Breaking

UM Kirim Relawan ke NTT, Ini 3 Fokus Pemulihan Pascabencana

infomalangcom Universitas Negeri Malang (UM) mengirim relawan ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk membantu proses pemulihan setelah bencana yang berdampak pada masyarakat dan sejumlah wilayah pendidikan. Pengiriman tersebut menjadi bentuk kepedulian perguruan tinggi sekaligus upaya menghadirkan dukungan langsung bagi warga yang membutuhkan.

UM menyebut tahap pertama pengiriman terdiri atas 10 relawan, yakni sembilan mahasiswa dari lintas fakultas dan satu dokter. Tim tersebut juga didampingi tiga pengemudi. Kehadiran personel dengan latar belakang berbeda diharapkan dapat mendukung kebutuhan masyarakat selama berada di wilayah terdampak.

Rektor UM Prof. Dr. Hariyono, M.Pd. menyampaikan bahwa para relawan membawa misi kemanusiaan dan perlu mampu menyesuaikan diri dengan kondisi masyarakat setempat.

Ia juga mengingatkan relawan untuk menjaga kesehatan, menghormati nilai budaya serta keagamaan, dan membangun semangat gotong royong selama menjalankan tugas.

Keberangkatan relawan tidak hanya diarahkan untuk memberikan bantuan sesaat. UM menyiapkan pendekatan yang mencakup aspek sosial, kesehatan, serta pengumpulan informasi lapangan. Ketiga bidang tersebut dinilai penting untuk mendukung tahapan pemulihan setelah kondisi darurat bencana.

3 Fokus Relawan UM dalam Pemulihan NTT

Fokus pertama adalah pendampingan psikososial. Dukungan ini ditujukan untuk membantu masyarakat menghadapi dampak emosional setelah mengalami bencana.

Pendekatan psikososial dapat dilakukan dengan mendampingi penyintas, memberikan ruang untuk berkomunikasi, serta membantu menciptakan suasana yang lebih aman dan mendukung.

Fokus kedua adalah pelayanan kesehatan. Kehadiran dokter dalam tim menjadi bagian dari upaya memberikan dukungan kesehatan kepada masyarakat terdampak.

Pelayanan tersebut dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan kesehatan di lapangan sekaligus memberikan penanganan sesuai kapasitas tim dan kondisi yang ditemukan.

Fokus ketiga adalah rapid assessment damage atau pendataan tingkat kerusakan. Kegiatan ini diperlukan untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi wilayah dan fasilitas yang terdampak.

Data lapangan dapat menjadi bahan pendukung dalam menentukan kebutuhan pemulihan berikutnya, termasuk prioritas penanganan yang perlu mendapatkan perhatian.

Menurut UM, pengiriman relawan juga berkaitan dengan kondisi sivitas akademika yang terdampak bencana. Kampus mencatat terdapat tujuh mahasiswa UM yang terdampak gempa di NTT dan sekitarnya.

Selain itu, sekitar 23 mahasiswa UM terdampak di wilayah Flores. Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian kampus dalam merespons situasi bencana.

Keterlibatan perguruan tinggi dalam penanganan bencana memiliki arti lebih luas daripada bantuan material. Mahasiswa dapat belajar menerapkan pengetahuan sekaligus memahami kebutuhan masyarakat dalam situasi nyata.

Bagi masyarakat, kehadiran relawan dapat menjadi tambahan dukungan ketika proses pemulihan masih berlangsung.

Dalam menjalankan tugas, relawan tetap perlu memperhatikan arahan pemerintah daerah dan unsur penanganan bencana di lokasi. Koordinasi menjadi penting agar bantuan tidak berjalan sendiri dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Pendekatan tersebut juga membantu memastikan kegiatan relawan tetap aman serta memiliki manfaat yang jelas.

UM menekankan pentingnya sikap menghormati masyarakat lokal selama kegiatan berlangsung. Perbedaan budaya dan kondisi sosial perlu dipahami agar interaksi antara relawan dan warga berjalan dengan baik. Semangat gotong royong menjadi salah satu dasar agar proses pemulihan dapat dilakukan secara bersama-sama.

Pengiriman tahap pertama ini menunjukkan bahwa peran kampus dapat ikut mendukung pemulihan pascabencana melalui keahlian dan sumber daya yang dimiliki. Pendampingan psikososial, pelayanan kesehatan, dan pendataan kerusakan menjadi tiga fokus yang saling melengkapi dalam memahami kebutuhan di lapangan.

Bantuan berbasis kebutuhan menjadi bagian penting dalam situasi pascabencana. Karena itu, pengamatan relawan di lapangan dapat membantu menggambarkan persoalan warga terukur.

Pendataan juga dapat menjadi pijakan komunikasi lanjutan, sehingga dukungan tidak hanya spontan, tetapi mengikuti kebutuhan yang ditemukan selama proses pemulihan.

Langkah UM tersebut memperlihatkan bahwa pemulihan membutuhkan keterlibatan pihak. Perguruan tinggi memiliki sumber daya akademik dan tenaga terlatih yang dapat mendukung masyarakat, sekaligus memperkuat pembelajaran mahasiswa melalui pengalaman kemanusiaan di lapangan.

Informasi resmi mengenai kegiatan tersebut dapat dibaca melalui situs Universitas Negeri Malang sebagai sumber utama. Dengan keterlibatan relawan, UM berharap kontribusi yang diberikan dapat membantu masyarakat NTT melewati masa pemulihan secara bertahap, terkoordinasi, dan tetap memperhatikan kebutuhan warga terdampak.

Baca juga: Rp860 Juta Disalurkan Kemendikdasmen untuk Sekolah Terdampak Gempa NTT