Infomalangcom – Predikat Best Supporter yang diraih Bhawikarsu, suporter SMAN 3 Malang, selama 16 musim berturut-turut di DBL East Java-South bukanlah pencapaian yang diraih tanpa persiapan.
Di balik kemeriahan tribun GOR Ken Arok, Malang, tersimpan rangkaian cerita yang dibangun melalui koreografi, riset sejarah, dan kerja keras para suporter.
Pada Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-South, Kamis (20/8), Bhawikarsu kembali menghadirkan konsep koreografi berseri.
Kali ini, mereka membawa penonton mengikuti perjalanan Oscar dan Oliv, dua maskot kebanggaan Bhawikarsu, untuk mengenal sosok-sosok raja legendaris dunia.
Dari Aula Tugu Menuju Kisah Para Raja Dunia
Wisnu Dwi Satyayudha, Koordinator Suporter Bhawikarsu, menjelaskan bahwa konsep musim ini terinspirasi dari ornamen kartu remi Raja atau King.
Empat tokoh pemimpin dunia dipilih sebagai bagian dari cerita, yakni Alexander the Great, Charlemagne, Konstantin Agung, dan Julius Caesar.
Melalui perjalanan tersebut, Bhawikarsu ingin menyampaikan pesan pembelajaran mengenai kepemimpinan.
Oscar dan Oliv digambarkan sebagai dua karakter yang melakukan perjalanan untuk mengenal nilai-nilai positif dari para pemimpin besar dalam sejarah dunia.
Cerita itu kemudian diterjemahkan ke dalam rangkaian koreografi yang saling terhubung dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya.
Konsep tersebut mereka sebut sebagai “koreo peta”, karena setiap laga menjadi bagian dari perjalanan panjang Oscar dan Oliv.
Pada pertandingan pertama, perjalanan dimulai dari lingkungan mereka sendiri.
Koreografi 3D menampilkan Oscar dan Oliv yang membawa peta dengan latar Aula Tugu SMAN 3 Malang.
Keduanya digambarkan bersiap memulai perjalanan melalui pesan “Welcome to Our Journey”.
Kisah kemudian berlanjut dengan munculnya tulisan “King Doesn’t Arrive Alone”.
Koreografi giant flag bertali selanjutnya menghadirkan mahkota 4D sebagai simbol bahwa Oscar dan Oliv siap belajar dari para raja dunia yang menjadi bagian dari perjalanan mereka.
Memasuki pertandingan kedua, Bhawikarsu mengangkat sosok Alexander the Great.
Tokoh tersebut dikenal sebagai pemimpin dengan wilayah kekuasaan luas yang mencakup sejumlah kawasan seperti Yunani, Mesir, hingga Persia.
Cerita Alexander divisualisasikan melalui berbagai koreografi.
Tribun Bhawikarsu dipenuhi giant flag bertema kepemimpinan serta koreografi kertas bertuliskan “The World is Too Small for His Ambition”.
Nuansa peperangan juga diperkuat dengan koreografi 3D berbentuk benteng, pasukan dengan visual wayang, hingga koreografi 4D berupa meriam.
Seluruh elemen tersebut menjadi bagian dari gambaran perjalanan Alexander yang penuh ekspansi dan tantangan.
Pada pertandingan ketiga, giliran Raja Charlemagne yang menjadi pusat cerita.
Bhawikarsu mengangkat sosok pemimpin yang dikenal melalui nilai perdamaian dan persatuan.
Aksi tribun diawali dengan koreografi kertas bertuliskan “Peace Makes Us Strong”.
Pesan tersebut menjadi simbol bahwa kekuatan tidak hanya lahir dari keberanian menghadapi lawan, tetapi juga dari perdamaian dan kebersamaan.
Visualisasi kemudian semakin besar ketika giant flag menampilkan sosok Raja Charlemagne bersama burung elang.
Koreografi 4D berbentuk burung elang turut dihadirkan seolah sedang terbang di atas tribun.
“Raja Charlemagne identik dengan burung elang kesayangannya yang bertugas mengantar pesan ke kerajaan-kerajaan lain.
Kami memvisualisasikannya lewat koreo 4D elang ini sebagai simbol penyebar pesan kedamaian,” terang Wisnu.
Rangkaian koreografi tersebut tidak dibuat secara mendadak.
Menurut Wisnu, proses pengerjaan telah dimulai sejak Maret di lingkungan SMAN 3 Malang.
Para anggota Bhawikarsu secara bertahap menyiapkan berbagai properti yang nantinya digunakan dalam pertandingan.
Proses panjang tersebut juga menjadi ruang bagi para anggota untuk mempererat kebersamaan.
Hampir setiap hari mereka bertemu di sekolah untuk mengerjakan koreografi.
Di sela kesibukan tersebut, berbagai aktivitas sederhana dilakukan untuk menjaga suasana tetap menyenangkan.
“Setiap hari kami ketemu di sekolah buat bikin koreo.
Biar gak stres, kami bahkan sempat bikin ayunan sendiri pakai tali di sekolah, bercanda dan tertawa bareng teman-teman,” kenang Wisnu.
Meski telah 16 kali mempertahankan gelar Best Supporter, Bhawikarsu tidak menganggap pencapaian tersebut sebagai beban.
Status tersebut justru menjadi motivasi untuk terus menghadirkan inovasi di setiap musim.
Pengembangan kreativitas tidak hanya dilakukan melalui koreografi tribun.
Bhawikarsu juga terus memperhatikan aspek media communication atau medcom hingga penampilan maskot.
Perjalanan Bhawikarsu di musim ini pun mendapat dukungan dari pihak sekolah.
Wisnu menyebut komunikasi dengan kesiswaan, kepala sekolah, dan para guru berjalan baik sehingga persiapan berbagai kegiatan DBL dapat dilakukan dengan dukungan lingkungan sekolah.
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 akan digelar di 31 kota yang tersebar di 22 provinsi Indonesia.
Selain kompetisi basket, DBL Indonesia juga menghadirkan DBL Camp untuk menjaring student-athlete terbaik dari berbagai daerah menuju DBL Indonesia All-Star.
Musim ini turut menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan tema “100% Indonesia”.
Seluruh pertandingan dapat disaksikan melalui kanal YouTube DBL Play, sedangkan laga final juga dapat ditonton melalui YouTube Good Day ID.
Baca juga: Kisah Ratu Majapahit Hadir dari John 3:16, Smaza Mentality Bawa Ragam Tari Nusantara














