Infomalangcom – Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar terus melakukan pengembangan kualitas pendidikan melalui pemutakhiran kurikulum.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah menggelar Focus Group Discussion (FGD) kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE).
Kegiatan tersebut dilaksanakan Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Fakultas Agama Islam (FAI) Unisba Blitar pada Kamis, 15 Januari 2026.
FGD melibatkan jajaran fakultas, pengelola program studi, serta stakeholder dari luar kampus.
Pelibatan berbagai pihak menjadi bagian penting dalam proses penyusunan kurikulum. Masukan dari stakeholder diharapkan dapat membantu perguruan tinggi memastikan pembelajaran yang diberikan tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan kebijakan pendidikan.
Kurikulum OBE Berorientasi pada Capaian Lulusan
Outcome Based Education atau OBE merupakan pendekatan pendidikan yang menempatkan capaian pembelajaran sebagai salah satu fokus utama.
Artinya, proses pendidikan tidak hanya melihat materi yang disampaikan kepada mahasiswa, tetapi juga kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki setelah menyelesaikan pendidikan.
Pendekatan tersebut mendorong perguruan tinggi untuk memastikan setiap proses pembelajaran memiliki hubungan dengan kompetensi lulusan.
Dengan demikian, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan dan keterampilan sesuai bidangnya.
Dalam FGD yang digelar Unisba Blitar, pembahasan kurikulum diarahkan untuk memperkuat relevansi pembelajaran dengan kebutuhan dunia kerja.
Masukan stakeholder menjadi bahan penting dalam melihat kompetensi yang dibutuhkan lulusan ketika memasuki lingkungan profesional.
Stakeholder Ikut Memberikan Masukan
Kegiatan FGD tidak hanya dihadiri pihak internal kampus. Dari unsur eksternal, kegiatan tersebut menghadirkan perwakilan PENDMA Kementerian Agama Kota Blitar, PAKIS Kementerian Agama Kota Blitar, serta Dewan Pendidikan Kabupaten Blitar.
Keterlibatan mereka memberikan perspektif berbeda dalam proses pengembangan kurikulum. Stakeholder dapat memberikan masukan berdasarkan kondisi dan kebutuhan yang ditemui di lapangan.
Masukan tersebut terutama berkaitan dengan relevansi kurikulum, capaian pembelajaran lulusan, serta kompetensi yang dibutuhkan oleh lulusan Program Studi Manajemen Pendidikan Islam.
Kolaborasi seperti ini penting karena perguruan tinggi perlu memahami perkembangan kebutuhan di luar lingkungan akademik.
Dengan adanya komunikasi bersama stakeholder, penyusunan kurikulum dapat dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan nyata masyarakat dan dunia kerja.
Penguatan Kompetensi Menjadi Perhatian
Kompetensi lulusan menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian dalam pengembangan kurikulum. Perguruan tinggi perlu memastikan mahasiswa memperoleh pembelajaran yang dapat mendukung kemampuan mereka setelah lulus.
Bagi Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, kompetensi tersebut berkaitan dengan bidang pengelolaan pendidikan dan kebutuhan institusi pendidikan.
Kurikulum yang relevan dapat membantu mahasiswa memperoleh pengetahuan serta keterampilan yang sesuai dengan bidang yang akan mereka masuki.
Melalui FGD, pihak program studi dapat memperoleh masukan untuk mengevaluasi berbagai komponen kurikulum.
Proses tersebut memungkinkan kurikulum tidak hanya disusun berdasarkan perspektif akademik, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan pengguna lulusan.
Dekan dan Kaprodi Terlibat dalam FGD
Dari lingkungan internal FAI Unisba Blitar, kegiatan tersebut dihadiri Dekan Fakultas Agama Islam Dr. Winarto, M.Pd.I. serta Ketua Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Mohammad Sodik, M.Pd.
Kehadiran pimpinan fakultas dan program studi menunjukkan bahwa pengembangan kurikulum menjadi bagian penting dalam peningkatan mutu akademik.
