Breaking

Kampanye Gemoy Prabowo-Gibran dalam Perspektif Komunikasi Politik

Kampanye Gemoy Prabowo-Gibran dalam Perspektif Komunikasi Politik
Kampanye Gemoy Prabowo-Gibran dalam Perspektif Komunikasi Politik

Infomalang.com – Fenomena kampanye Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka yang dikenal dengan istilah gemoy menjadi salah satu strategi komunikasi politik paling mencolok dalam kontestasi politik nasional Indonesia.

Istilah gemoy yang merujuk pada kesan gemas, lucu, dan menghibur digunakan untuk membentuk citra politik yang lebih santai dan dekat dengan masyarakat, khususnya pemilih muda.

Dalam kajian Komunikasi Politik, strategi ini termasuk dalam pendekatan personalisasi politik yang menempatkan figur kandidat sebagai pusat pesan ketimbang gagasan kebijakan yang kaku.

Prabowo yang sebelumnya dikenal dengan citra tegas, serius, dan militeristik mengalami reposisi citra melalui tampilan ekspresi ringan, joget, serta interaksi nonformal di ruang publik.

Perubahan citra ini menunjukkan bagaimana komunikasi politik modern tidak lagi semata-mata berbicara tentang ideologi, tetapi juga tentang emosi dan pengalaman simbolik pemilih.

Peran Media Sosial dalam Kampanye Gemoy

Kampanye gemoy memanfaatkan media sosial sebagai medium utama penyebaran pesan, terutama platform seperti TikTok, Instagram, dan X yang digemari generasi Z dan milenial.

Dalam teori agenda setting, konten-konten ringan dan menghibur tersebut berhasil mengalihkan perhatian publik dari isu berat ke narasi personal yang mudah diingat.

Gibran Rakabuming Raka berperan penting dalam strategi ini dengan gaya komunikasi yang kasual, bahasa sederhana, serta kedekatan visual yang konsisten dengan audiens muda.

Pendekatan tersebut memperkuat konsep political branding di mana kandidat diperlakukan layaknya sebuah merek yang harus memiliki identitas unik dan mudah dikenali.

Brand gemoy menjadi simbol bahwa politik tidak harus selalu tampil kaku, formal, dan penuh ketegangan, melainkan bisa dikemas secara populer.

Framing, Emosi, dan Daya Tarik Politik

Dalam perspektif framing, kampanye ini membingkai Prabowo sebagai sosok pemimpin yang ramah, adaptif, dan mampu mengikuti perubahan zaman.

Frame tersebut secara tidak langsung mereduksi memori publik terhadap narasi lama yang mengaitkan Prabowo dengan masa lalu yang kontroversial.

Strategi komunikasi ini juga menunjukkan penerapan teori emotional appeal yang menekankan perasaan senang, aman, dan kedekatan emosional pemilih.

Pemilih yang merasa terhibur cenderung lebih terbuka terhadap pesan lanjutan yang disampaikan oleh kandidat.

Baca Juga: Kunjungan Presiden Prabowo ke Malang, Polres Kerahkan 650 Personel Pengamanan

Kritik dan Tantangan Substansi Politik

Di sisi lain, kampanye gemoy menuai kritik karena dianggap mengaburkan substansi politik dan minim pembahasan program konkret.

Namun dalam komunikasi politik praktis, efektivitas pesan sering kali lebih ditentukan oleh daya jangkau dan resonansi emosional dibandingkan kedalaman materi.

Fenomena ini menegaskan bahwa politik elektoral telah bergeser ke arah mediatization of politics, di mana logika media mengalahkan logika kebijakan.

Konten singkat, visual kuat, dan mudah dibagikan menjadi kunci keberhasilan pesan politik di era digital.

Prabowo dan Gibran tampak memahami karakter audiens digital yang cenderung cepat bosan dan menyukai pesan instan.

Kampanye gemoy juga memperlihatkan bagaimana humor digunakan sebagai alat politik untuk meredam resistensi publik.

Humor dalam komunikasi politik berfungsi menurunkan jarak psikologis antara pemimpin dan masyarakat.

Wajah Baru Komunikasi Politik Indonesia

Keberhasilan kampanye gemoy menunjukkan bahwa citra dan persepsi publik dapat dibentuk melalui komunikasi yang konsisten dan terencana.

Meski demikian, tantangan ke depan adalah memastikan bahwa citra populer tersebut diikuti oleh kejelasan visi dan kebijakan.

Kampanye Prabowo-Gibran menjadi studi kasus penting dalam mata kuliah Komunikasi Politik tentang transformasi strategi kampanye modern.

Fenomena ini membuktikan bahwa politik hari ini bukan hanya soal apa yang disampaikan, tetapi bagaimana cara menyampaikannya.

Kampanye gemoy pada akhirnya mencerminkan wajah baru komunikasi politik Indonesia yang adaptif, visual, dan emosional.

Baca Juga: Prabowo Resmikan SMA Taruna Nusantara Terintegrasi Hari Ini Selasa 13 Januari 2026, Malang Jadi Pusat Pendidikan Baru