Breaking

3 Langkah Bupati Bulungan Hadapi Karhutla, Puskesmas dan RS Diminta Siaga

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, membuat pemerintah daerah memperkuat kesiapan layanan kesehatan.

infomalangcom – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, membuat pemerintah daerah memperkuat kesiapan layanan kesehatan.

Bupati Bulungan Syarwani meminta seluruh fasilitas kesehatan bersiap menghadapi kemungkinan meningkatnya gangguan pernapasan akibat memburuknya kualitas udara.

Permintaan tersebut mencakup 12 puskesmas dan Rumah Sakit Daerah dr. H. Soemarno Sosroatmodjo (RSDSS) Tanjung Selor. Kesiapsiagaan diperlukan agar masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap dapat memperoleh penanganan sesuai kondisi.

Syarwani mengatakan pemerintah daerah terus mengikuti perkembangan kualitas udara berdasarkan pembaruan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Menurut dia, kondisi udara di Bulungan dalam beberapa hari terakhir berada pada kategori tidak sehat.

“Kita sudah memutuskan tadi malam, teriring dengan kondisi dan kita meng-update laporan BMKG. Per hari kemarin, termasuk juga hari ini, kondisinya tidak sehat,” ujar Syarwani seperti dikutip ANTARA News Kaltara.

Kondisi tersebut menjadi dasar pemerintah daerah meningkatkan langkah pencegahan. Selain memperkuat kesiapan fasilitas kesehatan, Pemkab Bulungan juga mengoptimalkan pemantauan kondisi karhutla dan kualitas udara agar informasi dapat segera diteruskan kepada masyarakat.

Tiga Langkah Bupati Bulungan Hadapi Dampak Karhutla

Langkah pertama adalah meminta 12 puskesmas dan RSDSS Tanjung Selor meningkatkan kesiapsiagaan. Fasilitas kesehatan tersebut dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan bertambahnya masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan akibat paparan asap.

Kesiapan layanan menjadi penting karena RSDSS merupakan fasilitas kesehatan rujukan. Pihak rumah sakit menyatakan siap menangani kasus penyakit akibat asap karhutla yang dirujuk dari fasilitas kesehatan tingkat pertama.

Direktur RSDSS Tanjung Selor dr. Widodo DS mengatakan dalam satu pekan terakhir terdapat 50 kasus gangguan pernapasan yang diduga berkaitan dengan kualitas udara akibat karhutla. Kasus tersebut ditemukan pada layanan rawat jalan maupun Unit Gawat Darurat.

“Alhamdulillah, saat ini peningkatan kasus dampak kebakaran (karhutla) di RSDSS Tanjung Selor masih kecil,” kata Widodo.

Ia menjelaskan mayoritas pasien mengalami gejala ringan sehingga mendapatkan penanganan rawat jalan dan tidak memerlukan perawatan intensif. Meski demikian, rumah sakit tetap menyiapkan pelayanan apabila terdapat rujukan dengan kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Langkah kedua adalah memastikan kesiapan oksigen. Syarwani meminta fasilitas kesehatan memaksimalkan potensi oksigen yang tersedia sebagai bagian dari antisipasi jika terjadi peningkatan pasien dengan gangguan pernapasan. Kesiapan tersebut menjadi bagian penting dalam menghadapi kondisi udara yang tidak sehat.

Langkah ketiga adalah memperkuat pemantauan kualitas udara dan perkembangan karhutla. Pemkab Bulungan mengoptimalkan Pusat Pengendalian dan Operasi (Pusdalops) BPBD bersama perangkat daerah terkait untuk memantau cuaca, kualitas udara, serta kondisi kebakaran.

Syarwani mengatakan informasi tersebut perlu disampaikan kepada masyarakat secara berkala agar warga dapat menyesuaikan aktivitas dengan kondisi lingkungan. Pemerintah juga telah menerapkan Belajar dari Rumah bagi satuan pendidikan sebagai langkah preventif, dengan kebijakan tersebut dievaluasi berdasarkan perkembangan kualitas udara dan karhutla.

Di tengah kondisi itu, masyarakat juga diminta membatasi aktivitas di luar ruangan. RSDSS mengimbau warga menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar, mencukupi kebutuhan cairan, serta memperhatikan kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit jantung, dan penderita asma atau alergi.

Syarwani sebelumnya juga mengingatkan masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala seperti sesak napas, batuk, atau iritasi mata. Imbauan tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko kesehatan selama kabut asap berlangsung.

Kesiapan layanan kesehatan di Bulungan menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya berkaitan dengan pemadaman api. Dampak terhadap kesehatan masyarakat juga membutuhkan respons cepat melalui fasilitas kesehatan, pemantauan kualitas udara, serta penyampaian informasi yang akurat.

Dengan tiga langkah tersebut, Pemkab Bulungan berupaya memastikan fasilitas kesehatan tetap siap menghadapi kemungkinan dampak karhutla. Pemerintah juga terus mengevaluasi kondisi di lapangan agar kebijakan dapat disesuaikan dengan perkembangan kualitas udara dan situasi kebakaran.

Masyarakat diharapkan mengikuti informasi pemerintah dan tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan. Kewaspadaan bersama diperlukan agar risiko kesehatan akibat kabut asap dapat ditekan selama kondisi karhutla masih berlangsung di Bulungan. Masyarakat juga saat ini.

Baca juga: Prabowo Hadiri EEF ke-11, Peluang Kerja Sama Ekonomi RI-Rusia Jadi Sorotan