Infomalangcom – Ada cerita berbeda di balik keberhasilan tim putri SMAN 1 Bululawang (Smabul) mencetak sejarah di Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-South.
Bukan hanya para pemain yang bekerja keras di lapangan, tetapi juga sejumlah alumni yang kembali ke sekolah dengan peran baru.
Untuk pertama kalinya sepanjang keikutsertaan mereka, srikandi Smabul berhasil menembus babak playoff.
Pencapaian tersebut menjadi catatan baru bagi tim putri Smabul di DBL East Java-South.
Menariknya, jajaran ofisial yang mendampingi tim musim ini merupakan alumni Smabul.
Mereka adalah Alfan Imam Akbar Nugroho sebagai kepala pelatih, Muhammad Naufal Anharu Sena sebagai asisten pelatih, serta Gusti Seno Aji yang bertugas di bagian medis.
Dari Pemain, Kini Kembali sebagai Ofisial
Bagi Muhammad Naufal Anharu Sena atau Aru dan Gusti Seno Aji, suasana DBL East Java-South bukan sesuatu yang benar-benar baru.
Keduanya pernah menjadi bagian dari tim putra Smabul pada musim 2023 dan 2024.
Mereka bahkan pernah merasakan momen bersejarah ketika tim putra Smabul berhasil melaju hingga Fantastic Four pada 2023.
Setelah menyelesaikan masa SMA, Aru dan Seno melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi di Malang.
Aru kini berkuliah di Universitas Brawijaya pada program studi Pendidikan Teknologi Informasi.
Sementara itu, Seno mengambil Teknik Industri di Universitas Negeri Malang.
Di tengah kesibukan sebagai mahasiswa, keduanya memilih kembali ke sekolah asal untuk membantu Coach Alfan menangani tim putri Smabul.
Buat Aru, keputusan tersebut bukan hanya soal basket.
Ada rasa terima kasih kepada Smabul yang membuatnya ingin memberikan sesuatu kembali kepada sekolah.
“Alasan balik jadi ofisial Smabul karena merasa masih punya hutang budi.
Di kehidupan ini aku banyak dibantu sama Smabul, jadi kita mau bantu adik-adik.
Kasih tahu gimana caranya main di DBL dan cara ngebentuk mental mereka,” ungkap Aru.
Smabul juga punya tempat khusus dalam perjalanan basket Aru.
Sekolah tersebut menjadi tempat yang kembali menumbuhkan kecintaannya terhadap basket setelah sempat vakum sejak SMP.
Karena itu, meski harus membagi waktu dengan perkuliahan, Aru dan Seno tetap berusaha hadir dalam sesi latihan tim putri.
Musim ini menjadi pengalaman pertama bagi keduanya untuk duduk sebagai ofisial tim putri Smabul di DBL.
Kehadiran mereka juga membantu Coach Alfan dalam mempersiapkan tim.
Pengalaman ketika masih menjadi pemain menjadi bekal yang kemudian mereka bagikan kepada para pemain.
Salah satunya berasal dari pemahaman mengenai sistem dan taktik yang sebelumnya mereka dapatkan dari Coach Bisma Sabda.
“Coach Alfan kan nggak bisa sendiri, jadi kita bantu menyempurnakan strategi yang kurang.
Misalnya Coach Alfan bingung cara pecah full-court press, kita yang sudah dibekali dari Coach Bisma kasih tahu dan salurin ilmunya ke Coach Alfan dan para pemain,” jelas Aru.
Perubahan peran dari pemain menjadi ofisial ternyata juga memberikan pengalaman berbeda bagi Aru.
Ia mengaku terkadang dibuat gemas ketika melihat situasi pertandingan dari pinggir lapangan.
Menurutnya, dinamika permainan tim putri memiliki tantangan tersendiri, termasuk dalam hal improvisasi, mengontrol mood, hingga menjaga kedisiplinan pemain.
“Bedanya dari pemain ke ofisial itu gemes aja sih, pengen gantikan main! Kalau tim cewek itu kadang di lapangan bikin improvisasi yang sebenarnya nggak perlu. Harusnya passing ke kanan, tapi tiba-tiba ada gerakan sendiri. Selain itu, ngontrol mood dan kedisiplinan mereka juga tantangan, beda sama cowok,” tambahnya.
Meski tidak lagi mengenakan jersey sebagai pemain, Aru dan Seno tetap merasakan ketegangan pertandingan dari sisi lapangan.
Kontribusi mereka perlahan terlihat. Smabul mampu melewati persaingan grup dan melaju ke Big Eight.
Pada babak perempat final, Smabul berhadapan dengan SMAN 3 Malang (Bhawikarsu). Srikandi Smabul sempat memberikan perlawanan sengit.
Memasuki kuarter ketiga, Smabul mampu memangkas ketertinggalan menjadi lima poin.
Momentum tersebut hadir setelah para pemain menjalankan instruksi khusus yang diberikan ketika halftime.
Namun, perjuangan Smabul akhirnya harus berakhir.
Mereka kalah 32-20 dan gagal melanjutkan perjalanan menuju babak berikutnya.
Meski begitu, pencapaian tersebut tetap menjadi sinyal positif.
Untuk pertama kalinya, tim putri Smabul berhasil menembus playoff DBL East Java-South.
Bagi para alumni, perjalanan musim ini bukan akhir.
Justru, pencapaian tersebut menjadi modal untuk membangun tim yang lebih kuat.
Aru bahkan mengingat perbedaan performa Smabul ketika menjalani pertandingan uji coba melawan Bhawikarsu sebelum DBL.
“Dulu sebelum DBL kita pernah sparing lawan SMAN 3 Malang dan dibantai 50 poin.
Tapi di pertandingan DBL kemarin anak-anak bisa mengimbangi,” ungkapnya.
Kini, pekerjaan berikutnya adalah mempertahankan perkembangan tersebut.
Empat pemain inti Smabul akan memasuki kelas XII, sehingga fokus tim akan diarahkan kepada pemain kelas XI.
“Buat evaluasi tahun depan, karena empat pemain inti kami sudah kelas XII, fokus kita adalah improve pemain kelas XI dan membentuk disiplin serta energi latihan mereka supaya bisa terus berkembang layaknya tim putra,” tutup Aru optimistis.
Para alumni memang sudah meninggalkan lapangan sebagai pemain.
Namun, kecintaan terhadap Smabul membuat mereka kembali dengan cara berbeda.
Kali ini, mereka tidak datang untuk mencetak poin.
Mereka hadir untuk membagikan pengalaman, membangun mental, dan membantu generasi berikutnya melanjutkan sejarah baru Smabul di DBL.
Baca juga: Aliyah Shabirah Akhiri Perjalanan Bersama Smarihasta dengan Tiket Big Eight












