Infomalangcom – Hujan deras menunjukkan risiko yang dihadapi pengguna jalur Payung 2, Kota Batu.
Ruas jalan yang menghubungkan wilayah Malang dan Kediri tersebut pernah tertutup material longsor sehingga perjalanan warga sempat terganggu.
Penanganan cepat membuat akses kembali dapat digunakan, tetapi kondisi ini menegaskan pentingnya kewaspadaan di kawasan rawan bencana.
Kronologi Longsor Payung 2
Longsor terjadi pada Kamis malam, 29 Desember 2022, di titik Payung 2 atau Jalan Trunojoyo, Kelurahan Songgokerto, Kota Batu.
Berdasarkan keterangan Kepala BPBD Kota Batu yang dikutip detikJatim, kejadian berlangsung sekitar pukul 23.30 WIB setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut.
Tebing yang longsor memiliki panjang sekitar enam meter dan lebar empat meter.
Material yang jatuh terdiri atas tanah, batu, dan kayu. Material tersebut menutup sebagian badan jalan sehingga mengganggu arus kendaraan.
BPBD Kota Batu juga memantau guguran tanah dan batu karena terdapat potensi longsor susulan di sekitar lokasi.
Jalur Malang-Kediri Sempat Lumpuh
Tertutupnya badan jalan membuat lalu lintas di kawasan Payung 2 tidak dapat berjalan seperti biasanya.
Jalur tersebut merupakan bagian dari akses penghubung Batu dan Kediri, sekaligus berada pada koridor yang menghubungkan kawasan Malang dengan wilayah sekitarnya.
Gangguan pada ruas ini dapat memengaruhi perjalanan masyarakat yang melintasi jalur tersebut.
Kondisi jalan yang berada di kawasan perbukitan membuat pengguna kendaraan perlu memperhatikan keadaan cuaca.
Saat hujan deras berlangsung, risiko material dari tebing jatuh ke badan jalan menjadi perhatian. Karena itu, perjalanan melalui jalur Payung membutuhkan kehati-hatian, terutama ketika kondisi lingkungan menunjukkan tanda bahaya.
Penanganan Longsor oleh Petugas
Setelah kejadian dilaporkan, BPBD Kota Batu melakukan penanganan dengan membersihkan material longsor yang menutup badan jalan.
Pembersihan dilakukan agar kendaraan dapat kembali melintas dan gangguan lalu lintas tidak berlangsung lebih lama.
Petugas juga memantau kondisi sekitar lokasi setelah material dibersihkan. Pemantauan diperlukan karena guguran tanah dan batu masih berpotensi terjadi.
Penanganan bencana tidak hanya berfokus pada pembukaan jalan, tetapi juga memastikan kondisi tebing tetap diperhatikan sebelum pengguna jalan melintas.
Akses Malang-Kediri Kembali Normal
Setelah material longsor dibersihkan, jalur Payung 2 kembali normal dan lalu lintas dapat berjalan. Informasi tersebut disampaikan BPBD Kota Batu pada Jumat, 30 Desember 2022.
Meski akses sudah terbuka, masyarakat tetap diimbau waspada ketika melewati jalur Batu-Pujon, khususnya saat hujan.
Pembukaan jalan tidak berarti risiko longsor sepenuhnya hilang. Kondisi tebing dan cuaca tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Apabila terjadi hujan deras atau muncul tanda pergerakan tanah, pengguna jalan perlu mengikuti arahan petugas dan menghindari tindakan yang membahayakan keselamatan.
baca juga : Dua Pilihan Kelulusan Mahasiswa UIN, Skripsi atau Jalur Alternatif Artikel Ilmiah
Kawasan Payung 2 Memiliki Potensi Longsor
Risiko longsor di kawasan Payung juga mendapat perhatian dalam penelitian ilmiah.
Disertasi Universitas Brawijaya berjudul Pemetaan Potensi Longsor dengan Pendekatan Metode Geofisika dan Geoteknik sebagai Strategi Mitigasi Bencana mengambil kawasan Payung, Kota Batu, sebagai lokasi studi.
Penelitian tersebut menyebut hujan, getaran tanah, dan kemiringan lereng sebagai faktor yang berperan terhadap longsor.
Penelitian lain dalam Journal of Applied Geoscience and Engineering menggunakan Sistem Informasi Geografis untuk memetakan kawasan rawan longsor di Kota Batu.
Studi tersebut mempertimbangkan data curah hujan, jenis tanah, kemiringan lereng, dan tutupan lahan.
Hasilnya menunjukkan karakter wilayah Kota Batu yang memiliki lereng sangat curam sehingga terdapat area dengan kerawanan longsor tinggi.
Riwayat Longsor di Jalur Payung
Longsor di Payung 2 bukan kejadian pertama. Jalur Kota Batu-Kediri melalui Payung sebelumnya juga pernah mengalami gangguan akibat longsor.
Catatan tersebut menunjukkan bahwa kawasan ini perlu mendapat perhatian dalam pengelolaan risiko bencana.
Riwayat kejadian dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat pemantauan tebing, kondisi jalan, serta saluran drainase.
Data kejadian sebelumnya juga penting bagi pemerintah dalam menentukan langkah mitigasi dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.
Upaya Mitigasi untuk Pengguna Jalan
Pengguna jalan perlu meningkatkan kewaspadaan ketika melewati kawasan Payung, terutama saat hujan deras.
Pengendara sebaiknya memperhatikan kondisi tebing, permukaan jalan, serta kemungkinan adanya material yang jatuh.
Jika kondisi dinilai berbahaya, perjalanan sebaiknya tidak dipaksakan.
Mitigasi juga membutuhkan pemantauan rutin, pemetaan wilayah rawan, dan penyampaian informasi cepat kepada masyarakat.
Penelitian tentang Kota Batu menunjukkan bahwa pemetaan berbasis data dapat mendukung perencanaan mitigasi secara berkelanjutan.
Dengan pengawasan konsisten dan respons petugas yang cepat, risiko gangguan lalu lintas akibat longsor dapat ditekan, sementara keselamatan pengguna jalur tetap menjadi prioritas utama.
Pemerintah juga perlu memastikan informasi kondisi jalan mudah diakses, sehingga pengendara dapat menentukan waktu perjalanan dengan lebih aman.
Koordinasi antarpetugas penting agar penanganan dapat dilakukan segera ketika risiko kembali meningkat di sekitar lokasi tersebut.
baca juga : UIN Malang Siapkan Strategi Pembinaan Mahasiswa untuk Tingkatkan Prestasi dan Karakter












