Di ruang tunggu bandara di Pakis, Kabupaten Malang, penumpang biasanya sibuk dengan ponsel, kopi, atau panggilan naik pesawat. Nama di papan terminal jarang dihiraukan: Abdulrachman Saleh. Padahal nama itu bukan dipinjam dari jauh. Pemiliknya pernah tinggal di Malang, memimpin pangkalan udara di tempat ini, dan gugur saat masih menjabat sebagai komandannya.
Lapangan Terbang di Timur Kota
Sebelum memakai nama itu, tempat ini dikenal sebagai Lapangan Terbang atau Pangkalan Udara Bugis. Belanda membangunnya pada era 1937–1940, sezaman dengan Maospati di Madiun, Panasan di Solo, dan Maguwo di Yogyakarta. Letaknya sekitar 17 kilometer di timur pusat Kota Malang. Setelah Jepang menyerah pada 1945, pejuang Indonesia mengambil alih pangkalan ini beserta pesawat-pesawat peninggalan Jepang.
Masa awal itu tidak mulus. Pangkalan Bugis sempat menjadi tarik-ulur antara kesatuan di Malang dan Markas Tinggi Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) di Yogyakarta. Sejak September 1946, pimpinan AURI beberapa kali mengutus seorang komodor berkacamata ke Malang untuk menengahi. Namanya Abdulrachman Saleh.
Si “Karbol” dari Kwitang
Abdulrachman Saleh lahir di Kampung Ketapang, kawasan Kwitang, Batavia, pada 1 Juli 1909. Ayahnya, Mohammad Saleh, seorang dokter yang dikenal luas. Sang anak mengikuti jejak itu, belajar di STOVIA lalu Geneeskundige Hoge School (GHS).
Di kampus, rambut keritingnya membuat teman-teman memanggilnya “Karbol”, dari kata Belanda krullebol. Ia aktif di Jong Java, kepanduan, dan klub olahraga, tapi dua hobinya yang paling menentukan adalah radio dan terbang. Ia bergabung dengan klub penerbangan di Batavia hingga mengantongi lisensi pilot.
Dokter, Guru Besar, Perintis Radio
Lulus dokter pada 1937, ia mendalami ilmu faal, mengajar di NIAS Surabaya, lalu kembali ke GHS hingga menjadi guru besar. Kelak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengukuhkannya sebagai Bapak Fisiologi Indonesia.
Ia juga memimpin perkumpulan radio VORO. Setelah proklamasi, ia ikut mendirikan Radio Republik Indonesia (RRI) pada 11 September 1945. Setelah RRI berjalan, ia memilih langit: bersama Agustinus Adisutjipto, mantan mahasiswanya, ia merintis AURI dan menjadi instruktur di sekolah penerbang Maguwo, Yogyakarta.
Komandan di Bugis
Pada 1946, ia ditugaskan memimpin Pangkalan Udara Maospati di Madiun dan memilih tinggal di Malang. Upayanya menyatukan Pangkalan Bugis ke bawah komando AURI membuahkan hasil. Pada 9 April 1947, ia dilantik sebagai Komandan Pangkalan Udara Bugis, merangkap Maospati.
Di Malang, ia tak hanya mengurus landasan dan pesawat. Ia turut mendirikan Sekolah Teknik Udara dan Sekolah Radio Udara, perpaduan dua dunia yang ia kuasai: mesin terbang dan gelombang radio.
Juli 1947: Dua Kabar Buruk
Pada 21 Juli 1947, Belanda melancarkan Agresi Militer I. Pesawat-pesawat tempurnya menyerang pangkalan udara Republik, termasuk di Malang. Sebagian besar armada AURI rusak, dan Pangkalan Bugis termasuk yang kemudian diduduki Belanda.
Saat itu Abdulrachman tidak berada di Malang. Ia dan Adisutjipto ditugaskan terbang ke India, menembus blokade udara Belanda. Dalam perjalanan pulang dari Singapura, mereka membawa bantuan obat-obatan dari Palang Merah Malaya dengan pesawat Dakota VT-CLA.
Pada 29 Juli 1947 sore, menjelang mendarat di Maguwo, Dakota itu ditembak dua pesawat P-40 Kittyhawk Belanda dan jatuh di Dusun Ngoto, Bantul. Abdulrachman Saleh gugur di usia 38 tahun, bersama Adisutjipto, Adisumarmo, dan penumpang serta awak lainnya. Hanya satu orang yang selamat, Abdul Gani Handonotjokro. Ia gugur dengan status masih sebagai Komandan Pangkalan Udara Bugis.
Nama yang Pulang ke Pakis
Lima tahun kemudian, Kepala Staf Angkatan Udara Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma mengeluarkan surat penetapan yang mengganti nama sejumlah pangkalan dengan nama para perintis AURI. Maguwo menjadi Adisutjipto, Tjililitan menjadi Halim Perdanakusuma, dan Bugis menjadi Abdulrachman Saleh. Peresmiannya bertepatan dengan HUT Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1952.
Pangkalan militer ini kemudian juga melayani penerbangan sipil. Warga Malang Raya mengenalnya sebagai Bandara Abdulrachman Saleh.
Penghormatan lain menyusul. Sejak 1965, Akademi Angkatan Udara menyebut seluruh tarunanya “Karbol”. Pada 9 November 1974, pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional lewat Keppres No. 071/TK/1974, sekaligus menaikkan pangkatnya secara anumerta menjadi Marsekal Muda. Tanggal gugurnya, 29 Juli, diperingati sebagai Hari Bakti TNI AU.
Makamnya kini berada di Kompleks Monumen Perjuangan TNI AU di Ngoto, Bantul, tak jauh dari lokasi jatuhnya pesawat. Sisa ekor Dakota VT-CLA disimpan di Museum Dirgantara Mandala, Yogyakarta.
Kembali ke Ruang Tunggu
Jadi, saat panggilan naik pesawat terdengar di Pakis, nama di papan terminal itu layak diingat sebentar. Ia bukan sekadar pahlawan dari kota lain. Ia pernah tinggal di Malang, memimpin pangkalan ini, dan gugur sebagai komandannya, saat membawa obat untuk republik.
Diperbarui per 1 November 2026.
Editor: Handoyo Tejo Wasito
Place Interest
Pemerintahan
Olahraga
Pariwisata
News
Malang Daily