Lorong yang dulu dilewati begitu saja
MALANG, infomalang – Rombongan datang dan pergi dengan riuh anak muda dan keluarga. Hari itu, mereka hanya bagian kecil dari seluruh arus yang berada di Kajoetangan. Pokdarwis Kampoeng Heritage Kajoetangan mencatat sekitar 5.500 pengunjung masuk kampung, rekor tertinggi sepanjang libur akhir tahun. Arus serupa terulang pada Sabtu (4/7/2026): 5.164 wisatawan domestik dan 15 wisatawan mancanegara.
Sulit membayangkan gang yang sama dulu dikenal sebagai perkampungan kumuh. Pada awal 2023, selepas pandemi, pengelola hanya mencatat sekitar 500 pengunjung dalam sebulan, kira-kira separuh jumlah pengunjung satu hari kerja saat ini.
Lalu apa yang mengubah lorong sempit berpenghuni ini menjadi tujuan paling ramai di Kota Malang? Benarkah ia sudah menjadi magnet wisatawan dunia? Dan siapa yang sesungguhnya menikmati keramaiannya?
Berawal dari lomba kampung

Ceritanya bermula pada 2016, ketika warga dari 57 kelurahan di Kota Malang diwajibkan ikut lomba kampung tematik. Warga RW 9 Kayutangan awalnya mengusung makam keramat Mbah Honggo untuk konsep wisata religi, tulis LPM Kavling 10.
Arah itu berubah pada 2017. Akademisi, pegiat heritage, dan pemerhati cagar budaya datang menyusuri gang-gang kampung. Lewat lensa kamera para pendatang itulah warga mulai melihat rumah-rumah tua mereka dengan cara berbeda.
Di antara warga itu ada Mila Kurniawati. Selepas kuliah, ia diamanati ketua RW untuk menyusun wisata di kampungnya, lalu merintisnya bersama sembilan rekan, menurut Ketik.com. Ia mengenang masa awal ketika setiap ada orang lewat, mereka berdiri dan mempersilakan masuk. Tak sekali dua kali, anggota Pokdarwis ingin berhenti.
Kerja kecil itu butuh waktu lama untuk berbuah. Lonjakan paling tajam baru terlihat sejak 2024, enam tahun setelah kampung diresmikan.
Mengapa kampung ini, bukan kampung lain
Kota Malang punya banyak kampung tua. Mengapa Kajoetangan yang paling ramai? Jawabannya tidak tunggal. Setidaknya ada lima hal yang bekerja bersamaan, dan kelimanya bisa menjadi lensa untuk membaca data di bagian berikutnya.
Yang pertama tentu bangunannya. Jurnal ITN Malang mencatat sekitar 60 rumah peninggalan kolonial di kawasan ini, dan rumah-rumah itu masih ditinggali. Pengunjung tidak masuk museum, melainkan ruang hidup warga.
Yang kedua letaknya. Kampung ini terselip di belakang Jalan Basuki Rahmat, tak jauh dari alun-alun dan Balai Kota, serta dikelilingi belasan hotel, menurut laman desa wisata Kementerian Pariwisata.
Yang ketiga pengelolanya. Pokdarwis lahir dari warga sendiri dan disahkan lewat SK Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang Nomor 171 Tahun 2018.
Dua sisanya datang dari luar gang: penataan koridor Jalan Basuki Rahmat yang berlangsung bertahap sejak 2019, dan penghargaan nasional yang membuat nama Kajoetangan dikenal di luar Malang.
Dari 500 sebulan ke ribuan sehari
Catatan di loket tiket menceritakan lompatan itu dengan gamblang. Pada Desember 2024, Mila menyebut sedikitnya 30.000 orang masuk kampung setiap bulan: sekitar 400 orang pada hari biasa dan 1.500 orang saat akhir pekan, menurut Radar Malang.
Tiga bulan kemudian, Kepala Disporapar Kota Malang saat itu, Baihaqi, menyebut angka serupa, sekitar 27.000 pengunjung per bulan, kepada Lentera Today. Pada Oktober 2026, Koordinator Forum Pokdarwis Kota Malang, Isa Wahyudi, menyebut kunjungan hari kerja sudah rata-rata di atas 1.000 orang. Angka itu dua kali lipat Kampung Warna-Warni Jodipan dan Kampung Tridi.
Di tingkat kota, ceritanya serupa. Sepanjang 2025, Disporapar mencatat 3.440.427 kunjungan wisatawan ke Kota Malang, sekitar 103 persen dari target 3,3 juta. Baihaqi menyebut Kayutangan Heritage sebagai destinasi paling ramai tahun itu, menurut Memontum.
Hotel pun sedang ramai. BPS mencatat tingkat penghunian kamar hotel Kota Malang pada Oktober 2025 sebesar 51,53 persen, di atas Jawa Timur (34,91 persen) dan nasional (39,53 persen). Namun, data ini baru menunjukkan kota yang ramai. Berapa bagian yang disumbang Kajoetangan, belum ada yang menghitung.
Seberapa mendunia?
Di lorong Kajoetangan, wajah asing memang makin sering terlihat. Mila mencatat 485 turis asing sepanjang 2023, lalu 1.493 orang pada 2024 hingga pertengahan September, menurut blok-a.com. Jumlahnya naik sekitar tiga kali lipat (hitungan redaksi), tetapi berangkat dari basis yang kecil.

Begitu disandingkan dengan total pengunjung, gambarnya berubah. Pada hari rekor, turis asing tak sampai satu dari seratus pengunjung kampung. Di tingkat kota, Disporapar mencatat 78.298 kunjungan wisman sepanjang 2025, berbanding 3.362.133 kunjungan wisatawan nusantara.
Cara membaca angkanya dengan jujur
Sebelum terlalu jauh terbawa angka, ada beberapa catatan. Data Kajoetangan datang dari tiga wilayah hitung yang sering tercampur, dan sebagian saling bertentangan.
- Kampung dan koridor berbeda. Pokdarwis hanya menghitung tiket di lima pintu masuk kampung. Koridor Jalan Basuki Rahmat tidak bertiket, dan Baihaqi menyebut pengunjungnya hanya bisa diperkirakan puluhan ribu per bulan.
- Angka tahunan simpang siur. KabarBaik.co mengutip total 2024 sekitar 14.000 orang dan 2025 sekitar 28.000 orang. Angka itu tidak cocok dengan 27.000–30.000 orang per bulan yang disebut Pokdarwis dan Disporapar, sehingga tidak kami pakai.
- Porsi wisman berbeda jauh. Kepala Disporapar Arif Tri Sastyawan menyebut turis mancanegara sekitar 10 persen dari 2,6 juta kunjungan hingga Agustus 2026. Data Disporapar 2025 justru setara sekitar 2,3 persen, dan BPS mencatat tamu asing hotel 2,23 persen pada Februari 2026.
- Target 2026 berubah. Pada Januari 2026 Disporapar menyebut target 3,4 juta kunjungan, sedangkan pada akhir Oktober 2026 Arif menyebut 3,2 juta.
Karena itu, artikel ini memakai angka harian dan bulanan yang disebut langsung oleh pengelola, bukan total tahunan.
Rezeki yang mengalir ke gang
Keramaian paling mudah dilihat dari jumlah lapak. Pada Maret 2025, Baihaqi menyebut hampir 200 warga membuka usaha di kampung. Sembilan bulan kemudian, Mila menyebut 254 unit UMKM beroperasi, dari minuman segar hingga makanan berat, menurut JatimTIMES. Kepada MalangTIMES, Mila menyebut jajanan yang bisa dibawa pulang sebagai usaha yang paling banyak menyedot pengunjung.
Setiap pengunjung membayar tiket reguler Rp5.000, tarif yang berlaku sejak kampung diaktifkan sebagai destinasi, menurut Baihaqi kepada detikJatim pada Mei 2026. Sebagai gambaran kasar, jika seluruh 5.179 pengunjung pada Sabtu (4/7/2026) membayar tarif reguler, pemasukan tiket hari itu sekitar Rp25,9 juta. Ini hitungan redaksi, bukan laporan keuangan Pokdarwis.
Namun, rezeki itu belum tentu mengalir sampai ke gang terdalam. Saat memantau malam pergantian tahun 2026, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat berharap daya tarik Kayutangan justru berada di dalam kampung. Dengan begitu, kata dia kepada Memontum, warga di dalam ikut merasakan manfaatnya, bukan hanya mereka yang berjualan di tepi jalan.
Mimpi besar dari Balai Kota
Pemerintah kota tidak menutupi bahwa pasar asing masih dalam bidikan. Kini kursi Kepala Disporapar Kota Malang diduduki Arif Tri Sastyawan, dan ia menoleh ke utara. Pada Kamis (29/10/2026), Arif mengatakan kepada ANTARA bahwa Pemkot menyiapkan penataan sisi utara Kayutangan Heritage agar tak kalah ramai dari sisi selatan. Pokdarwis, lurah, hingga pengurus RT Kelurahan Oro-Oro Dowo dilibatkan, dengan target realisasi pada 2027.
Salah satu andalannya adalah tugu jam atau stadsklok, yang disebut sebagai titik tengah kota. Tugu itu sempat hendak digeser, tetapi rencana batal setelah ahli cagar budaya dan budayawan Kota Malang menolak. Arif berharap penataan ini menarik lebih banyak turis mancanegara.
Dari kampus, ketua tim pengabdian STIE Malangkuçeçwara sekaligus pendamping kampung, Setiyawan, menilai Kajoetangan mulai membidik pasar internasional, setidaknya ASEAN, China, dan Jepang, menurut TIMES Indonesia. Dengan kata lain, “global” masih berupa tujuan, belum pencapaian.
Ketika keramaian menguji
Keramaian juga membawa cerita yang kurang enak. Pada Sabtu (25/4/2026), seorang wisatawan yang datang dengan Toyota Hiace ditarik parkir Rp25.000 di koridor Kayutangan. Ia meminta karcis, tetapi hanya diberi kuitansi. Videonya viral pada 2 Mei 2026 dan polisi memburu pelakunya, menurut Malang Posco Media dan blok-a.com.
Belum reda soal parkir, giliran loket tiket yang disorot. Hingga Senin (4/5/2026), unggahan TikTok tentang petugas yang dinilai ketus dan sistem tiket yang membingungkan sudah ditonton lebih dari 260.000 kali. Baihaqi mengatakan Pokdarwis sudah menegur dan membina petugas bersangkutan, menurut Pintasan dan detikJatim.
Gedung Parkir Kayutangan sebenarnya sudah beroperasi sejak 7 Januari 2026. Namun, pada Minggu (15/2/2026) malam, Dishub masih mendapati sekitar 50 kendaraan parkir liar di sisi timur Kayutangan hingga meluber ke badan jalan dan menutup jalur sepeda, menurut detikJatim.
Baca juga : Kuliner Legendaris di Malang Raya Cocok Menemani Liburan Natal Tahun Baru 2027 – Info Malang
Malang In Depth
Malang In Depth
Human Interest
Pemerintahan
Place Interest
Nasional