Infomalangcom – Kekalahan SMAN 10 Malang (Smandasa) dari MAN 2 Kota Malang dengan skor 6-38 pada laga penutup Grup D DBL East Java-South 2026, Senin (24/8), tidak menyurutkan dukungan orang tua para pemain.
Pertandingan di GOR Ken Arok Malang justru menghadirkan momen penuh haru di tribun Smandasa.
Para ibu pemain datang membawa spanduk berisi foto masa kecil anak-anak mereka sebagai bentuk dukungan selama menjalani kompetisi.
Spanduk tersebut dihiasi pesan penuh kasih dari para ibu.
Beberapa di antaranya bertuliskan, “Mom supports u real sak joss e.
U will win mom’s heart forever” serta “Just fly as high as u can, mom will always be ur number one heart fan.
Be a toughman, but u’ll always be mom’s little sweetheart.”
Bagi orang tua Smandasa, pertandingan basket bukan sekadar persoalan mencetak poin atau meraih kemenangan.
Setiap laga menjadi kesempatan untuk menyaksikan perjuangan dan perkembangan anak-anak mereka di tengah kesibukan sekolah dan latihan.
Orang Tua Kawal Perjuangan Smandasa
Kekompakan para orang tua menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap perjalanan Smandasa sepanjang kompetisi.
Di tengah kesibukan masing-masing, mereka berusaha hadir untuk memberikan dukungan moral, spiritual, hingga material kepada para pemain.
Istu Handayani, ibunda kapten Smandasa Razan Abhirama Wibisono, menjadi salah satu orang tua yang memberikan dukungan secara langsung.
Sebagai kepala sekolah yang bertugas di Kediri, Istu rela melakukan perjalanan ke Malang pada hari kerja demi menyaksikan putranya bertanding.
“Kami ingin menunjukkan rasa sayang dan full support pada anak-anak.
Kami tidak setengah-setengah mendukung mereka mencapai cita-cita.
Just fly as high as you can reach, we will always be their number one fan,” ujar Istu.
Menurut Istu, perjuangan para pemain Smandasa tidak mudah.
Selain mengikuti kompetisi basket, para pemain kelas XII harus mempersiapkan diri menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan menyelesaikan berbagai tugas sekolah.
Kondisi tersebut membuat mereka harus pintar membagi waktu antara kewajiban akademik dan aktivitas olahraga.
Razan juga menjalani keseharian yang cukup padat.
Waktu Sabtu yang seharusnya bisa digunakan untuk beristirahat terkadang justru dimanfaatkan untuk mengikuti les pengganti.
Berbagai aktivitas tersebut dijalani agar pendidikan dan basket tetap dapat berjalan secara seimbang.
Bagi para orang tua, proses tersebut justru menjadi bagian penting dari pengalaman anak-anak selama berada di bangku sekolah.
Kalah Bukan Berarti Gagal
Meski Smandasa harus mengakhiri fase grup dengan kekalahan dari MAN 2 Kota Malang, hasil tersebut tidak menghapus rasa bangga para orang tua.
Smandasa tetap berhasil mengamankan tiket menuju babak playoff setelah finis sebagai runner-up Grup D.
Bagi orang tua, perjuangan anak-anak ketika membela almamater dengan sportif dan memberikan kemampuan terbaik sudah menjadi pencapaian tersendiri.
Hasil akhir pertandingan tidak menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan.
“Kata pertama yang ingin kami ucapkan kepada mereka adalah terima kasih telah menjadi anak-anak yang hebat.
Kemenangan itu tidak harus selalu menjadi juara 1.
Ketika mereka mampu menjadi versi terbaik dari diri mereka yang kemarin, itu sudah menang bagi kami,” tutur Istu.
Menurutnya, kompetisi DBL juga memberikan pelajaran yang lebih luas bagi para pemain.
Mereka tidak hanya belajar mengenai permainan basket, tetapi juga mendapatkan pengalaman menghadapi persaingan, menghargai lawan, menjaga sportivitas, serta menerima hasil pertandingan.
Pengalaman tersebut dinilai penting untuk membentuk mental para pemain, terutama ketika mereka harus menghadapi situasi yang tidak sesuai dengan harapan.
Kekalahan menjadi bagian dari proses yang dapat mengajarkan pemain untuk kembali bangkit dan memperbaiki diri.
“Inilah hidup. Kadang kita menang, kadang kita harus menerima kekalahan.
Kita tidak boleh sombong saat menang, dan tidak boleh jatuh ketika kalah.
Apa pun yang terjadi di lapangan, saya akan selalu jadi fans nomor satu Razan. He is always special for me,” pungkas Istu.
Setelah memastikan tempat di babak playoff DBL East Java-South 2026, perjuangan Smandasa masih berlanjut.
Dukungan dari orang tua pun diharapkan tetap menjadi sumber semangat bagi para pemain untuk menghadapi fase kompetisi berikutnya.
Bagi para ibu Smandasa, kehadiran di tribun bukan hanya tentang mendukung tim ketika menang.
Mereka ingin menunjukkan bahwa perjuangan anak-anak tetap dihargai apa pun hasil pertandingan yang diperoleh.
Spanduk berisi foto masa kecil para pemain menjadi simbol sederhana dari pesan tersebut.
Di balik setiap pemain yang berjuang di lapangan, terdapat keluarga yang terus memberikan dukungan dan menjadi tempat untuk kembali.
Perjalanan Smandasa di DBL East Java-South 2026 pun belum berakhir.
Dengan tiket playoff yang sudah diamankan, para pemain memiliki kesempatan untuk kembali menunjukkan kemampuan terbaik mereka.
Sementara dari tribun, para ibu akan tetap menjadi pendukung yang menemani setiap langkah perjuangan tersebut.
Baca juga: Dari Pemain ke Pelatih, Coach Alfan Wujudkan Mimpi DBL Bersama Smabul











