infomalangcom – Harga masker mulai meningkat di sejumlah wilayah setelah abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menyebar ke beberapa kawasan pada awal September 2026.
Lonjakan permintaan membuat sebagian pedagang melaporkan stok menipis, sementara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan masyarakat perlu melindungi saluran pernapasan dari paparan abu.
Erupsi Gunung Anak Krakatau terjadi pada Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB. Kemenkes menyebut sebaran abu berdampak pada wilayah Lampung, Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Berdasarkan pemantauan kementerian, sekitar 23,36 juta jiwa berada di wilayah terdampak abu vulkanik.
Kenaikan harga masker kemudian terlihat di tingkat pedagang. Suara.com melaporkan stok masker di kawasan Jakarta Selatan mulai menipis setelah permintaan meningkat.
Seorang pedagang, Ma’min, mengatakan harga yang sebelumnya Rp15 ribu naik menjadi Rp20 ribu. Ia menyebut kenaikan tersebut mengikuti harga dari distributor pusat.
Kondisi serupa juga terlihat pada produk KN95. Bisnis.com melaporkan permintaan masker KN95 meningkat setelah erupsi, disertai keterbatasan stok di sejumlah gerai ritel. Penelusuran di e-commerce menemukan harga KN95 bervariasi berdasarkan jumlah isi. Kemasan 12 masker tercatat mencapai Rp169.200.
Kemenkes Beri Imbauan Penggunaan Masker untuk Lindungi Kesehatan
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes RI Aji Muhawarman mengatakan pemerintah meningkatkan kesiapsiagaan kesehatan untuk menghadapi dampak erupsi.
Kemenkes menyiagakan 413 rumah sakit dan 830 puskesmas di 20 kabupaten/kota terdampak, sekaligus menyiapkan pos pelayanan kesehatan, rumah sakit rujukan, tenaga kesehatan, dan ambulans.
“Kami memastikan sistem pelayanan kesehatan tetap siap menghadapi dampak erupsi, terutama gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik,” ujar Aji dalam keterangan resmi Kemenkes pada 7 September 2026.
Kemenkes juga meminta masyarakat mengurangi paparan abu. Warga dianjurkan tetap berada di dalam ruangan ketika abu beterbangan, menutup pintu dan jendela, serta menghindari kegiatan yang dapat membuat abu kembali menyebar.
Jika harus beraktivitas di luar ruangan, Kemenkes menganjurkan penggunaan masker N95, KN95, KF94, FFP2, atau jenis setara. Masker medis dapat digunakan sebagai perlindungan sementara apabila respirator tersebut belum tersedia.
Masyarakat juga dianjurkan menggunakan pelindung mata, mengenakan pakaian tertutup, dan membersihkan tubuh setelah kembali dari luar.
Dalam keterangannya, Aji mengingatkan masyarakat agar tidak panik dan tetap mengikuti informasi resmi. “Yang paling penting adalah masyarakat tidak panik, tetap mengikuti informasi resmi, mengurangi paparan abu, dan segera memeriksakan diri apabila mengalami keluhan kesehatan,” jelasnya.
Respons pemerintah tersebut dilakukan bersamaan dengan pemantauan kualitas udara. Kemenkes menyatakan data indeks standar pencemar udara pada 6 September menunjukkan sejumlah wilayah berada pada kategori sedang hingga tidak sehat.
PM2,5 menjadi salah satu parameter yang dipantau, sementara di Pelabuhan Bakauheni, pengukuran menunjukkan PM10 melampaui baku mutu di seluruh titik.
Dari sisi ilmiah, penggunaan perlindungan pernapasan memang relevan ketika masyarakat menghadapi abu vulkanik. Studi yang terbit di International Journal of Hygiene and Environmental Health menguji 17 jenis material perlindungan dan menemukan beberapa respirator memiliki efisiensi filtrasi sangat tinggi terhadap abu vulkanik.
Penelitian lanjutan juga menunjukkan kecocokan masker pada wajah berpengaruh terhadap jumlah partikel yang dapat masuk.
Studi lain terhadap masyarakat di sekitar Gunung Sinabung, Indonesia, menemukan respirator setara N95 memberikan performa lebih baik dibanding beberapa jenis masker lain dalam pengujian kebocoran partikel.
Temuan ilmiah tersebut memperkuat pentingnya memilih perlindungan yang sesuai, tanpa mengabaikan kenyamanan dan cara pemakaian.
Dengan permintaan yang meningkat dan stok yang mulai terbatas di sejumlah lokasi, kenaikan harga masker menjadi perhatian masyarakat pada awal September.
Namun, data yang tersedia saat ini menunjukkan kondisi pasar pada periode tersebut dan belum dapat dijadikan dasar untuk memastikan harga akan terus meningkat sepanjang September. Masyarakat disarankan membeli sesuai kebutuhan serta mengikuti arahan resmi pemerintah terkait perlindungan dari abu vulkanik.
Pemerintah juga mengimbau warga mengikuti informasi PVMBG, BMKG, BNPB, dan BPBD agar keputusan terkait aktivitas luar rumah serta perlindungan kesehatan disesuaikan dengan kondisi terbaru secara berkala selama situasi tersebut berlangsung.
Baca juga: Abu Vulkanik Anak Krakatau Menyebar hingga 15,24 Km, BMKG Ungkap Dampaknya











