infomalangcom – Prestasi pelajar Indonesia kembali mencuri perhatian di ajang sains internasional. Delegasi Indonesia berhasil membawa pulang 12 medali dari International Earth Science Olympiad (IESO) 2026 yang berlangsung di Turin, Italia, pada 20 hingga 27 Agustus 2026.
Capaian tersebut terdiri atas satu medali emas, empat medali perak, dan tujuh medali perunggu. Selain raihan medali, delegasi Indonesia juga mendapatkan tiga penghargaan Young Reporters Initiative (YoRI), yang menjadi bagian dari rangkaian kompetisi tahun ini.
IESO 2026 diikuti 160 peserta dari 40 negara. Kompetisi tidak hanya menguji kemampuan peserta melalui tes individu, tetapi juga menuntut kemampuan bekerja dalam tim, melakukan investigasi lapangan, mengolah data, serta menyampaikan hasil penelitian secara ilmiah.
Kinerja delegasi Indonesia memperlihatkan bahwa kompetensi sains tidak berhenti pada penguasaan teori. Peserta juga dituntut mampu memahami fenomena kebumian berdasarkan pengamatan dan data yang diperoleh selama kompetisi.
Rincian Prestasi Pelajar Indonesia di IESO 2026
Salah satu peraih medali adalah Marvell Collin Celeste dari SMAS Kristen Immanuel Pontianak, Kalimantan Barat. Ia meraih medali perunggu pada Individual Test, emas pada International Field Investigation, serta perunggu pada Earth System Project. Marvell juga mendapatkan Third Prize dalam Young Reporters Initiative.
Louis Victor Iswaranimpunga Paris dari SMAK Katolik St Albertus Malang, Jawa Timur, memperoleh medali perak pada Individual Test, perunggu pada International Field Investigation, dan perak pada Earth System Project. Ia juga meraih First Prize Young Reporters Initiative.
Prestasi berikutnya diraih Salma Rofidatul Hasanah dari MAN 2 Kota Malang. Ia mendapatkan medali perunggu pada Individual Test dan International Field Investigation, serta medali perak pada Earth System Project. Salma juga memperoleh Second Prize Young Reporters Initiative.
Sementara itu, Muhammad Ihsan dari MAN Insan Cendekia Serpong, Banten, mengoleksi medali perunggu pada Individual Test, perak pada International Field Investigation, dan perunggu pada Earth System Project. Kementerian Agama turut mengonfirmasi capaian tiga medali yang diraih Ihsan dalam kompetisi tersebut.
Pembina delegasi, Dr Ichsan Ibrahim, mengatakan peserta Indonesia mengikuti Young Reporters Initiative secara penuh pada tahun ini. Menurutnya, kategori tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk menghasilkan karya ilmiah dan video yang berkaitan dengan geologi serta ilmu kebumian.
Rangkaian kompetisi juga memberikan pengalaman ilmiah yang cukup kompleks bagi peserta. Salma menjelaskan bahwa peserta harus turun ke lapangan untuk mengambil data, termasuk melakukan kegiatan di kawasan pegunungan.
Setelah memperoleh data, mereka memproses hasil pengamatan, menyusun poster dan presentasi, kemudian menghadapi tes tertulis serta praktik.
Proses tersebut menunjukkan bahwa IESO memberikan ruang bagi pelajar untuk mengembangkan keterampilan observasi, analisis, komunikasi ilmiah, dan kerja sama. Kemampuan tersebut menjadi bagian penting dalam pembelajaran sains karena peserta tidak hanya diminta mengetahui konsep, tetapi juga menerapkannya pada persoalan nyata.
Keberhasilan delegasi Indonesia juga tidak terlepas dari proses pembinaan sebelum mengikuti kompetisi internasional.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Pusat Prestasi Nasional menyebut para delegasi internasional 2026 merupakan talenta hasil seleksi nasional yang menjalani pembinaan intensif bersama mitra pembina.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti sebelumnya menegaskan bahwa prestasi internasional bukan tujuan akhir. Menurutnya, pengalaman kompetisi diharapkan menjadi langkah awal untuk melahirkan generasi ilmuwan, inovator, dan pemimpin yang dapat memberikan manfaat bagi Indonesia.
Raihan 12 medali di IESO 2026 menjadi catatan positif bagi pembinaan talenta sains Indonesia. Hasil tersebut sekaligus menunjukkan kemampuan pelajar nasional untuk bersaing dalam kompetisi yang menggabungkan pengetahuan, penelitian, investigasi lapangan, dan komunikasi ilmiah.
Ke depan, pengalaman para peserta dapat menjadi bekal untuk mengembangkan minat terhadap ilmu kebumian sekaligus memperkuat budaya penelitian di sekolah.
Prestasi tersebut juga menjadi dorongan agar pembinaan talenta sains terus dilakukan secara berkelanjutan, sehingga semakin banyak pelajar Indonesia memiliki kesempatan untuk berkembang dan tampil di tingkat internasional.
Capaian ini juga memperlihatkan pentingnya dukungan pembinaan berkelanjutan, terutama dalam memberikan akses kepada pelajar untuk berlatih, melakukan penelitian, dan mengikuti kompetisi yang mengasah kemampuan sains secara langsung dan terukur.
Baca juga: MIT Rebut Posisi Teratas Harvard dalam Ranking Pendidikan Digital 2026













