembangunan atau peningkatan jalan.
Ketika permukaan jalan ditinggikan, sistem pembuangan air di sekitarnya perlu diperhatikan agar air hujan tidak tertahan di badan jalan atau kawasan permukiman.
Di Cepokomulyo, penanganan drainase menjadi bagian lanjutan setelah rehabilitasi Jalan Kepanjen-Pagak. Integrasi antara jalan dan drainase dapat membantu memastikan infrastruktur tidak hanya berfungsi untuk mobilitas, tetapi juga mendukung pengelolaan limpasan air.
Perencanaan yang sesuai kondisi lapangan diperlukan agar saluran mampu bekerja secara efektif.
baca juga : Profil Pemerintahan Kota Malang dan Struktur Organisasinya
Kapasitas Saluran Perlu Disesuaikan
Kapasitas saluran merupakan faktor penting dalam mengendalikan air hujan.
Penelitian di Kota Kepanjen menggunakan data curah hujan selama 10 tahun dan beberapa metode analisis hidrologi untuk mengevaluasi kemampuan saluran.
Hasil penelitian menunjukkan 18 saluran tidak dapat menampung debit, sehingga pelebaran atau redesain direkomendasikan pada saluran yang tidak memenuhi kapasitas.
Temuan akademik tersebut dapat menjadi referensi bahwa pembangunan drainase perlu didasarkan pada perhitungan teknis.
Kondisi setiap saluran berbeda, sehingga ukuran tidak seharusnya ditentukan secara seragam.
Curah hujan, luas daerah tangkapan, debit rencana, kemiringan, kondisi fisik saluran, serta arah pembuangan perlu menjadi pertimbangan.
Penanganan Drainase Dilakukan Bertahap
Pembenahan drainase membutuhkan tahapan, mulai dari pendataan, identifikasi masalah, perencanaan teknis, hingga pelaksanaan.
Pemerintah daerah juga perlu menentukan lokasi yang paling membutuhkan penanganan berdasarkan kondisi lapangan dan dampak genangan terhadap masyarakat.
Untuk kawasan Cepokomulyo, langkah awal telah dilakukan melalui pembukaan bagian atas saluran. Rencana normalisasi berikutnya masih dimatangkan.
Tahapan tersebut menunjukkan bahwa penanganan infrastruktur memerlukan proses sebelum pekerjaan fisik dilakukan secara menyeluruh.
Peran Drainase dalam Antisipasi Banjir
Drainase yang berfungsi baik membantu mengalirkan air hujan menuju saluran atau badan air yang menjadi tujuan pembuangan.
Sebaliknya, saluran yang kapasitasnya tidak mencukupi, tersumbat, atau mengalami kerusakan dapat membuat air lebih mudah menggenang.
Karena itu, pembangunan saluran baru atau normalisasi bukan satu-satunya langkah. Pemeliharaan rutin juga diperlukan untuk menjaga fungsi drainase.
Pembersihan sedimentasi dan sampah dapat membantu mempertahankan kapasitas aliran. Pemerintah dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam menjaga sistem tersebut.
Langkah ini penting terutama saat curah hujan meningkat cukup.
Langkah yang Perlu Diperhatikan Masyarakat
Masyarakat dapat mendukung upaya pengurangan genangan dengan tidak membuang sampah ke saluran air.
Warga juga dapat memperhatikan kondisi selokan di sekitar lingkungan dan melaporkan apabila terdapat penyumbatan, kerusakan, atau saluran yang tidak berfungsi.
Bagi pemerintah, pembangunan perlu disertai pemeliharaan dan evaluasi berkala.
Dengan kombinasi perencanaan teknis, pembangunan, pemeliharaan, serta partisipasi masyarakat, sistem drainase di kawasan rawan genangan dapat dikelola secara lebih baik.
baca juga : Padel Bang 3.0 Dorong Pertumbuhan Sport Tourism di Kota Malang














