Breaking

Longsor Payung 2 Sempat Lumpuhkan Jalur Malang–Kediri, Lalu Lintas Kini Normal

Ahnaf muafa

19 January 2026

Longsor Payung 2 Sempat Lumpuhkan Jalur Malang–Kediri, Lalu Lintas Kini Normal
Infomalang.com - Akses vital yang menghubungkan wilayah Malang Raya dengan Kediri melalui jalur pegunungan sempat mengalami lumpuh total akibat bencana tanah longsor yang terjadi di kawasan Payung 2, Kota Batu.

Infomalang.com – Akses vital yang menghubungkan wilayah Malang Raya dengan Kediri melalui jalur pegunungan sempat mengalami lumpuh total akibat bencana tanah longsor yang terjadi di kawasan Payung 2, Kota Batu.

Material tanah dan bebatuan besar menutup badan jalan setelah wilayah tersebut diguyur hujan dengan intensitas sangat tinggi selama beberapa jam terakhir.

Beruntung, berkat respons cepat dari tim gabungan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, serta relawan, proses evakuasi material dapat diselesaikan dengan efektif.

Saat ini, arus lalu lintas di jalur strategis tersebut telah dinyatakan kembali normal, meskipun para pengguna jalan tetap diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra saat melintasi kawasan rawan tersebut, terutama di tengah kondisi cuaca ekstrem yang masih mengancam wilayah Jawa Timur.

Kronologi Bencana dan Respons Cepat Tim Gabungan

Peristiwa tanah longsor di kawasan Payung 2 terjadi secara mendadak pada dini hari saat volume kendaraan sebenarnya sedang dalam kondisi melandai.

Namun, besarnya material tanah yang merosot dari tebing sisi jalan membuat jalur utama ini tidak dapat dilewati sama sekali, baik oleh kendaraan roda dua maupun roda empat.

Akibatnya, sempat terjadi antrean panjang kendaraan logistik dan angkutan umum yang tertahan di kedua arah, baik dari arah Batu menuju Pujon (Kediri) maupun sebaliknya.

Kawasan Payung selama ini memang dikenal sebagai titik paling kritis dalam pemetaan bencana daerah karena kemiringan tebing yang curam dan kondisi tanah yang labil.

Segera setelah menerima laporan, tim BPBD Kota Batu bersama aparat kepolisian dari Satlantas Polres Batu langsung bergerak menuju lokasi untuk melakukan sterilisasi area.

Prioritas pertama petugas adalah memastikan tidak ada korban jiwa yang tertimbun material longsoran. Setelah dipastikan aman, satu unit alat berat dikerahkan ke lokasi untuk mempercepat pembersihan lumpur dan bebatuan yang menutupi aspal.

Kerja keras petugas di lapangan yang dibantu oleh puluhan relawan lokal membuahkan hasil dalam waktu yang relatif singkat. Jalur yang semula tertutup total mulai bisa dibuka secara bergantian melalui sistem buka-tutup, hingga akhirnya kembali normal sepenuhnya pagi ini setelah sisa lumpur dibersihkan menggunakan water cannon dari Dinas Pemadam Kebakaran.

Analisis Penyebab dan Kerawanan Geografis Kawasan Payung

Bencana longsor di Payung 2 bukanlah fenomena baru, namun frekuensinya yang meningkat di awal tahun 2026 ini memicu kekhawatiran serius di kalangan ahli tata kota dan pakar geologi.

Secara geografis, kawasan Payung berada di lereng Gunung Banyak yang memiliki karakteristik tanah andosol yang cenderung gembur dan mudah jenuh air.

Ketika curah hujan melampaui batas normal, air meresap ke dalam celah-celah tanah dan meningkatkan beban massa tanah hingga melampaui batas kuat gesernya.

Hal inilah yang menyebabkan tebing di sisi jalan nasional tersebut sangat rentan mengalami deformasi atau longsoran tiba-tiba.

Selain faktor alam, alih fungsi lahan di bagian atas tebing juga diduga turut memperburuk kondisi kestabilan lereng. Berkurangnya vegetasi pengikat tanah membuat air hujan langsung meresap tanpa ada sistem transpirasi yang memadai.

Para ahli menyarankan perlunya audit lingkungan secara menyeluruh di kawasan tangkapan air sepanjang jalur Batu-Kediri.

Jika langkah konservasi tidak segera dilakukan, insiden seperti di Payung 2 ini diprediksi akan terus berulang dan berpotensi menimbulkan kerugian material yang lebih besar, bahkan risiko kehilangan nyawa bagi para pengendara yang melintas di waktu yang salah.

Baca juga:

Polres Malang Siapkan Langkah Pengamanan Pantai Hadapi Libur Panjang

Dampak Ekonomi dan Urgensi Jalur Logistik Malang–Kediri

Lumpuhnya jalur Malang–Kediri meski hanya dalam hitungan jam memiliki dampak berantai pada sektor ekonomi dan logistik regional.

Jalur ini merupakan urat nadi utama bagi pengiriman hasil pertanian dari wilayah barat Malang, seperti Pujon, Ngantang, dan Kasembon, menuju pasar-pasar besar di Kota Malang dan Surabaya.

