Breaking

Minibozem Disiapkan Pemkot Malang, Solusi Baru untuk Pengelolaan Sampah

Minibozem Disiapkan Pemkot Malang, Solusi Baru untuk Pengelolaan Sampah
Rencana pembangunan mini bozem di Kota Malang menjadi bagian dari langkah pemerintah memperkuat sistem drainase dan mengurangi risiko genangan.

Infomalangcom – Rencana pembangunan mini bozem di Kota Malang menjadi bagian dari langkah pemerintah memperkuat sistem drainase dan mengurangi risiko genangan.

Meski judul pembahasan menyebut pengelolaan sampah, fungsi mini bozem yang disiapkan Pemkot Malang sebenarnya berkaitan dengan penampungan dan pengendalian air hujan.

Karena itu, informasi mengenai fasilitas ini perlu dipahami secara tepat agar tidak mencampurkan fungsi infrastruktur air dengan fasilitas persampahan. Langkah ini juga menunjukkan pentingnya perencanaan infrastruktur perkotaan berbasis risiko.

Rencana Pembangunan Mini Bozem di Kota Malang

Pemkot Malang menyiapkan pembangunan mini bozem di kawasan Jalan Bondowoso hingga Tidar.

Program tersebut menjadi bagian dari National Urban Flood Resilience Project (NUFReP), program penguatan ketahanan banjir perkotaan yang mencakup pembangunan infrastruktur fisik dan nonfisik.

Pemerintah Kota Malang menyebut nilai bantuan program sekitar Rp145 miliar.

Mini bozem dirancang sebagai tempat penampungan air sementara sebelum aliran diteruskan menuju saluran utama.

Pembangunan juga mencakup jaringan drainase di Jalan Bondowoso dan kawasan terkait.

Berdasarkan keterangan pemerintah, pekerjaan ditargetkan berlangsung pada 2026 dan selesai pada awal 2027, dengan tahapan pengadaan dan pelaksanaan mengikuti proses pemerintah pusat.

Fungsi Mini Bozem dalam Pengelolaan Air

Secara sederhana, mini bozem dapat dipahami sebagai tampungan sementara untuk air hujan.

Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, air dari permukaan kawasan perkotaan dapat masuk ke sistem drainase dalam jumlah besar.

Tampungan sementara membantu mengatur aliran sebelum air diteruskan ke saluran berikutnya.

Konsep tersebut berbeda dengan pengelolaan sampah. Mini bozem tidak dirancang sebagai tempat menampung sampah rumah tangga atau fasilitas pemilahan.

Fungsinya lebih berkaitan dengan pengendalian limpasan air dan pengurangan tekanan terhadap jaringan drainase.

Penelitian mengenai pengelolaan air perkotaan juga menunjukkan pentingnya pendekatan yang mempertimbangkan limpasan, ruang tampungan, dan sistem drainase secara terpadu.

Kawasan yang Menjadi Perhatian Penanganan Banjir

Pembangunan mini bozem diarahkan untuk membantu penanganan genangan di sejumlah kawasan yang berkaitan dengan aliran menuju Jalan Bondowoso, Bareng, IR Rais, Langsep, hingga Tidar.

Menurut keterangan DPUPRPKP Kota Malang, mini bozem di Jalan Bondowoso berfungsi menangkap air hujan sebelum masuk ke saluran baru.

Aliran dari saluran tersebut direncanakan menuju kawasan Sungai Metro di Tidar. Infrastruktur penghubung menjadi bagian penting karena tampungan air tidak dapat bekerja sendiri.

Saluran masuk, kapasitas tampungan, jalur keluar, dan kondisi wilayah sekitar harus dirancang dalam satu sistem agar pengendalian air berjalan efektif.

baca juga : Konjen AS Tertarik Potensi Ekonomi Kreatif dan Media Arts di Kota Malang

Konsep Mini Bozem sebagai Penampung Sementara

Dalam rencana Kota Malang, air ditangkap terlebih dahulu di mini bozem sebagai antrean sebelum masuk ke saluran baru.

Pembangunan menggunakan box culvert dengan ukuran sekitar dua hingga tiga meter.

Namun, kapasitas tampungan mini bozem belum dapat ditetapkan sembarangan karena pemerintah masih melakukan kajian teknis.

Kajian diperlukan untuk menentukan kemampuan tampungan dan desain yang sesuai dengan kondisi lapangan.

Faktor seperti topografi, arah aliran, kapasitas drainase, serta kebutuhan pengaturan lalu lintas selama konstruksi perlu diperhitungkan.

Dengan perencanaan tersebut, mini bozem diharapkan menjadi bagian dari sistem pengendalian banjir yang saling terhubung.

Mini Bozem Bukan Fasilitas Pengelolaan Sampah

Penting untuk meluruskan istilah dalam pembahasan ini. Mini bozem yang disiapkan Pemkot Malang bukan solusi langsung untuk pengelolaan sampah.

Fasilitas tersebut ditujukan untuk menampung air sementara. Sementara itu, pengelolaan sampah membutuhkan sistem berbeda, mulai dari pengumpulan, pengangkutan, pemilahan, pengolahan, hingga pembuangan sesuai ketentuan.

Keterkaitan sampah dengan banjir tetap ada. Sampah yang masuk atau menyumbat saluran dapat menghambat aliran air dan memperbesar risiko genangan.

Karena itu, pembangunan infrastruktur drainase perlu disertai pemeliharaan saluran dan perilaku masyarakat yang tidak membuang sampah sembarangan.

Keterkaitan dengan Pengendalian Banjir Kota Malang

Mini bozem menjadi salah satu bagian dari pendekatan pengendalian banjir, bukan satu-satunya solusi.

Efektivitasnya bergantung pada keterhubungan dengan jaringan drainase, kapasitas saluran, kondisi daerah tangkapan air, dan pemeliharaan setelah pembangunan selesai.

Pemerintah Kota Malang melalui program NUFReP berupaya memperkuat ketahanan banjir dengan kombinasi pembangunan drainase dan mini bozem.

Pendekatan semacam ini sejalan dengan kajian pengelolaan air perkotaan yang menekankan perlunya mengendalikan limpasan secara terpadu, bukan hanya mempercepat pembuangan air.

Dukungan Program NUFReP

NUFReP merupakan program yang diarahkan untuk memperkuat ketahanan kota menghadapi risiko banjir.

Di Kota Malang, program tersebut mencakup pembangunan drainase dan mini bozem di kawasan Bondowoso hingga Tidar serta drainase di Jalan Jaksa Agung Suprapto.

Pelaksanaan proyek tetap membutuhkan kajian, proses pengadaan, konstruksi, dan pengaturan lalu lintas. Pemerintah menargetkan pekerjaan selesai pada awal 2027.

Bagi masyarakat, keberadaan mini bozem diharapkan membantu mengurangi risiko genangan saat hujan deras.

Namun, hasil akhirnya tetap bergantung pada kualitas desain, pelaksanaan pembangunan, kapasitas infrastruktur, dan pemeliharaan secara berkelanjutan.

baca juga : Pemkot Malang Perkuat Upaya Meningkatkan Kesehatan dan Kesejahteraan Warga

Author Image

Author

rizal habibi