infomalangcom – Belakangan ini tagar #desperate ramai digunakan para pencari kerja muda di LinkedIn. Di baliknya bukan sekadar keluhan biasa, melainkan potret kelelahan kolektif generasi muda yang sudah mengirim ratusan lamaran namun terus berujung penolakan atau bahkan tanpa balasan sama sekali.
Fenomena ini terasa relevan bagi hampir setiap mahasiswa tingkat akhir dan fresh graduate, termasuk kita yang sedang duduk di bangku kuliah dan tak lama lagi akan memasuki dunia kerja yang sama kompetitifnya.
Survei dari Populix bahkan menunjukkan bahwa sebagian besar Gen Z Indonesia mengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan, dengan hampir separuh dari mereka mengaku salah satu kendala utamanya adalah kurangnya koneksi.
Fakta yang terakhir inilah yang menarik untuk direnungkan. Ketika keterampilan dan nilai akademik dianggap sudah menjadi syarat dasar yang setara di antara para pelamar, yang sering kali membedakan siapa yang lolos dan siapa yang tidak justru adalah jaringan atau relasi yang dimiliki seseorang.
Banyak orang keliru memaknai networking sebagai sesuatu yang oportunistik, seolah-olah membangun relasi hanya dilakukan ketika sedang butuh sesuatu. Padahal, networking yang sehat justru dibangun jauh sebelum kebutuhan itu muncul, melalui interaksi yang tulus, kontribusi kepada komunitas, dan kesediaan untuk saling membantu tanpa pamrih langsung.
Dari sudut pandang Estetika Humanisme, membangun jaringan sesungguhnya adalah wujud nyata dari relasi manusia yang paling mendasar, yaitu kesalingtergantungan (interdependency).
Humanisme menegaskan bahwa manusia bukan makhluk yang bisa berkembang sendirian, melainkan makhluk sosial yang tumbuh melalui interaksi, dialog, dan kolaborasi dengan sesamanya.
Ironisnya, di tengah budaya kompetisi individual yang begitu kental di dunia kerja modern, banyak orang justru melupakan nilai dasar ini dan memilih untuk berjuang sendirian, mengandalkan CV dan portofolio semata, tanpa menyadari bahwa peluang sering kali datang justru dari percakapan sederhana yang terjalin secara tulus dengan orang lain.
Perubahan fungsi LinkedIn sendiri di kalangan Generasi Z Indonesia menunjukkan pergeseran kesadaran ini. Riset dari Universitas Airlangga mencatat bahwa Generasi Z kini tidak lagi memanfaatkan LinkedIn semata sebagai mesin pencari lowongan kerja, melainkan mulai menggunakannya untuk berbagi wawasan, membangun citra profesional, dan berpartisipasi dalam komunitas.
Pergeseran ini menandakan adanya kesadaran, meski masih sebagian, bahwa membangun jaringan adalah proses jangka panjang yang dibangun lewat konsistensi berkontribusi, bukan aktivitas instan yang dilakukan hanya saat sedang mencari pekerjaan.
Baca Juga: Pentingnya Perencanaan Pensiun untuk Mewujudkan Masa Depan Finansial yang Aman
Namun, networking yang sehat juga perlu dibedakan dari sekadar mengumpulkan koneksi sebanyak-banyaknya tanpa makna. Jumlah koneksi yang besar tidak serta-merta mencerminkan jaringan yang kuat, jika relasi tersebut dangkal dan tidak dilandasi kepercayaan maupun kepedulian yang tulus.
Nilai humanistik dalam membangun jaringan justru terletak pada kualitas relasi, yaitu sejauh mana seseorang benar-benar mengenal, dikenal, dan dipercaya oleh orang-orang di sekitarnya.
Sebuah relasi yang baik akan bertahan bukan karena manfaat instan yang ditawarkan, melainkan karena rasa saling menghargai yang terbangun dari waktu ke waktu.
Bagi mahasiswa yang sebentar lagi akan memasuki dunia kerja, ada beberapa langkah sederhana yang bisa mulai dilatih sejak sekarang untuk membangun jaringan secara humanis: aktif berdiskusi dan berkontribusi dalam komunitas atau organisasi kampus, tidak sekadar menjadi anggota pasif; membiasakan diri untuk menyapa dan menjaga silaturahmi dengan dosen, senior, maupun rekan seangkatan tanpa menunggu ada kepentingan tertentu; serta berani memulai percakapan profesional di platform seperti LinkedIn dengan cara berbagi pemikiran yang otentik, bukan sekadar mengejar jumlah koneksi.
Kebiasaan-kebiasaan kecil ini, jika dirawat secara konsisten, akan menjadi modal sosial yang jauh lebih tahan lama dibandingkan sekadar mengirim lamaran ke ratusan perusahaan tanpa arah.
Pada akhirnya, fenomena #desperate di LinkedIn seharusnya tidak hanya dibaca sebagai keluhan tentang sulitnya lapangan kerja, tetapi juga sebagai pengingat bahwa membangun jaringan adalah keterampilan hidup yang perlu dipelajari sejak dini, bukan tindakan darurat yang baru dilakukan ketika sudah dalam keadaan terdesak.
Estetika Humanisme mengajarkan bahwa manusia berkembang melalui relasi yang bermakna dengan sesamanya. Networking, jika dijalani dengan ketulusan dan konsistensi, bukan sekadar strategi karier, melainkan bentuk paling nyata dari nilai kemanusiaan itu sendiri: bahwa kita tumbuh bukan sendirian, melainkan bersama orang lain.
Oleh: Adilia Khairun Nisa
Mahasiswa Universitas Siber Asia











