Infomalangcom – Maria Florida Dwita Handayani dan Fernando Alonzo Tebai menjalani perjalanan seni yang cukup unik.
Keduanya pernah merasakan panggung kompetisi paduan suara hingga membawa nama SMA Cor Jesu Malang ke ajang internasional di Taiwan.
Kini, Dwita dan Nando berpindah ke panggung berbeda sebagai dancer bersama CJ Nos Ludos dalam AQUA DBL Dance 2026 East Java-South, Rabu (19/8).
Musim ini menjadi debut keduanya di ajang tersebut.
Menariknya, baik Dwita maupun Nando bukan penari yang tumbuh dari sanggar atau sekolah tari.
Keduanya justru belajar secara otodidak dan menemukan cara masing-masing untuk mengembangkan kemampuan di bidang dance.
Perjalanan seni Dwita lebih dahulu dimulai melalui paduan suara.
Ia telah mengenal seni vokal sejak kelas III sekolah dasar.
Sementara itu, Nando mulai menekuni paduan suara setelah pindah dari Timika, Papua, ke Malang saat duduk di kelas X.
Keduanya kemudian bergabung dengan tim paduan suara SMA Cor Jesu Malang.
Bersama tim tersebut, Dwita dan Nando merasakan pengalaman tampil di kompetisi internasional.
Pada Taipei International Choral Competition 2025 di Taiwan, tim mereka berhasil meraih juara ketiga sekaligus medali emas pada kategori Female Choral.
Mereka juga membawa pulang medali perak dari kategori Youth.
Prestasi tersebut menambah pengalaman Dwita yang sebelumnya meraih medali perak dalam Petra Cantare International Choral Festival 2025 di Surabaya.
Kesibukan bersama tim paduan suara sempat membuat keinginan Dwita untuk bergabung dengan tim dance harus tertunda.
Pada musim sebelumnya, ia tidak bisa mengikuti kompetisi karena jadwal kepulangannya dari Taiwan bertepatan dengan agenda CJ Nos Ludos.
Kesempatan tersebut akhirnya datang musim ini.D
wita dapat mewujudkan keinginannya tampil di arena DBL Dance sekaligus menjalani pengalaman baru sebagai seorang dancer.
Bagi Nando, ketertarikannya terhadap dance sudah muncul sejak SMP.
Ia sempat mempelajari tarian tradisional Papua sebelum kemudian mencoba modern dance.
Berbeda dengan penari yang mengikuti latihan formal, Nando mengembangkan kemampuan dengan cara sederhana, yakni mengamati dan menirukan video tari secara mandiri.
“Jujur, aku baru tahu DBL saat kelas 10 ketika menonton dari tribun.
Melihat orang menari di lapangan itu kelihatannya menyenangkan.
Aku ingin berada di sana,” ujar Nando.
Keinginan tersebut akhirnya terwujud.
Namun, berada di tengah lapangan sebagai dancer ternyata memberikan pengalaman yang jauh berbeda dibandingkan ketika hanya menjadi penonton.
Dari Paduan Suara, Belajar Menjadi Dancer
Perpindahan dari panggung paduan suara ke arena DBL Dance membuat Dwita dan Nando harus beradaptasi dengan pola latihan yang berbeda.
Bersama CJ Nos Ludos, keduanya mengikuti latihan fisik secara rutin setelah kegiatan sekolah selesai.
Tidak hanya latihan bersama, anggota tim juga diwajibkan merekam latihan fisik secara mandiri ketika hari libur.
Aturan mengenai waktu minum, istirahat, hingga aktivitas selama latihan menjadi bagian dari kedisiplinan yang harus mereka jalani.
Bagi Dwita, aturan tersebut sempat membuatnya terkejut karena sebelumnya ia terbiasa menari tanpa pola latihan seketat itu.
“Pada awal bergabung, banyak aturan yang membuat saya kaget.
Misalnya, waktu minum harus bersama dan tidak boleh duduk sembarangan.
Latihan fisiknya juga cukup menguji karena sebelumnya saya hanya menari tanpa banyak aturan,” kata Dwita.
Nando juga merasakan hal serupa.
Ia menilai persiapan menuju kompetisi dance memiliki tingkat kesulitan yang tidak jauh berbeda dengan paduan suara.
“Saya kaget karena persiapannya sangat padat.
Seperti paduan suara, orang mungkin menganggapnya sederhana, tetapi ketika dijalani, prosesnya membutuhkan perjuangan besar,” tuturnya.
Kerja keras tersebut kemudian dituangkan CJ Nos Ludos melalui koreografi bertema Burung Cenderawasih.
Konsep tersebut dipilih untuk mengangkat budaya Papua sekaligus memperkuat tema “100% Indonesia”.
Bagi Nando, membawa budaya dari tanah kelahirannya ke atas panggung menjadi pengalaman yang emosional.
Ia merasa konsep tersebut juga sesuai dengan karakter SMA Cor Jesu Malang yang dikenal sebagai “Nusantara Mini”.
“Tim kami memiliki keunggulan dari segi visual karena anggotanya berasal dari latar belakang yang beragam.
Perbedaan warna kulit dan karakter membuat nuansa Nusantaranya terlihat kuat.
Tema ini benar-benar menggambarkan kami,” jelas Nando.
Persiapan penampilan juga tidak lepas dari berbagai tantangan.
Kebutuhan kostum, properti, hingga biaya operasional latihan harus dipenuhi bersama.
Sebagian kebutuhan tersebut berasal dari iuran anggota dan dukungan donatur.
Pengalaman tersebut membuat Nando memiliki keinginan untuk memberikan dukungan kepada tim dance sekolah setelah dirinya lulus.
Ia berharap suatu hari nanti dapat membantu adik kelas yang melanjutkan perjuangan CJ Nos Ludos di arena DBL Dance.
“Saya melihat kebutuhan terbesar tim ada pada properti dan biaya kostum.
Semoga ketika sudah sukses nanti, saya tidak melupakan sekolah.
Saya ingin membantu adik-adik kelas agar tetap bisa tampil di DBL,” ujarnya.
Bagi Dwita dan Nando, perjalanan dari penonton tribun hingga tampil langsung di lapangan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan selama masa SMA.
Keduanya kini memiliki cerita baru setelah sebelumnya berbagi panggung melalui paduan suara.
Namun, jika harus memilih, Nando mengaku lebih menikmati perannya sebagai dancer.
“Menjadi suporter dan dancer sama-sama seru.
Namun, saya lebih memilih tetap menjadi dancer.
Kalau di tribun saya bersemangat melihat orang menari, saya jauh lebih bersemangat ketika bisa menari langsung di lapangan,” katanya.
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 akan berlangsung di 31 kota yang tersebar di 22 provinsi Indonesia.
Selain kompetisi basket, musim ini juga menghadirkan AZA 3X3 Competition dan AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan tema “100% Indonesia”.
Seluruh keseruan pertandingan dapat disaksikan melalui kanal YouTube DBL Play. Sementara itu, pertandingan final juga dapat ditonton melalui YouTube Good Day ID.
Baca juga: Bhaskara Smarihasta Hadirkan Kisah Superhero Raptor Lewat Koreo Berseri












