Breaking

Kekerasan Seksual Dominasi Kasus Anak di Malang, Pelaku Banyak Berasal dari Orang Terdekat

Kekerasan Seksual Dominasi Kasus Anak di Malang, Pelaku Banyak Berasal dari Orang Terdekat
Kekerasan Seksual Dominasi Kasus Anak di Malang, Pelaku Banyak Berasal dari Orang Terdekat

infomalangcom – Kasus kekerasan terhadap anak di Kabupaten Malang kembali menjadi perhatian.

Data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Malang menunjukkan bahwa kekerasan seksual menjadi bentuk kekerasan yang paling banyak tercatat sepanjang Januari hingga Juli 2026.

Pada periode tersebut, terdapat 59 kasus dengan 63 korban anak.

Dari jumlah itu, 32 kasus atau sekitar 54 persen merupakan kekerasan seksual.

Kekerasan Seksual Menjadi Kasus Paling Dominan

Catatan DP3A Kabupaten Malang memperlihatkan bahwa kekerasan seksual memiliki porsi terbesar dibandingkan bentuk kekerasan terhadap anak lainnya.

Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan perlindungan anak tidak hanya berkaitan dengan kekerasan fisik, tetapi juga ancaman yang dapat terjadi dalam relasi sosial anak.

Kepala DP3A Kabupaten Malang, Arbani Mukti Wibowo, menyampaikan data tersebut dalam kegiatan sosialisasi penyimpangan perilaku seksual di Pendapa Agung Kabupaten Malang.

Menurut data yang dipaparkan, 32 dari 59 kasus kekerasan terhadap anak selama tujuh bulan pertama 2026 merupakan kekerasan seksual.

Angka tersebut menjadi gambaran penting mengenai perlunya pencegahan yang lebih kuat.

Baca Juga : Kecelakaan Lalu Lintas di Kota Malang Turun, Kasus Juli 2026 Berkurang

Kekerasan seksual terhadap anak dapat meninggalkan dampak yang panjang, sehingga penanganannya perlu memperhatikan keselamatan, kondisi psikologis, serta kebutuhan korban.

Mayoritas Pelaku Berasal dari Orang Terdekat

Hal lain yang menjadi perhatian adalah hubungan antara korban dan pelaku.

Berdasarkan pendataan DP3A Kabupaten Malang, sekitar 63 persen pelaku kekerasan terhadap anak merupakan anggota keluarga atau orang terdekat korban.

Kondisi tersebut membuat upaya perlindungan anak menjadi semakin kompleks.

Orang yang berada dekat dengan anak pada dasarnya memiliki akses dan kepercayaan lebih besar dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, pengawasan terhadap keselamatan anak tidak cukup hanya dengan mengingatkan mereka agar berhati-hati terhadap orang asing.

Anak juga perlu mendapatkan pemahaman mengenai batasan diri, hak atas tubuh, serta keberanian untuk menyampaikan pengalaman yang membuat mereka merasa tidak aman.

Di sisi lain, orang dewasa perlu membangun komunikasi yang terbuka agar anak memiliki ruang untuk bercerita tanpa merasa takut atau disalahkan.

Lingkungan Terdekat Perlu Menjadi Ruang Aman

Keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar mempunyai peran penting dalam menciptakan ruang aman bagi anak.

Ketika pelaku berasal dari lingkungan yang dikenal korban, tanda-tanda kekerasan terkadang lebih sulit dikenali atau diungkapkan.

Karena itu, perhatian terhadap perubahan perilaku anak menjadi bagian penting dalam pencegahan.

Perubahan emosi, rasa takut terhadap seseorang, menarik diri dari lingkungan, atau keengganan melakukan aktivitas tertentu dapat menjadi alasan bagi orang dewasa untuk lebih memperhatikan kondisi anak.

Namun, tanda tersebut tidak dapat langsung dianggap sebagai bukti kekerasan dan perlu ditindaklanjuti secara hati-hati.

Pendekatan kepada korban juga harus mengutamakan kepentingan terbaik bagi anak.

Anak yang bercerita mengenai pengalaman kekerasan membutuhkan dukungan, bukan tekanan untuk membuktikan atau menjelaskan kejadian secara berulang-ulang.

Perlindungan Anak Membutuhkan Peran Bersama

Data kekerasan anak di Kabupaten Malang menunjukkan bahwa perlindungan anak membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

Orang tua dapat membangun komunikasi terbuka dan mengenalkan anak pada batasan tubuh.

Sekolah dapat menciptakan mekanisme pelaporan yang aman serta memastikan lingkungan pendidikan bebas dari kekerasan.

Masyarakat juga memiliki peran dengan tidak mengabaikan dugaan kekerasan yang terjadi di sekitar mereka.

Informasi mengenai kasus perlu disampaikan melalui jalur yang tepat agar korban memperoleh perlindungan dan pendampingan.

Pemerintah daerah dan lembaga terkait memiliki tanggung jawab untuk memastikan korban mendapatkan layanan yang dibutuhkan.

Penanganan tidak berhenti pada pengungkapan kasus, tetapi juga perlu memperhatikan pemulihan dan keamanan korban.

Pencegahan Kekerasan Seksual pada Anak

Pencegahan dapat dimulai dari pendidikan yang sesuai usia.

Anak perlu mengetahui bahwa tubuhnya memiliki batas yang harus dihormati, memahami situasi yang membuatnya tidak nyaman, dan mengetahui kepada siapa mereka dapat meminta bantuan.

Orang tua juga perlu memberikan ruang komunikasi tanpa menghakimi. Ketika anak merasa dipercaya dan didengar, mereka memiliki kesempatan lebih besar untuk menyampaikan masalah yang dialami.

Selain pencegahan, masyarakat perlu memahami bahwa korban tidak boleh dipersalahkan atas kekerasan yang dialaminya.

Respons orang dewasa menentukan keberanian anak untuk mencari pertolongan.

Sikap yang tenang, mendengarkan, menjaga kerahasiaan identitas, dan menghubungkan korban dengan layanan profesional merupakan langkah penting.

Kasus yang melibatkan orang terdekat menunjukkan pentingnya kewaspadaan tanpa menumbuhkan ketakutan.

Perlindungan anak bukan berarti membatasi hubungan sosial, melainkan memastikan relasi berlangsung dengan batasan, pengawasan, dan penghormatan terhadap hak anak.

Baca Juga : Tips Praktis Bangun Sahur Tepat Waktu Agar Tidak Kesiangan

Di tengah data 59 kasus dengan 63 korban sepanjang Januari hingga Juli 2026, perhatian terhadap pencegahan menjadi semakin penting.

Fakta bahwa kekerasan seksual mencapai 54 persen dari seluruh kasus dan sekitar 63 persen pelaku merupakan orang terdekat menunjukkan bahwa perlindungan anak perlu dilakukan secara menyeluruh, termasuk di lingkungan yang selama ini dianggap paling aman.

Sumber data: