Breaking

Pemkot Malang Finalisasi Baju Khas Malangan, Siap Jadi Identitas Budaya Kota

Pemkot Malang Finalisasi Baju Khas Malangan, Siap Jadi Identitas Budaya Kota
Pemerintah Kota Malang menghadirkan pakaian khas daerah yang dirancang untuk memperkuat identitas budaya melalui busana.

Infomalangcom – Pemerintah Kota Malang menghadirkan pakaian khas daerah yang dirancang untuk memperkuat identitas budaya melalui busana.

Setelah melalui proses perancangan yang melibatkan berbagai pihak, Baju Khas Malangan resmi diluncurkan bertepatan dengan HUT ke-112 Kota Malang pada 1 April 2026.

Pemkot Malang Finalisasi Baju Khas Malangan

Penyusunan Baju Khas Malangan menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Malang menghadirkan pakaian yang berkarakter lokal.

Proses perancangannya melibatkan tokoh budaya, sejarawan, pemerhati budaya, serta pelaku industri fashion.

Pelibatan berbagai bidang tersebut dilakukan agar rancangan tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki dasar historis dan nilai filosofis.

RRI melaporkan pakaian khas tersebut kemudian ditetapkan melalui Keputusan Wali Kota Malang Nomor 100.3.3.3/81/35.73.112/2026 tentang Penetapan Pakaian Khas Kota Malang.

Penetapan tersebut menjadi dasar resmi penggunaan busana dalam kegiatan tertentu.

Konsep Desain Mengangkat Sejarah Malang

Konsep pakaian khas Malangan memadukan unsur tradisional dengan pengaruh sejarah kolonial dalam perjalanan Kota Malang.

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menjelaskan bahwa perpaduan tersebut menjadi salah satu pembeda antara pakaian khas Kota Malang dengan busana daerah di wilayah sekitarnya.

Ketik.com melaporkan bahwa inspirasi sejarah juga berkaitan dengan sosok Raden Ario Adipati Soerioadiningrat, Bupati Malang pada 1898 hingga 1934.

Busana yang dikembangkan mengambil referensi dari pakaian luar berwarna hitam, pakaian dalam putih dengan kerah tinggi, serta bawahan kain batik panjang pada masa tersebut.

Unsur Budaya dalam Baju Khas Malangan

Baju Khas Malangan juga memasukkan simbol identitas Kota Malang.

Salah satu elemen penting adalah motif batik Tugu Pecah Kopi. Motif tersebut memadukan unsur Tugu Malang, bunga teratai, serta motif kawung yang dikaitkan dengan biji kopi pecah. Elemen tersebut membuat desain mudah dikenali sebagai pakaian khas Kota Malang.

Pada desain yang dilaporkan Ketik.com, pakaian khas menggunakan jas berkerah rever berwarna hitam, dalaman putih berkerah tinggi, dasi panjang, celana hitam, dan sepatu pantofel kulit hitam.

Penutup kepala berupa topi pet dilengkapi kain udeng bermotif Tugu Pecah Kopi.

baca juga : Mengenal Tugas Tentara Nasional Indonesia yang Wajib Diketahui Masyarakat

Pelibatan Budayawan dan Pelaku Fashion

Keterlibatan banyak pihak menjadi salah satu bagian penting dalam proses penyusunan pakaian khas tersebut.

RRI mencatat bahwa Pemkot Malang melibatkan tokoh budaya, sejarawan, pemerhati budaya, dan pelaku industri fashion.

Kolaborasi ini diarahkan untuk memastikan rancangan mempunyai landasan sejarah serta filosofi yang kuat.

Peran pelaku fashion juga penting karena busana harus dapat diterapkan dalam kegiatan nyata.

Sementara itu, perspektif sejarawan dan pemerhati budaya membantu menghubungkan unsur visual dengan perjalanan sejarah masyarakat Malang.

Dengan pendekatan tersebut, pakaian khas tidak berhenti sebagai desain, tetapi diarahkan menjadi representasi daerah.

Baju Malangan sebagai Identitas Kota

Pakaian khas daerah dapat menjadi salah satu media untuk memperkenalkan karakter suatu wilayah.

Pemkot Malang menempatkan Baju Khas Malangan sebagai simbol jati diri dan penguatan identitas budaya kota.

RRI menyebut kehadiran busana tersebut diharapkan mendorong pelestarian budaya serta menumbuhkan rasa bangga masyarakat terhadap warisan lokal.

Wahyu Hidayat juga menyampaikan bahwa desain tersebut mencerminkan sejarah Kota Malang.

Perpaduan nilai lokal, sejarah, dan nuansa kolonial dipilih untuk membentuk karakter yang membedakannya dari daerah lain.

Rencana Penggunaan Baju Khas Malangan

Baju khas tersebut memiliki beberapa varian berdasarkan jenjang jabatan dan peruntukan.

Ketik.com melaporkan terdapat lima strata, mulai dari pakaian untuk Wali Kota, Wakil Wali Kota, Sekretaris Daerah dan pejabat terkait, hingga aparatur serta masyarakat umum.

Penggunaan pakaian khas direncanakan pada upacara atau kegiatan tertentu di lingkungan Pemerintah Kota Malang.

Ketentuan berdasarkan jenjang tersebut membuat penerapan busana dapat disesuaikan dengan posisi dan kebutuhan kegiatan.

Peluncurannya pada HUT ke-112 menjadi momentum penting untuk memperkenalkan pakaian tersebut kepada masyarakat.

Makna Pelestarian Budaya Melalui Busana

Kehadiran Baju Khas Malangan dapat menjadi sarana untuk membawa unsur sejarah dan budaya ke dalam kehidupan masyarakat.

Busana yang digunakan dalam kegiatan tertentu membuat simbol lokal lebih mudah dikenali, termasuk oleh generasi muda yang akrab dengan perkembangan fashion modern.

Namun, pelestarian budaya tidak hanya bergantung pada pakaian. Nilai sejarah, filosofi motif, dan pemahaman terhadap asal-usul setiap elemen juga perlu dikenalkan secara berkelanjutan.

Dengan demikian, Baju Khas Malangan dapat berfungsi bukan sekadar sebagai pakaian resmi, tetapi sebagai media untuk mengenalkan jati diri Kota Malang.

Peluncuran dan penetapan resmi pakaian khas tersebut menjadi langkah baru bagi Kota Malang dalam memperkuat identitas daerah.

Perpaduan sejarah, simbol lokal, dan desain modern membuat busana ini memiliki ruang untuk digunakan dalam kegiatan pemerintahan sekaligus menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya Malangan.

baca juga : SIMAS Kota Malang sebagai Sistem Informasi Manajemen ASN

Author Image

Author

rizal habibi