infomalangcom – Gunung Semeru kembali mengalami erupsi pada Senin, 10 Agustus 2026 pagi.
Aktivitas vulkanik tersebut terjadi di Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Berdasarkan laporan pengamatan gunung api yang dikutip dari Badan Geologi, erupsi terjadi pada pukul 08.03 WIB.
Kolom letusan teramati membubung sekitar 700 meter di atas puncak Gunung Semeru atau mencapai ketinggian sekitar 4.376 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Gunung Semeru Erupsi pada Senin Pagi
Erupsi Gunung Semeru pada Senin pagi tersebut menghasilkan kolom abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal.
Berdasarkan hasil pengamatan, kolom abu bergerak ke arah utara dan barat laut dari puncak.
Aktivitas erupsi juga terekam melalui seismograf.
Erupsi pada pukul 08.03 WIB tercatat memiliki amplitudo maksimum 22 milimeter dan berlangsung selama sekitar 97 detik.
Sebelumnya, Gunung Semeru juga dilaporkan mengalami erupsi pada pukul 05.42 WIB.
Laporan awal yang mengutip informasi PVMBG melalui MAGMA Indonesia menyebut erupsi masih berlangsung ketika laporan tersebut dibuat.
Dengan adanya aktivitas tersebut, masyarakat di sekitar kawasan Gunung Semeru diminta tetap mengikuti perkembangan informasi dari pihak berwenang dan tidak mendekati wilayah yang masuk dalam zona bahaya.
Baca Juga: Penguatan Jembatan Brawijaya Malang Jadi Langkah Awal Revitalisasi Kawasan Splendid
Masyarakat Diminta Menjauhi Besuk Kobokan
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memberikan sejumlah rekomendasi menyusul aktivitas vulkanik Gunung Semeru.
Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga sejauh 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.
Selain itu, masyarakat yang berada di luar jarak tersebut juga diminta tidak melakukan aktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai atau sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan.
Wilayah tersebut berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga sejauh 17 kilometer dari puncak.
PVMBG juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru karena kawasan tersebut berpotensi terdampak lontaran batu pijar.
Masyarakat juga diminta mewaspadai kemungkinan terjadinya awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai maupun lembah yang berhulu di puncak Semeru.
Kewaspadaan terutama diperlukan di sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.
Potensi lahar juga perlu diperhatikan pada sungai-sungai kecil yang menjadi anak sungai Besuk Kobokan.
Aktivitas Semeru Perlu Terus Dipantau
Gunung Semeru merupakan salah satu gunung api aktif di Jawa Timur dan menjadi gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian sekitar 3.676 meter di atas permukaan laut.
Aktivitas erupsi yang kembali terjadi pada Senin pagi menunjukkan pentingnya kewaspadaan masyarakat, khususnya warga yang tinggal di kawasan rawan bencana serta masyarakat yang melakukan aktivitas di sekitar aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru.
Informasi mengenai aktivitas gunung api dapat berubah sewaktu-waktu.
Karena itu, masyarakat maupun wisatawan disarankan mengikuti informasi resmi dari PVMBG dan Badan Geologi serta mematuhi seluruh rekomendasi yang dikeluarkan petugas.
Bagi masyarakat di wilayah Lumajang dan Malang yang berada di sekitar kawasan Semeru, kewaspadaan juga penting dilakukan dengan memperhatikan kondisi lingkungan dan perkembangan aktivitas vulkanik terbaru.
Erupsi Gunung Semeru pada 10 Agustus 2026 ini menjadi pengingat bahwa aktivitas gunung api perlu terus dipantau.
Masyarakat diharapkan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dan selalu mengacu pada keterangan resmi dari lembaga terkait.
Baca Juga: Kekerasan Seksual Dominasi Kasus Anak di Malang, Pelaku Banyak Berasal dari Orang Terdekat
Sumber
- Badan Geologi – Kementerian ESDM: Portal Badan Geologi
- PVMBG – Badan Geologi: Portal PVMBG
- Databoks – laporan erupsi 05.42 WIB: Databoks Katadata
- iNews – laporan erupsi 08.03 WIB: iNews