Kurikulum memiliki peran dalam menentukan arah proses pembelajaran. Karena itu, evaluasi dan pemutakhiran perlu dilakukan secara berkala agar materi dan metode pembelajaran tetap sesuai dengan perkembangan bidang ilmu maupun kebutuhan masyarakat.
FGD menjadi salah satu forum yang dapat digunakan untuk memperoleh masukan sebelum penyempurnaan kurikulum dilakukan.
Kurikulum Perlu Menyesuaikan Perkembangan Dunia Kerja
Perubahan kebutuhan dunia kerja menjadi salah satu tantangan bagi perguruan tinggi. Lulusan tidak hanya dituntut memiliki pengetahuan akademik, tetapi juga kemampuan yang dapat diterapkan dalam pekerjaan.
Kondisi tersebut membuat hubungan antara perguruan tinggi dan stakeholder menjadi semakin penting. Dunia kerja dapat memberikan gambaran mengenai kompetensi yang dibutuhkan, sementara kampus dapat menyesuaikan proses pembelajaran berdasarkan masukan tersebut.
Pendekatan OBE memberikan ruang bagi perguruan tinggi untuk lebih memperhatikan hasil akhir proses pendidikan. Capaian lulusan menjadi bagian penting dalam menentukan apakah pembelajaran telah berjalan sesuai tujuan.
Kolaborasi Menjadi Bagian dari Pengembangan Pendidikan
FGD juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dengan pihak eksternal. Pengembangan pendidikan tidak dapat hanya dilakukan oleh kampus tanpa mempertimbangkan perubahan yang terjadi di masyarakat.
Stakeholder memiliki pengalaman langsung mengenai kebutuhan pendidikan dan dunia kerja. Sementara itu, perguruan tinggi memiliki peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan serta menyiapkan sumber daya manusia.
Pertemuan antara kedua pihak dapat menghasilkan masukan yang berguna bagi penyempurnaan kurikulum. Dengan komunikasi yang berkelanjutan, pengembangan pendidikan dapat menjadi lebih responsif terhadap perubahan.
Upaya Meningkatkan Relevansi Lulusan
FGD kurikulum OBE yang dilakukan Unisba Blitar menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan lapangan. Kurikulum yang sesuai dapat membantu mahasiswa memperoleh kompetensi yang lebih terarah.
Proses tersebut juga menunjukkan bahwa evaluasi kurikulum bukan hanya berkaitan dengan perubahan materi pembelajaran.
Perguruan tinggi perlu melihat hubungan antara capaian pembelajaran, kebutuhan pengguna lulusan, serta perkembangan bidang pekerjaan.
Dengan mempertimbangkan berbagai aspek tersebut, kurikulum dapat dikembangkan secara lebih menyeluruh.
baca juga: PTPP Rampungkan Proyek UIN Malang Tahap II, Kampus Ikonik Raih Rekor MURI
Langkah Penguatan Mutu Akademik
Kegiatan FGD yang melibatkan stakeholder menjadi bagian dari upaya Unisba Blitar memperkuat mutu akademik.
Penyelarasan kurikulum diharapkan dapat mendukung proses pembelajaran yang lebih relevan dan menghasilkan lulusan dengan kompetensi sesuai kebutuhan.
Bagi mahasiswa, kurikulum yang dirancang berdasarkan capaian pembelajaran dapat memberikan arah yang lebih jelas mengenai kemampuan yang perlu dikuasai selama menjalani pendidikan.
Sementara bagi perguruan tinggi, masukan stakeholder dapat menjadi bahan evaluasi untuk terus meningkatkan kualitas program studi.
Pengembangan kurikulum berbasis OBE pada akhirnya bukan hanya tentang mengikuti perubahan sistem pendidikan.
Pendekatan tersebut juga menjadi upaya memastikan pendidikan tinggi mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan sesuai bidangnya dan siap menghadapi kebutuhan masyarakat serta dunia kerja.
baca juga: PMB UIN Malang Bidik Siswa SMA, Perluas Akses Calon Mahasiswa Baru














