Breaking

Merantau dari Banyuwangi, Salsabila Rozzaq Antar Magma Juara dan Raih MVP

jed timo

7 September 2026

Merantau dari Banyuwangi, Salsabila Rozzaq Antar Magma Juara dan Raih MVP
Meninggalkan Banyuwangi untuk melanjutkan pendidikan di Malang ternyata menjadi keputusan yang membawa cerita manis bagi Salsabila Rozzaq.

Infomalangcom – Meninggalkan Banyuwangi untuk melanjutkan pendidikan di Malang ternyata menjadi keputusan yang membawa cerita manis bagi Salsabila Rozzaq.

Siswi kelas 11 MAN 2 Kota Malang itu sukses menutup perjalanan di AZA 3X3 Competition 2026 East Java-South dengan dua pencapaian sekaligus.

Salsabila membawa Magma menjadi juara sektor putri sekaligus menyabet penghargaan Most Valuable Player (MVP).

Gelar tersebut diraihnya setelah tampil gemilang pada partai final di GOR Ken Arok, Jumat (4/9).

Menghadapi SMAN 1 Batu yang berstatus sebagai juara bertahan, Magma berhasil mengamankan kemenangan 8-5.

Dari total delapan poin yang dikumpulkan Magma, tujuh di antaranya berasal dari Salsabila.

Kontribusi tersebut membuatnya menjadi sosok penting dalam keberhasilan Magma mengangkat trofi.

Namun, perjalanan Salsabila menuju podium juara tidak hanya tentang performa di lapangan.

Ada keberanian meninggalkan kampung halaman dan keluar dari zona nyaman yang menjadi bagian dari ceritanya.

Dari Banyuwangi, Keluar Zona Nyaman demi Basket

Salsabila memutuskan merantau dari Banyuwangi ke Malang untuk bersekolah di MAN 2 Kota Malang.

Keputusan tersebut diambil bukan tanpa alasan.

Ia ingin mendapatkan suasana baru yang bisa mendukung perkembangan akademik sekaligus perjalanan basketnya.

Menurut Salsabila, Malang memiliki atmosfer kompetisi yang lebih kuat.

Lingkungan tersebut membuatnya memiliki kesempatan untuk berkembang menghadapi persaingan yang lebih tinggi.

“Saya aslinya dari Banyuwangi dan merantau ke Malang untuk sekolah di MAN 2 Kota Malang.

Saya ingin keluar dari zona nyaman.

Di Malang atmosfer kompetisinya jauh lebih bagus dan akademiknya di MAN 2 juga oke,” ujarnya.

Perjuangan di kota perantauan kemudian terasa semakin spesial ketika keluarganya datang langsung ke Malang untuk menyaksikan partai final.

Sang ibu, adik, dan nenek yang biasa dipanggil uti rela melakukan perjalanan menggunakan kereta api dari Banyuwangi menuju Malang.

Kehadiran mereka menjadi dukungan tambahan bagi Salsabila sebelum menjalani pertandingan paling penting.

Perjalanan jauh yang ditempuh keluarga akhirnya terbayar lunas.

Salsabila berhasil membawa Magma menjadi juara sekaligus mendapatkan penghargaan MVP.

Tidak mengherankan jika pencapaian tersebut langsung ia persembahkan kepada orang-orang yang selama ini mendukungnya.

“Gelar ini yang pertama pastinya saya persembahkan untuk orang tua saya yang sudah mengantar dan mendukung saya jauh-jauh dari Banyuwangi.

Kedua untuk teman-teman dan coach yang mau berjuang bersama, serta untuk sekolah saya MAN 2 Kota Malang,” tuturnya.

Menariknya, kesempatan Salsabila tampil di AZA 3X3 justru muncul dari situasi yang tidak ideal.

Tim putri Magma sebelumnya berada di urutan ketiga waiting list untuk kategori 5on5.

Dengan posisi tersebut, mereka tidak mendapatkan tempat dalam kuota pertandingan.

Alih-alih berhenti, Salsabila bersama rekan-rekannya mencoba peruntungan melalui kompetisi 3X3.

Sekolah kemudian menggelar proses seleksi untuk menentukan pemain yang akan memperkuat Magma.

Salsabila berhasil mendapatkan tempat di skuad utama.

Sejak saat itu, persiapan dilakukan dengan serius. Para pemain menjalani latihan setiap hari selepas jam sekolah.

Mereka harus beradaptasi dengan karakter permainan 3X3 yang berlangsung lebih cepat dan memiliki shot clock hanya 12 detik.

Latihan tersebut akhirnya membuahkan hasil di pertandingan final.

Magma sempat berada dalam situasi tertekan ketika SMAN 1 Batu mengambil momentum.

Status lawan sebagai juara bertahan juga membuat pertandingan semakin menantang.

Namun, Salsabila dan rekan-rekannya mampu menjaga keyakinan hingga akhir.

Tujuh poin yang dicetak Salsabila menjadi bukti betapa besar perannya dalam kemenangan Magma.

“Sebenarnya gak expect sama sekali bisa jadi MVP dan juara. Kita sempat nervous waktu lawan sempat leading karena mereka juara bertahan.

Tapi kita berusaha yakin karena ini kesempatan yang gak akan berulang kembali.

Begitu dipanggil jadi MVP, rasanya terharu banget dan bersyukur,” ungkap Salsabila.

Bagi Salsabila, trofi dan penghargaan MVP bukanlah garis akhir.

Pengalaman bertanding di tengah atmosfer kompetisi dan dukungan suporter justru membuatnya semakin termotivasi.

Ia ingin membawa pengalaman tersebut ke tantangan berikutnya, termasuk harapan agar Magma kembali tampil dalam kategori 5on5 musim mendatang.

“Harapannya di tahun depan Magma girls bisa ikut dan bersaing di kategori 5on5. Kita akan hajar dan latihan lagi sampai benar-benar puas dengan hasil latihannya,” tegasnya.

Perjalanan Salsabila dari Banyuwangi ke Malang akhirnya menghasilkan cerita yang sulit dilupakan.

Ia datang ke kota perantauan untuk mencari lingkungan baru, sempat menghadapi situasi waiting list, lalu menemukan jalannya melalui kompetisi 3X3.

Kini, Salsabila pulang dari AZA 3X3 Competition 2026 East Java-South dengan membawa dua pencapaian sekaligus: trofi juara dan gelar MVP.

Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 akan hadir di 31 kota yang tersebar di 22 provinsi Indonesia.

Selain kompetisi utama, musim ini juga menghadirkan AZA 3X3 Competition dan AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan tema “100% Indonesia”.

Seluruh keseruan pertandingan dapat disaksikan melalui kanal YouTube DBL Play, sementara laga final juga tersedia melalui YouTube Good Day ID.

Baca juga: Berawal dari Isi Waktu Luang, Calvin Marcello Tutup Debut dengan Gelar MVP

Author Image

Author

jed timo