Sayuran, susu segar, dan berbagai komoditas pangan lainnya sangat bergantung pada kelancaran jalur Payung. Keterlambatan distribusi akibat longsor tidak hanya menyebabkan penurunan kualitas barang, tetapi juga memicu fluktuasi harga di tingkat konsumen.

Pemerintah daerah menyadari betapa krusialnya jalur ini dalam menjaga stabilitas inflasi daerah. Oleh karena itu, percepatan normalisasi jalur paska bencana menjadi standar operasional prosedur yang sangat ketat.

Selain logistik pangan, sektor pariwisata yang menjadi motor penggerak ekonomi Kota Batu juga sangat terdampak. Wisatawan dari arah Kediri, Jombang, dan sekitarnya seringkali membatalkan perjalanan jika mendengar kabar adanya penutupan jalur di kawasan Payung.

Hal ini menunjukkan bahwa keamanan infrastruktur jalan raya memiliki korelasi langsung dengan kesehatan iklim investasi dan pariwisata di wilayah pegunungan tersebut.

Langkah Mitigasi Jangka Panjang dan Teknologi Deteksi Dini

Melihat pola bencana yang terus berulang, masyarakat menuntut adanya langkah mitigasi jangka panjang yang lebih konkret dari pihak berwenang.

Tidak cukup hanya dengan melakukan pembersihan material pasca longsor, perlu ada upaya preventif seperti penguatan tebing menggunakan metode shoting beton atau pemasangan jaring kawat penahan batu (rockfall net).

Selain itu, pemasangan sensor Early Warning System (EWS) yang berfungsi mendeteksi pergerakan tanah secara real-time harus segera diimplementasikan di titik-titik rawan Payung 1, 2, dan 3.

Teknologi ini dapat memberikan peringatan kepada petugas untuk menutup jalur secara otomatis sebelum longsor benar-benar terjadi.

Polres Batu bersama Dinas Perhubungan juga tengah mengkaji kemungkinan penyediaan jalur alternatif yang lebih aman, meskipun secara topografi wilayah tersebut memang sangat terbatas.

Saat ini, edukasi kepada pengguna jalan terus digalakkan melalui pemasangan papan imbauan di titik-titik strategis. Pengendara diingatkan untuk tidak memaksakan perjalanan saat hujan lebat turun dengan durasi lebih dari satu jam.

Kewaspadaan kolektif ini merupakan kunci utama dalam meminimalisir dampak bencana di area yang memiliki risiko geologi tinggi seperti kawasan Payung.

Lalu Lintas Kini Normal: Imbauan Bagi Pengendara

Meskipun saat ini arus lalu lintas telah kembali normal dan lancar di kedua arah, petugas kepolisian tetap bersiaga di sekitar lokasi Payung 2.

Sisa-sisa lumpur yang masih tipis di permukaan aspal bisa menjadi sangat licin saat terkena gerimis kecil, sehingga pengendara motor dan mobil diminta untuk menjaga jarak aman dan tidak melakukan manuver mendahului di area tikungan tajam.

Lampu penerangan jalan juga dipastikan berfungsi dengan baik guna memberikan visibilitas yang cukup bagi pengendara saat malam hari atau saat kabut tebal turun menyelimuti kawasan tersebut.

Petugas gabungan juga tetap memantau kondisi tebing secara visual untuk melihat adanya tanda-tanda retakan baru. Jika terjadi hujan lebat susulan, pihak kepolisian tidak menutup kemungkinan untuk melakukan penutupan jalur secara situasional demi keselamatan publik.

Masyarakat yang hendak bepergian melalui jalur Malang–Kediri disarankan untuk selalu memantau perkembangan informasi terkini melalui media massa kredibel atau akun media sosial resmi milik BPBD dan Satlantas setempat guna menghindari terjebak dalam antrean jika terjadi bencana susulan.

Sinergi dalam Menghadapi Bencana Cuaca Ekstrem

Penanganan longsor di Payung 2 memberikan pelajaran berharga mengenai pentingnya sinergi lintas instansi dan kesigapan dalam merespons bencana infrastruktur.

Ketangguhan sebuah wilayah diuji dari seberapa cepat mereka mampu bangkit dan menormalkan kembali layanan publik pasca terjadinya gangguan alam.

Namun, keberhasilan normalisasi lalu lintas ini harus diikuti dengan evaluasi mendalam mengenai ketahanan infrastruktur jalan raya di wilayah pegunungan Jawa Timur.

Pembangunan yang berkelanjutan harus mengedepankan aspek keselamatan dan keseimbangan lingkungan agar jalur distribusi tetap aman bagi siapa saja.

Kawasan Payung akan tetap menjadi saksi bisu tantangan geologi di Kota Batu. Selama mitigasi struktural yang komprehensif belum dilakukan, kewaspadaan tetap menjadi senjata utama bagi setiap pengguna jalan.

Pemerintah diharapkan tidak hanya fokus pada pemulihan fisik, tetapi juga pada kebijakan tata ruang yang lebih ketat di kawasan lereng.

Dengan demikian, jalur Malang–Kediri dapat terus menjalankan fungsinya sebagai jembatan ekonomi dan sosial tanpa harus dihantui oleh ketakutan akan bencana longsor setiap kali mendung menggantung di langit Bumi Arema.

Baca juga:

Polres Malang Siapkan Langkah Pengamanan Pantai Hadapi Libur Panjang

Author Image

Author

Ahnaf muafa