Breaking

Fenomena Langit “Sturgeon Moon” Malam Ini Sabtu 9 Agustus 2025: Waktu Kemunculan, Asal-Usul, dan Tips Mengamatinya

InfoMalang Langit malam ini akan menampilkan salah satu momen paling memukau di tahun 2025, yaitu purnama penuh bulan Agustus yang dikenal dengan sebutan Sturgeon Moon . Fenomena ini tidak hanya memikat secara visual, tetapi juga kaya makna sejarah dan budaya. Puncak purnama akan terjadi padaSabtu, 9 Agustus 2025, dan dapat dinikmati di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Fenomena ini sudah bisa mulai terlihat sejak malam sebelumnya, memberikan kesempatan lebih lama untuk menikmatinya.

Menurut perhitungan astronomi, puncak iluminasi Sturgeon Moon tahun ini terjadi pada 9 Agustus 2025 pukul 14:54 WIB . Meskipun puncaknya jatuh pada siang hari di Indonesia, penampakan terbaik akan terlihat saat bulan terbit di ufuk timur menjelang senja. Di wilayah Indonesia, bulan akan mulai tampak sekitar pukul 17.30–18.30 WIB , tergantung lokasi. Fenomena ini dapat dinikmati hingga menjelang fajar keesokan harinya. Menariknya, purnama akan terlihat penuh selama dua malam berturut-turut, mulai dari Jumat, 8 Agustus hingga Sabtu, 9 Agustus.

Baca Juga: Sebuah Truk Tabrak Pohon di Sukun Kota Malang, Proses Evakuasi Masih Berlangsung

Istilah Sturgeon Moon penghapusan dari budaya suku asli Amerika Utara. Pada bulan Agustus, ikan sturgeon—spesies purba yang hidup di danau besar seperti Danau Superior dan Danau Ontario—berlimpah dan mudah ditangkap. Fenomena alam ini sangat penting bagi kehidupan masyarakat lokal karena menjadi sumber pangan utama menjelang musim gugur.

Penamaan ini juga berfungsi sebagai penanda siklus alam yang berhubungan erat dengan kehidupan sehari-hari. Selain Sturgeon Moon , purnama Agustus memiliki beberapa julukan lain dari berbagai tradisi, antara lain Grain Moon (Bulan Gandum) yang menggambarkan masa panen gandum, Green Corn Moon (Bulan Jagung Muda) yang menandakan masa panen jagung, serta Thunder Moon (Bulan Petir) yang merujuk pada intensitas badai musim panas. Meskipun namanya beragam, bentuk dan ukuran bulan tetap sama. Penamaan ini lebih pada simbol perubahan musim dan hubungannya dengan kehidupan manusia.

Pada puncak purnama kali ini, bulan akan berada di konstelasi Aquarius . Ketinggiannya relatif rendah di langit, sehingga akan lebih mudah terlihat besar saat berada di dekat Cakrawala—fenomena ini dikenal sebagai ilusi bulan . Secara ilmiah, ukuran bulan sebenarnya tidak berubah, namun otak manusia menafsirkannya lebih besar saat berada di dekat kota metropolitan. Jika cuaca cerah, warna bulan mungkin tampak cerah hingga kemerahan karena hamburan cahaya di atmosfer. Efek warna ini sering kali lebih dramatis pada musim panas atau saat kelembapan udara tinggi.

Untuk menikmati pemandangan Sturgeon Moon , ada beberapa tips yang bisa diikuti. Pertama, pilih lokasi terbuka seperti lapangan, pantai, atau puncak bukit dengan pemandangan bebas ke arah timur. Lokasi seperti ini akan memberikan sudut pandang terbaik untuk melihat bulan saat terbit. Kedua, datanglah sebelum bulan muncul di Cakrawala. Mengabadikan momen ketika bulan baru muncul akan menghasilkan pemandangan dramatis dan indah. Ketiga, gunakan peralatan optik seperti binokuler atau teleskop kecil. Peralatan ini akan membantu melihat detail permukaan bulan seperti kawah Tycho, Mare Imbrium, dan formasi dataran tinggi. Keempat, pastikan cuaca cerah dan polusi minimal agar hasil pengamatan maksimal. Hindari daerah perkotaan yang banyak lampu jalan karena dapat mengurangi kontras cahaya bulan di langit.

Bagi banyak masyarakat kuno, purnama di bulan Agustus bukan sekadar fenomena astronomi, melainkan penanda siklus kehidupan. Masyarakat agraris menjadi acuan untuk mengatur masa tanam dan panen. Dalam kepercayaan tertentu, Sturgeon Moon dianggap sebagai simbol, kekuatan, dan ketahanan. Dalam beberapa tradisi spiritual, purnama ini diyakini sebagai waktu yang tepat untuk refleksi diri, melepaskan beban emosional, dan memulai langkah baru.

Fakta menarik tentang Sturgeon Moon 2025 adalah kemampuannya untuk dinikmati selama dua malam berturut-turut, memberi kesempatan lebih lama bagi pengamat. Bulan ini juga berpotensi tampak kemerahan akibat kabut atau partikel di atmosfer. Selain itu, tahun ini bulan berada pada posisi terendah di langit malam karena letaknya di konstelasi Aquarius, sehingga sudut pengamatannya berbeda dibandingkan purnama pada bulan-bulan lain.

Bagi penggemar fotografi, momen ini menjadi kesempatan emas untuk mendapatkan gambar bulan yang dramatis. Kamera DSLR atau ponsel dengan kemampuan zoom yang baik dapat digunakan untuk mengabadikan keindahan ini. Pengaturan yang disarankan adalah ISO rendah, penggunaan tripod untuk menghindari guncangan, dan mode manual untuk mengontrol pencahayaan. Dengan teknik ini, detail permukaan bulan dapat terekam dengan tajam. Pengambilan foto saat bulan baru terbit di Cakrawala Timur juga akan memberikan efek perspektif yang unik, apalagi jika disandingkan dengan siluet pepohonan, gedung, atau gunung di latar depan.

Selain menjadi suguhan visual, Sturgeon Moon juga membawa pesan ekologis. Penamaan ini mengingatkan kita pada siklus kehidupan ikan sturgeon yang telah ada selama jutaan tahun, sekaligus pentingnya menjaga ekosistem perairan. Fenomena alam seperti ini menjadi pengingat bahwa hubungan antara manusia, alam, dan langit telah terjalin sejak lama, dan bahwa mengamati Purnama dapat menjadi sarana untuk lebih menghargai keterhubungan tersebut.

Baca Juga: Satpol PP Malang menertibkan PKL yang berjualan di atas trotoar Jalan Veteran