Breaking

Akses Lalu Lintas Batu-Kediri Sempat Terganggu Akibat Tanah Longsor Usai Hujan

Akses Lalu Lintas Batu-Kediri Sempat Terganggu Akibat Tanah Longsor Usai Hujan
Hujan deras yang mengguyur wilayah Kota Batu kembali memicu gangguan di jalur penghubung Batu-Kediri.

infomalangcom – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kota Batu kembali memicu gangguan di jalur penghubung Batu-Kediri.

Material tanah longsor sempat menutup sebagian akses jalan di kawasan Payung 2, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu, sehingga arus kendaraan terganggu pada malam hari.

Peristiwa tersebut terjadi pada Senin malam, 6 April 2026, sekitar pukul 23.40 WIB. Berdasarkan laporan Malang Post, tebing di Jalan Trunojoyo mengalami longsor setelah hujan berintensitas tinggi turun dalam durasi cukup lama. Material berupa tanah dan ranting pohon runtuh ke arah jalan dan menutup sebagian bahu jalan.

Kondisi itu membuat kendaraan yang melintas harus lebih berhati-hati. Gangguan lalu lintas tidak berlangsung permanen karena petugas segera melakukan penanganan dan membersihkan material yang berada di sekitar badan jalan.

Kepala BPBD Kota Batu Suwoko mengatakan, hujan deras menjadi pemicu longsornya tebing. Curah hujan yang tinggi membuat struktur tanah menjadi labil hingga akhirnya ambrol.

“Begitu menerima laporan, kami langsung melakukan kaji cepat dan berkoordinasi dengan instansi terkait,” ujar Suwoko, dikutip Malang Post. Ia menjelaskan, pembersihan material menjadi prioritas agar jalur provinsi tersebut dapat kembali dilalui dengan aman.

Penanganan dilakukan secara gabungan. BPBD Kota Batu berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, kepolisian, perangkat Kelurahan Songgokerto, relawan kebencanaan, serta masyarakat sekitar. Petugas membersihkan tanah dan ranting secara manual hingga dini hari.

Selain membersihkan material, petugas pemadam kebakaran melakukan penyemprotan pada permukaan jalan.

Langkah tersebut diperlukan untuk menghilangkan sisa tanah yang menempel di aspal sehingga kondisi jalan tidak licin dan risiko bagi pengguna jalan dapat ditekan.

Jalur Batu-Kediri Memiliki Riwayat Kerawanan Longsor

Gangguan akibat longsor di kawasan Payung perlu diperhatikan karena jalur Batu-Kediri berada di wilayah perbukitan yang memiliki potensi bencana.

Penelitian yang diterbitkan Journal of the Civil Engineering Forum Universitas Gadjah Mada menyebut koridor jalan Kota Batu hingga batas Kabupaten Kediri merupakan jalan provinsi yang memiliki fungsi penting bagi pergerakan ekonomi dan pariwisata.

Baca Juga: Tikungan Pujon Kembali Rawan Usai Hujan, Pengendara Diminta Lebih Waspada

Studi tersebut juga mencatat koridor Batu-Kediri secara historis rentan terhadap berbagai bencana, termasuk tanah longsor.

Analisis penelitian terhadap kejadian sepanjang 2007 hingga 2016 menemukan 92 titik longsor dalam 50 hari kejadian. Puncak kejadian tercatat pada Januari dan Februari.

Penelitian yang sama menganalisis hubungan curah hujan dengan kejadian longsor.

Hasilnya menunjukkan probabilitas kejadian longsor berkaitan dengan curah hujan harian 126,2 milimeter atau akumulasi hujan tiga hari sebesar 192,26 milimeter.

Temuan ini memperlihatkan bahwa hujan merupakan salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan pada kawasan rawan longsor.

Masyarakat yang melintasi jalur Batu-Kediri, khususnya ketika hujan deras berlangsung, perlu meningkatkan kewaspadaan.

Pengendara sebaiknya mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, dan memperhatikan kondisi tebing di sepanjang perjalanan.

BPBD Kota Batu juga mengingatkan pengguna jalan agar berhati-hati ketika melewati kawasan rawan longsor. Apabila hujan turun sangat lebat, perjalanan dapat ditunda sementara untuk mengurangi risiko.

Penanganan cepat setelah kejadian menjadi bagian penting dalam menjaga konektivitas jalur Batu-Kediri. Namun, kewaspadaan pengguna jalan tetap diperlukan karena kondisi tanah dapat berubah setelah hujan dan potensi longsor susulan tidak dapat diabaikan.

Peristiwa di Payung 2 menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan pada jalur yang menjadi akses antardaerah. Jalur ini tidak hanya digunakan warga, tetapi mendukung mobilitas menuju kawasan wisata Batu dan wilayah Kediri.

Karena itu, gangguan jam sekalipun dapat memengaruhi kelancaran perjalanan masyarakat, pada waktu malam ketika jarak pandang terbatas dan kondisi jalan basah.

Pengendara disarankan tidak memaksakan perjalanan apabila melihat retakan tanah, material di badan jalan, atau aliran air dari tebing.

Tanda tersebut perlu dilaporkan kepada petugas agar pemeriksaan dapat dilakukan sebelum kondisi berkembang menjadi lebih berbahaya.

Dengan karakter wilayah yang berbukit serta catatan kejadian longsor sebelumnya, informasi mengenai kondisi cuaca dan situasi jalan menjadi penting bagi masyarakat sebelum melakukan perjalanan.

Koordinasi antara pemerintah, petugas lapangan, dan pengguna jalan juga diperlukan agar gangguan lalu lintas akibat bencana dapat ditangani secara cepat, aman, dan terukur.

Baca Juga: Longsor Payung 2 Sempat Lumpuhkan Jalur Malang-Kediri, Akses Kembali Normal

Author Image

Author

Bima Yoga